Oleh: Rusydi Sulaiman, Direktur Madania Center & Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung
Tidak jarang kita mendengar kata kotor bahkan umpatan dari seseorang kepada orang lain saat ia sedang marah karena sebab tertentu; tersinggung, dilecehkan , dihina dan atau lainnya. Kadang tidak juga demikian, kata kotor sering keluar dari orang yang memang sudah terbiasa sebelumnya. Akan sangat luar biasa, bila hal tersebut terucap dari mulut orang tua kepada anak kandungnya.
Pernahkan anda melihat perempuan atau laki-laki latah? Orang latah adalah seseorang yang menunjukkan reaksi terkejut secara berlebihan dan dirinya tak terkontrol karena kaget oleh suara atau sentuhan. Respons spontan tanpa disengaja dan sering kali diikuti dengan tindakan meniru ucapan atau gerakan, bahkan mengeluarkan kata kotor. Memang sebelumnya, orang tersebut terbiasa berucap kata kotor dan muncul fenomena latah dimaksud.
Kenyataannya memang ada istilah atau kata tertentu di daerah tertentu yang mengindikasikan ucapan kata kotor, seperti nama hewan tertentu, bagian tubuh tertentu dan atau label atau gelar tertentu yang sengaja digunakan untuk melecehkan seseorang. Herannya sesuatu yang negatif dan bernuansa kurang baik malah dianggap biasa saja bahkan disenangi. Terbukti orang-orang di sekeliling meng-iyakan , mentertawakan. Bisa jadi ikut melecehkannya.
Pertanyaannya, mengapa sesuatu yang tidak baik itu berlangsung intens dari generasi ke generasi, disebut,”Transmitten Generation”? Seakan menjadi tradisi di tengah masyarakat tertentu. Pastinya tdaklah mudah kebiasaan tersebut dihilangkan. Berharap ada tokoh setempat yang memang sangat disegani yang mampu mengatasinya atau setidaknya mengurangi. Kata kotor ( kalimah sayyi’ah) dan sebaliknya kata baik ( kalimah thayyibah) bila dilontarkan tidak berbanding lurus. Yang negatif faktanya lebih mengusik orang pada umumnya. Maka dari itu ia lebih mudah masuk ke dalam benak apalagi dilakukan secara berulang. Akal material dalam diri manusia sangat antusias terhadap hal-hal negatif, lebih spesifik kata kotor.
Namun, bila yang disampaikan itu hal positif termasuk kata baik, prosesnya agak lamban kecuali oleh orang baik; terbiasa berbuat baik dan membiasakan diri berbuat baik. Maksudnya akal potensial dalam diri manusia sangat antusias sehingga mudah mecernanya.
Di kampung Bangka terdapat beberapa istilah sebagai kebiasaan yang kurang baik, baik bersifat verbal maupun non-verbal, faktanya terus berlangsung hingga kini, yaitu: ngeruce ( bicara terus menerus dan terkesan marah), ngerameng (berlebihan bicara namun tak terarah), ngeracau (berlebihan bicara dan terkendali) dan semacamnya. Terkhusus kata,”ngeruce” oleh seorang ibu, positif juga apalagi si anak sudah sangat nakal. ‘alaa Kulli haal, hal-hal yang tidak baik dan kurang baik termasuk kata kotor sebaiknya dikurangi ( diminimalisir) agar tidak terpengaruh negatif) terhadap siapapun.
Agak rentan memang ketika manusia dianugerahkan kepadanya potensi akal, “hewan yang berbicara” ( Hayawaanun Naathiq)–menjebak manusia dalam bertutur dan juga bersikap, apakah berkata kotor atau sebaliknya berkata baik. Sebagai manusia, apakah kita stagnan pada posisi akal material yang mendekati kebiasaan binatang atau kita mampu perkuat potensi akal menjadi lebih fungsional? Dimuliakan atau tidak dimuliakannya seseorang sebenarnya lebih disebabkan oleh kebiasaannya, yaitu bagaimana ia menjaga marwah dirinya dari hal yang tidak layak sekalipun.
Hakikatnya, manusia bukanlah makhluk sebatas berbuat baik dalam kesehariannya, melainkan mampu menyebarkan kebaikan tersebut kepada orang lain. “Khairun-Naas Anfa’uhum lin-Naas wa Ahsanuhum Khuluqan”. Salah satunya berkata baik. Kebermanfa’atan diri seseorang terhadap orang lain sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan peradaban secara umum.
Beberapa sumber dan pendapat meningindikasikan hal tersebut, diantaranya: pertama, “falyaqul Khairan au liyashmut” ( berkata baiklah atau sebaiknya diam); kedua, “Takallam maa ya’niika” ( bicaralah sesuatu yang bermanfa’at bagimu); ketiga, “Idza katsura kalaamuhu, katsura khatha’uhu” (bila banyak bicara cenderung banyak salahnya)–kesemuanya memotivasi agar setiap orang berkata baik dan menghindari hal-hal yang tidak bermanfa’at. Dalam QS.Luqman (31):18-19)–Artinya: (18)”Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia ( karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. (19)”Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ada suara keledai”.
Artinya menyederhanakan diri itu adalah sikap baik. Terkhusus berkata baik, lebih mulia. Mudah-mudahan hal tersebut mengindikasikan penduduk kepulauan ini. Wassalam. (*)




