BANGKA – Setelah sempat terhenti selama beberapa pekan, kajian rutin bulanan sejarah Islam di Masjid Agung Sungailiat, Kabupaten Bangka, kembali digelar.
Kali ini, kajian menghadirkan akademisi Prof. Dr. Rusydi Sulaiman, M.Ag, yang mengupas tuntas urgensi sinergi antara akal dan qalbu (hati) dalam menuntut ilmu.
Dalam kajian yang mengusung tema Sirah Nabawiyah pada Ahad (17/5/2026) malam tersebut, Prof. Rusydi menekankan bahwa manusia dibekali keistimewaan yang tidak dimiliki makhluk lain, yaitu perpaduan antara akal (logika) dan kalbu (hati).
Oleh karena itu, kekuatan kepribadian manusia harus terus diperkuat melalui potensi tersebut.
”Ilmu pengetahuan bisa dijangkau dengan akal dan rasa (mukasyafah).
Perbedaan rasa inilah yang nantinya berpengaruh pada perbedaan mukasyafah atau keterbukaan hati dalam melahirkan kebenaran walaupun relatif,” ujar Guru Besar sekaligus Direktur Madania Center di hadapan para jemaah.
Pintar Saja Tidak Cukup, Butuh Ketajaman Qalbu
Lebih lanjut, Prof. Rusydi menjelaskan bahwa kekuatan kepribadian serta integritas seorang maupun pencari ilmu hanya dapat diperoleh jika akal dan kalbu difungsikan secara maksimal.
Menurutnya, mencari ilmu memang identik dengan mengolah akal agar manusia menjadi cerdas dan pintar. Namun, kecerdasan akal saja belum cukup.
”Akal belum bisa optimal jika tidak diimbangi dengan kekuatan dan ketajaman qalbu yang melahirkan rasa,” tuturnya.
Ia menambahkan, akal dan kalbu harus bersinergi dalam satu kesatuan kejiwaan.
Sinergi inilah yang akan membentuk manusia yang lebih berkualitas. Output-nya bukan sekadar menguasai ilmu pengetahuan, melainkan meraih kebijaksanaan.
Kebijaksanaan adalah Kumpulan Kebaikan
Di akhir kajiannya, Prof. Rusydi mengingatkan para jemaah bahwa kebijaksanaan merupakan puncak dari kumpulan kebaikan yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya.
Sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah(2:269) — Artinya : “Dia (Allah) menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak. Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (darinya), kecuali ululalbab,” jelasnya.
Kajian rutin ini pun disambut antusias oleh jemaah Masjid Agung Sungailiat. (*)





