TIDAK BERTERUS TERANG

Bagikan
Oleh: Rusydi Sulaiman, Direktur Madania Center & Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Bila yang dimaksud adalah sejarah, maka ia diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu sejarah objektif dan sejarah subjektif. Yang pertama berarti bahwa data dan fakta yang disampaikan apa adanya, sesuai keadaan sebenarnya dan tidak disimpangkan. Adapun sejarah subjektif adalah proses yang ditempuh tidak dengan sebenarnya, disimpangkan sesuai selera pelaku sejarah dan atau bersifat pesanan orang tertentu. Dongeng misalnya, cerita yang dibuat, hampir pasti tidak benar karena tidak ada fakta autentik. Selanjutnya legenda, mungkin ada fakta, tapi terlalu banyak bumbu sehingga kebenarannya dinegasikan.Produk lain adalah hikayat, Sirah atau biografi, autobiografi, buku sejarah dan karya ilmiah semacamnya. Sangat menarik bila sumber sejarah digali dan direkonstruksi melalui metode yang pertama.

Materi sejarah sekalipun bila tidak didukung dengan sumber primer dalam penulisannya, maka keakuratannya rendah. Tidak juga hasilnya dijadikan argumen sejarah. Maka dari itu, sebuah buku sejarah dan karya sejarah harus diperkuat dengan tiga kategori sumber, Yau primer, sekunder dan pelengkap.

Terkait sejarah, begitu kuat dinamikanya dari waktu ke waktu, dan respon terhadapnya pun beragam. Sebagian orang menyepelekan sejarah. Sejarah hanyalah peristiwa masa lalu yang tidak ada kaitannya dengan masa kini apalagi masa akan datang. Mereka menyebut sejarah sebagai,”memorie-vak”, yaitu peristiwa masa lalu dan tidak akan terulang lagi. “Yang sudah biarlah, lupakan saja, celetuk mereka. Seakurat apapun sumber sejarah, diremehkan karena memang keberadaannya tidak diminati.

Bisa jadi seseorang lakukan demikian terhadap sejarah karena dihantui masa lalunya yang kurang baik. Ketika ia ingin melupakannya, ia membuat cerita lain yang bertolak belakang dengan fakta yang sesungguhnya terjadi. Maksudnya ia tidak berterus-terang tentang dirinya, pastinya ia berbohong.

Selain itu, seseorang juga bisa tidak berterus terang tentang fakta yang terjadi pada orang lain. Maksudnya ia sengaja berbohong dan atau sengaja diperintahkan berbohong, tidak berterus terang dan membolak-balikkan fakta dengan cara tertentu. Apakah anda pernah lakukan hal itu ? Mudah-mudahan tidak demikian.

“Ra’sudz-Dzunuubi al-Kadzibu” (puncak segala dosa adalah berbohong). Sekali tidak berterus terang, maka seseorang tidak akan berterus terang sehingga berbohong–membohongi diri sendiri dan membohongi orang lain. Kata seorang isteri, berbohong kepada suami bakhil itu dibolehkan! Berbohong atau tidak berterus terang pastinya tidak dibenarkan dalam agama apapun dan situasi bagaimana pun.

Tidak mudah berterus terang bila tidak terbiasa; tidak mudah berterus terang bila tidak dibiasakan sejak kecil; tidak mudah berterus terang bila dipengaruhi orang lain; tidak mudah berterus terang bila dipaksa untuk tidak berterus terang. Berterus terang lah, “qulil-Haqqa walau kaana murran” ( katakanlah sebuah kebenaran sekalipun terasa pahit). Namun kenyataannya banyak yang tidak dan sulit berterus terang. Bisa jadi orang di sekitar kita pun tidak suka bila ada yang berterus terang. Kebohongan dan atau kejahatan serta niat buruk dikhawatirkan terkuak bila ada yang berterus terang. Fakta itu terjadi dimana-mana terkhusus dalam beberapa sidang di pengadilan. Mudah-mudahan yang berterus terang tidak disalahkan.

Tidak berterus terang maksudnya menyembunyikan sesuatu kepada orang lain agar kebohongan dan ketidakterus terangannya tidak diketahui. Terkadang sikap tersebut dibela. Namun demikian, menyembunyikan sesuatu tidak juga salah bahkan dianjurkan dalam agama. Misalnya, tidak bercerita tentang kekayaan; tidak berterus terang tentang penyakit khawatir putus asa dan tidak berterus tentang niat baik tertentu. Dalam berdakwah, Nabi Muhammad menggunakan metode diam ( sirran). Berikutnya Rasulullah berdakwah dengan metode terang-terangan ( jahran)–berterus terang apa pun rintangan yang dihadapinya.

Singkat kata, kebenaran harus diungkapkan apalagi kebenaran sejarah masa lalu. Setidaknya sebagai pembelajaran bagi generasi setelahnya. Pengalaman hidup pribadi pilihan seperti para nabi dan ulama serta tokoh tertentu sangat bernilai dan sudah semestinya diteladani. Berterus-teranglahlah untuk apapun dan siapapun demi kemaslahatan bersama. Wassalam. (*)