MADANIA CENTER BABEL — Ketika seseorang menghaturkan penghambaan dirinya kepada Allah, al-Khaaliqul-Ma’buud, maka ia terus berupaya dekat secara bathin–“taqarrub” kepada-Mya. Optimalisasi iman adalah salah satu cara ditempuh; “tashdiiqun bil-Qalbi (pembenaran dengan hati), lalu “al-Iqraar bil-Lisaan” ( berikrar dengan lidah–Syahadah Tauhid dan syahadah Rasul). Berikutnya “al-A’maal bil-Arkaani” penunaian seluruh ajaran agama.

Terkait iman, Rasulullah pun masih mempertanyakan kadar keimanan para Sahabat ( Shahaabah), seraya bersabda: ” Amu’minuuna antum? ( masih beriman kah kalian), wa maa “Alaamatu iimaanikum? (dan apa tanda keimanan kalian). Perihal itu , Rusydi Sulaiman, unsur ketua MUI ( Majelis Ulama Indonesia) Provinsi Bangka Belitung menguraikan dalam kesempatan kuliah shubuh Ahad pagi , 16 November 2025 di Masjid al-Hidayah Gerunggang Pangkalpinang.

Terdapat tiga hal yang mengindikasikan bahwa seseorang itu benar-benar beriman, yaitu: pertama, “nasykuru bir-Rahaa'” ( kami bersyukur atas kelebihan/ anugerah); kedua, “nashbiru ‘alal-Balaaya” (kami bersabar atas segala cobaan); ketiga, nardhaa bil-Qadhaa’ (kami rela atas ketetapan). Jawaban Khalifah Umar bin Khattab sebagai representasi para sahabat kemudian diuraikan secara rinci oleh Rusydi Sulaiman yang juga Direktur Madania Center Bangka Belitung.

Jumlah jama’ah di setiap Ahad pagi di masjid tersebut tetap stabil karena mereka benar-benar ingin menimba ilmu agama. Rutin duduk berhadap-hadapan, sarapan bersama usai kuliah shubuh tersebut. Wassalam. (*)





