Lepas Kangen dengan “Guru”, al–Mukarram KH.Moh.Zuhri Zaini di Sela Kegiatan Penelitian, Rusydi Sulaiman: Sebaik-Baik Teman Adalah Kitab, dan Rujukannya,”Guru”

Bagikan

MADANIA CENTER– “Guru” dimaksud adalah Tuan Guru atau ulama dalam perspektif budaya lokal Bangka. Pelekatan kata “Guru” kepada orang tertentu karena otoritas keagamaan dan nilai kearifan lokal, maka tidak banyak orang yang dipanggil dan diapresiasi sebagai “Guru”.

Menurut Rusydi Sulaiman, Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, bahwa sebaik-baiknya teman adalah kitab ( Khairu Jaliisin al-Kitaabu”, dan rujukannya, “Guru” Guru, diguguh dan ditiru. Maksudnya setiap guru, keberadaannya mesti diapresiasi, maka persahabatan dengannya juga guru harus kuat. “Shuhbatul-Ustaadz adalah prinsip dalam menuntut ilmu pengetahuan.

 

Kyai Zuhri bagi Rusydi Sulaiman yang juga Direktur Madania Center adalah sosok “Guru” dimaksud. Ia didampingi Gustin, M.Pd. sempatkan bersilaturrahim, lepas Kangen, menemui pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo tersebut di sela kegiatan penelitiannya tentang peran akademisi alumni pesantren di PTKIN. Anggota peneliti lainnya adalah Iqrom Faldiansyah (dosen), Fitriyah Wahyuni ( mahasiswa) dan Khozari bin Osman (dosen di Malaysia).

Kyai Zuhri adalah ulama kharismatik dan sangat bersahaja yang Rusydi Sulaiman kenal selama belasan tahun di Nurul Jadid dulu. Bukti sejarah mengingatkan, bahwa beliau yang menempatkan Rusydi mengabdi di MTs Nurul Jadid ( 1988) dan Kepala Lembaga Penelitian IAI Nurul Jadid (2005). Rusydi Sulaiman sempat menjadi sekretaris Biro Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Jadid (1990-1993) mendampingi Sang Guru tersebut. Gustin, anggota peneliti pun sangan terkesan dengan kepribadian dan sikap “Guru” walaupun baru pertama kali bertemu di Nurul Jadid. Banyak hal yang dapat diceritakan Direktur Madania Center tersebut selama berpengalaman dengan dengan “Guru”. “Pola anu” ( barangkali begini) selalu saja diperdengarkan olehnya kepada murid, Rusydi Sulaiman.

Selama di Nurul Jadid, dua peneliti tersebut dimediasi oleh Kyai Shalahuddin (Ra Shalah), putra KH.Wahid Zaini, khususnya ketika akan bersilaturrahim dengan “Guru”. Pertemuan pertama, Rabu sore, jam 17.20 wib, 10 Juni 2026, didampingi Ustadz Jufri, mantan Guru Matematika di Nurul Jadid dan Dr.Bayu , dosen di Pasuruan. Kedua, Jum’at jam 10.30 wib.12 Juni 2026 di kediamannya.

Selain itu, kamis, 11 Juni 2026, jam 10.30 wib., kedua peneliti diterima oleh Rektor Universitas Nurul Jadid juga Direktur Pascasarjana beserta beberapa dosen sebelum beranjak ke Bondowoso.Direktur Madania Center tersebut juga sempat bertemu dengan Marsuto, supir senior “Guru” dan beberapa muridnya dulu. Wassalam. (*)