Oleh: Rusydi Sulaiman, Direktur Madania Center & Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung
Bila kata,”Melayu” diperdengarkan, seringkali orang identikkannya Deng Islam. Orang Melayu pasti muslim, sebenarnya tidak demikian, karena melayu jauh lebih tua dari Islam. Persentuhan Melayu dengan Hindu-Buddha mendahului persentuhannya dengan Islam. Namun fakta kedua tersebut menjadi lebih signifikan sehingga muncul istilah Melayu Muslim. Sebatas itukah? Pastinya Islamisasi sangat intens sehingga hampir semua orang Melayu di negeri ini beragama Islam.
Dalam konteks Islam di Nusantara yang persentuhan sejarahnya dengan Bangsa Melayu, maka Melayu dimaksud berasal dari Negeri Yunan Cina Selatan setara dengan beberapa etnis kuno lainnya. Hadir Proto Melayu (3.000,-2.500 SM) sebagai Melayu Tua yang membawa kebudayaan batu, berikutnya Deutro Melayu (-hingga 500 SM) yang membawa kebudayaan logam–keduanya merupakan Bangsa Austronesia.
Melalui jalur barat, ras Austronesia melewati Vietnam, Semenanjung Malaya (Malaysia), lalu masuk ke Sumatera dan menyebar ke beberapa wilayah lain di Indonesia.Selain teori Yunan, disebut juga teori lain, yaitu teori Nusantara.
Fenomena berikutnya di Nusantara, muncul Muslim Melayu disebabkan oleh beberapa faktor; perdagangan, pernikahan, politik dan hubungan sosial lain. Muslim Melayu adalah identitas budaya dan agama yang menyatu erat, di mana agama Islam menjadi inti dari adat istiadat, bahasa, dan aturan hidup sehari-hari. Internalisasi ajaran Agama Islam memunculkan nilai kearifan lokal tertentu di masing-masing wilayah.
Tertulisnya Al-Qur’an, Hadits dan sumber ajaran agama Islam dalam Bahasa Arab memberi daya tarik tersendiri bagi masyarakat melayu untuk mendalami bahasa tersebut. Maka jadilah huruf atau aksara Arab menjadi media berikutnya, disebut Aksara Arab Melayu. Aksara tersebut dapat dilihat pada batu nisan, prasasti, syair, manuskrip lama. Tradisi menulis dengan Akrasa Arab Melayu menjadi signifikan keberadaannya, diantaranya karena kekuatan politik beberapa kesultanan Islam di Nusantara.
Bahasa Melayu Kuno berawal di Semenanjung Melayu, Kep.Riau dan Sumatera, kemudian menjadi bahasa resmi Kerajaan Sriwijaya sebagai Lingua Pranca. Adapun Bahasa Arab adalah dialek Suku Quraisy yang disemarakkan diantaranya di Ukz dan Dzul-Majaz. Kehadiran Islam di Jazirah Arab dan berabad-abad kekuasaan Islam di Timur Tengah hingga Nusantara memperkuat peradaban. Dua sistem fonologi bahasa, yaitu Arab dan melayu menyatu menjadi Aksara Arab Melayu, disebut al-Jawi, yaitu: Bahasa Melayu yang menggunakan huruf Arab. Kata,”al-Jawwah” adalah nama lain sumatera.
Kegemilangan ( the Axis time of literacy) di beberapa wilayah termasuk Sumatera lambat Laun menurun bahkan hampir hilang selain tidak banyak lagi orang yang membanggakannya kecuali sentra pendidikan seperti pesantren, dayah, meunasah, surau, madrasah, halaqah dan majelis ilmu.
Beberapa faktor melemahnya ghirah akademik terhadap Aksara Arab Melayu, antara lain: pertama, beberapa kesultanan Islam yang di masanya menaruh posisi tinggi terhadap ulama penulis naskah kitab bertuliskan Aksara Arab Melayu mengalami kemunduran; kedua, pengaruh kolonialisme. Ketika agama Islam dikhawatirkan berkembang, maka ulama dan naskah Aksara Arab Melayu disingkirkan. Masyarakat lemah dan tak mampu lakukan perlawanan; ketiga, masyarakat umumnya lebih bangga dengan Bahasa Asing daripada bahasa lokal terlebih Aksara Arab Melayu yang identik dengan penguatan nilai keislaman. Yang bersifat lokal dan agama dianggap kuno (out of date) dan ketinggalan zaman; keempat, lemahnya kepedulian pemerintah terhadap kelembagaan pendidikan Islam, khususnya upaya pengembangan Aksara Arab Melayu selain memang bahasa ibu adalah Bahasa Indonesia.
Bila demikian faktanya, maka mari kita kembalikan ghirah ber- Aksara Arab Melayu sebagai media pendalaman Agama Islam. Bila tidak, maka tulisan dalam bentuk apapun termasuk manuskrip dan naskah atau kitab lama tidak akan tergali lagi, sebaliknya akan punah ditelan zaman. Memasukkan pembelajaran Aksara Arab Melayu ke dalam kurikulum lokal di semua jenjang pendidikan termasuk perguruan tinggi adalah keharusan. Lebih-lebih pondok pesantren, tetap bertahan dengan tradisi akademik tersebut. Selain itu memperbanyak jumlah sentra pendidikan Islam yang khas berlakukan Aksara Arab Melayu.
Merujuk kepada makna kata,”Akshara”. Huruf “A”, berarti tidak; “kshara”, berarti termusnahkan, menjadi ,”Aksara”. Maksudnya adalah menjaga karya-karya bertuliskan Aksara Arab Melayu agar tidak musnah.Satu kitab karya Syeikh Abdussomad Al-Palimbani yang berjudul,”Hidayatus Salikin” dan beberapa karya Syeikh Abdurrahman Siddik masih bertahan hingga saat ini dan diajarkan di kepulauan ini. Mari kita lestarikan. Wassalam. (*)



