Rusydi Sulaiman Sebut Desa Kace Sebagai Kawasan Cendikia

Daftar Isi Konten

KACE, MADANIA CENTER — Direktur Madania Center Bangka Belitung, Rusydi Sulaiman mendampingi Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman meresmikan Masjid Al-Kurnia, yang berlokasi di Desa Kace, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Sabtu (22/1/22) lalu.

Direktur Madania Center, Rusydi Sulaiman mengatakan bahwa Desa Kace berpeluang untuk menjadi desa yang berperadaban dalam rangka merespons dinamika perubahan.

Pasalnya, hal itu didukung dengan berdirinya beberapa lembaga pendidikan, misalnya saja Yayasan Al-kahfi, Ponpes Modern Darul Abror, juga terdapat beberapa masjid, diantaranya; Masjid Assalam, Masjid Ar-Rahmah, termasuk Masjid Al-Kurnia, berikut Pusat Studi Agama dan Pengembangan Masyarakat Madania Center Bangka Belitung yang berkomitmen membangun lingkungan ilmiah melalui penguatan literasi.

Ditambah lagi, di Desa Kace juga terdapat akademisi yang notabenenya sebagai dosen di IAIN Syaikh Abdurrahman Siddiq Babel, yakni Dr Supatra, Dr. Zafrul Khan, Dr. Wahyudin Nur, Dr. Rahmat Ilyas, dan serta lainnya.

Untuk itu, Rusydi Sulaiman mengatakan tak ayal jika Desa Kace disebut sebagai “Kawasan Cendikia”.

“Masjid memiliki peran strategis untuk membangun peradaban umat Islam. Bila masjid disebut sebagai pusat penguatan wujud ideal budaya, maka dari rumah ibadah tersebut munculah para pemikir dan ulama besar,” ungkapnya.

“Bila ia (masjid) disebut sebagai pusat penguatan wujud kelakuan, maka dari lembaga tersebut lahir orang-orang bijak dan berkepribadian tinggi. Dan bila disebut sebagai pusat wujud benda, maka lembaga tersebut akan dikelola dengan sentuhan ilmu pengetahuan, arsitektur bernilai tinggi dan kecanggihan teknologi. Sentuhan peradaban tersebut tetap tidak boleh menafikan fungsi masjid sebagai tempat atau rumah ibadah bagi umat Islam,” tambahnya.

Namun, belakang ini selain berkembang menjadi pusat kegiatan ritual keagamaan, masjid bahkan difungsikan untuk mendiskusikan hal-hal di luar agama. Ketika politik dipahami sebagai bagian dari agama (Islam), maka hal tersebut seringkali diperbincangkan di rumah ibadah tersebut, bahkan secara khusus terkadang disampaikan dalam materi khutbah jum’at dan ceramah tertentu.

“Akhirnya porsi ibadah utama menjadi berkurang dan materi dasar keislaman tak sempat terajarkan dengan baik,” tuturnya.

Masjid Al-Kurnia sendiri akan mendapat bantuan sebesar 1 Milyar dari Pemprov Babel.

Untuk itu, ia berharap pendirian masjid ini dapat dimanfaatkan sebagai tempat ibadah maupun sebagai lembaga yang mengelola beberapa kegiatan keagamaan secara rutin menuju peradaban yang lebih baik.

Selain itu, masjid juga bisa menjadi tujuan wisata religi bagi para pendatang, karena memiliki nuansa tersendiri dan karakteristiknya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Wakil Ketua DPRD Babel Amri Cahyadi, Amri Cahyadi, anggota DPRD Babel H. Jawarno, Wadir Binmas Polda Babel AKBP Widi Haryawan, Perwakilan PT Timah (CSR), Tokoh agama dan beberapa tokoh masyarakat lainnya. (admin)

Artikel terkait lainnya: