PROGRAM DOKTOR; PELUANG SEKALIGUS TANTANGAN

Bagikan
Oleh: Rusydi Sulaiman, Direktur Madania Center & Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Ketika izin penyelenggaraan Program Studi Strata-3 (doktoral) Studi Islam di IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung telah didapat (SK.Menteri Agama RI.Nomor 844, Tahun 2026), dipastikan para sivitas akademika senang mendengarnya. Luar biasa apresiasi pun ditujukan kepada tim inti dan pihak terkait atas kerja keras mereka selama ini. Sebaliknya, mungkin ada yang apatis, dan menganggapnya biasa-biasa saja. Jangan- jangan mereka meragukannya. Apapun masalahnya, ini peluang sekaligus tantangan.

Dibukanya Program Studi Strata 3 (doktoral) Studi Islam tersebut merupakan peluang bagi lembaga, IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung untuk menjadi lebih maju. Setidaknya hal tersebut memberi kesan bahwa PTKIN satu-satu di Bangka Belitung lebih serius–kansern terhadap pendidikan, maka diharapkan pengakuan publik akan kelembagaannya menguat. Lagi-lagi belum satu pun perguruan tinggi di kepulauan ini yang memiliki program studi Strata 3 (doktoral) kecuali di IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung.

Bila sudah ada wujudnya, maka ini peluang bagi yang bergelar magister untuk lanjutkan studi, apalagi beberapa konsentrasi yang dibuka linear dengan rumpun keilmuan mereka sebelumnya. Ketercukupan Guru Besar untuk keberlangsungan studi sangatlah signifikan apalagi diperkuat dengan 30 lebih doktor dengan beragam bidang keahlian.

Posisi Strategis. Provinsi Bangka Belitung yang terdiri dari dua pulau besar, yaitu Bangka dan Belitung serta ratusan pulau di sekitarnya bukanlah wilayah jauh dari pusat kekuasaan, yaitu Jakarta. Selanjutnya, apakah kepulauan tersebut dipedulikan atau sebaliknya dimarjinalkan, belum bisa dipastikan. Yang jelas jarak tempuh udara Pangkalpinang-Jakarta hanya 50 menit hingga 1 jam dengan biaya tidak juga mahal. Mengapa Pulau Lombok lebih maju dan jumlah penduduknya lebih banyak padahal jarak tempuhnya lebih jauh dari DKI Jakarta ? Artinya ini peluang untuk lebih maju bagi beberapa lembaga termasuk perguruan tinggi.

Satu hal yang sangat menguntungkan, bahwa IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung berada diatas lahan ,tanah 16 ha di Desa Petaling dan juga lahan hibah masyarakat hampir 100 ha di Desa Payabenua–keduanya berada di Kecamatan Mendobarat, tidak jauh dari Desa Kemuja. Mendobarat, khususnya Kemuja, yaitu kampung bermulanya intensifikasi Islam di Pulau Bangka. Kehadiran kampus hijau tersebut tak terlepas dari dinamika pendidikan Islam sebelumnya. Maka, sangatlah strategis bila aspek-aspek bersifat pendidikan dipusatkan di daerah ini.

Penguatan Akademik. Satu persatu program studi di IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung mencapai grade unggul. Baru saja Program Studi BKPI (Bimbingan Konseling Pendidikan Islam) Fakultas Tarbiyah juga unggul. Hal ini mengindikasikan adanya proses penguatan di bidang akademik beberapa tahun terakhir. Tidak cukup puas di posisi tersebut, mesti dipertahan grade unggul tersebut. Ketika puluhan program studi sudah melekat di perguruan tinggi, lebih spesifik Program Studi Strata 3 ( doktoral), maka diperlukan langkah strategis pengelolaannya.

Pasca penetapan visi dan misi lembaga, pertegas visi keilmuan sebuah program studi dan aspek terkait termasuk profil lulusan. Jumlah konsentrasi di program doktor dibatasi sesuai jumlah program studi magister selain mempertimbangkan jumlah lulusan Strata 2 di kepulauan ini. Sejumlah matakuliah sangat terkait dengan bidang keahlian guru besar. Apakah sejumlah guru besar internal sudah mencukupi? Lalu siapkah mereka berkhidmah? Mungkin perlu dibentuk konsorsium.

Kesiapan Finansial. Tidak mudah bila semangat memajukan lembaga termasuk PTKIN dikaitkan dengan kebutuhan finansial. Cukup besar biaya operasional bidang akademik. Di awal pendirian sebuah perguruan tinggi dengan satu-dua program studi, diharuskan ada dana mengendap sebagai model dasar sekaligus bukti tambahan bahwa sebuah lembaga akan dikelola secara serius.

Misalnya 1 kelas dengan jumlah 10 hingga 12 mahasiswa Prodi Strata 3 (Doktoral) Studi Islam dengan biaya tertentu seperti UKT (Uang Kuliah Tunggal) dan biaya dalam satu smester, dikali beberapa smester yang ditempuh ditambah biaya lain, mampukah program studi tersebut beroperasi? Ada banyak beban finansial, seperti honorarium dan transportasi serta akomodasi dosen, ( guru besar) luar pulau, kebutuhan administrasi, sarana prasarana dan biaya operasional lainnya. Belum lagi kesiapan dana untuk penelitian dan pengembangan, seperti perpustakaan dan perangkat lain.

Penguatan Kelembagaan. Program Pascasarjana, yaitu magister apalagi program doktor berbeda dengan strata 1 (sarjana), maka diperlukan kepastian langkah dalam pengelolaannya. Bila seabrek rutinitas akademik dan kegiatan perkuliahan yang ditangani, maka harus ada gedung sendiri dan ruang kuliah khusus Pascasarjana. Gedung dan segala prasarana serta intensitas kerja pimpinan dan sivitas akademika di dalamnya tidak sebatas simbol, melainkan nuansa tertentu yang sentuhkan pengaruh positif bagi semangat memperkuat lembaga. Unsur satu dan lainnya diharapkan bergerak secara terstruktur sesuai mekanisme perguruan tinggi. Sejumlah guru besar dan 30-an dosen berpendidikan s-3 sangatlah potensial untuk prospek satu-satunya PTKIN di kepulauan ini, khususnya Program Doktor.

Kerjasama antar Lembaga. Pimpinan beberapa instansi pemerintah, perguruan tinggi dan Non-Governmental Organization sebagai stakeholders tidak sebatas diundang dalam FGD tertentu, akan tetapi diajak untuk berkomitmen kuat dalam bekerjasama. Pastinya provinsi ini sangat diuntungkan dengan adanya Program Pascasarjana dengan beberapa program studi magister dan satu program studi Strata 3 ( doktoral). Dalam unsur penelitian dan pengabdian pada masyarakat misalnya, beberapa stakeholders tersebut bisa alokasikan dana terkait, juga dukungan lainnya. Tak sebatas itu, kerjasama juga bisa bersifat vertikal, khususnya dengan Kementerian Agama RI. dan umumnya dengan beberapa lembaga di tingkat pusat. Sebuah perguruan tinggi dituntut untuk memperluas ruang lingkup kerjasamanya sehingga dikenal dan diakui publik.

Begitu banyak peluang yang bisa digapai sekaligus tantangan yang dihadapi dalam mengelola lembaga. Namun bila ada komitmen kuat dan kerja keras serta kerja cerdas semuanya teratasi. Apa yang dimiliki kampus ini dan apa yang ada disekitarnya adalah bekal, potensi dan kekayaan untuk menjadi lebih baik bahkan lebih maju dari beberapa perguruan tinggi sekitar. Sekali lagi, dibukanya prodi s-3 ( doktoral) Studi Islam adalah kelebihan, memiliki nilai tersendiri. Wassalam. (*)