MADANIA CENTER BABEL — Setiap pondok pesantren mesti pertahankan nilai-nilai kepesantren dan unsur lain yang menjadi ciri khas kelembagaannya agar tetap kuat dan eksis.
Namun dalam pengembangan lembaga seiring dengan modernitas, pengelola dan pimpinan pesantren diharapkan terbuka dan membuka diri, berkolaborasi dengan pihak luar apalagi diasumsi ada hal-hal baru yang dapat diadopsi.

Terkait hal tersebut dan berpikir untuk masa depan lembaga pendidikan Islam tersebut sebagai khas Nusantara ( an indigenous institution), Rusydi Sulaiman, Direktur Madania Center berharap demikian. “al-Muhaafazhah ‘alal-Qadiimish-Shaalih, wal-Akhdzu bil-Jadiidil-Ashlah” adalah prinsip yang baik. Pesantren adalah pesantren dengan segala karakteristiknya, tambah Rusydi.
Pada hari ini, Rabu, 11 Febuari 2026, Direktur Madania Center bersama sekretarisnya, Endang Kusniati, M.A. dampingi Basrin Sugiharto, General Manager LASPELA bersilaturrahim ke Pondok Modern Daarul Abror sekaligus ajukan kerjasama terkait beberapa hal, lebih spesifik penguatan bidang pendidikan.
Menurut Basrin, sebagai penggiat media, kami berkomitmen perkuat aspek pendidikan di Bangka Belitung, maka diperlukan bermitra dengan pihak pondok pesantren yang jelas-jelas telah melangkah lebih awal dalam urusan mendidik peserta didik ( santri).
Rusydi Sulaiman yang juga salah satu pengurus Badan Wakaf Daarul Abror sebatas memediasi dan mendukung ke arah memperkuat lembaga semacam pesantren. Ia berharap beberapa pondok pesantren lain di kepulauan juga demikian. Tegasnya, belajarlah ke pesantren yg kuat akar genealoginya.
Alhamdulillah silaturrahim berjalan lancar, disambut oleh ustadz Imam Syubani yang mewakili pimpinan Pondok Modern Daarul Abror. Setelah itu berkesempatan mengelilingi lingkungan pesantren tersebut agar lebih akrab. Wassalam. (*)





