SEMINAR NASIONAL: Rekonstruksi Peradaban Islam untuk Membangun Dunia Baru, Rusydi Sulaiman: Kehadiran Para Guru Besar Sentuhkan Ghirah Tertentu

Bagikan

MADANIA CENTER — Peradaban Islam pernah mengalami supremasi beberapa abad sebelumnya, tandai permulaannya di zaman Nabi Muhammad saw.dan puncaknya di masa kekhalifahan Abbasiyah, disebut integrasi ( the golden age of Islam). Selanjutnya diperkuat oleh Kekhalifahan Turki Usmani di abad pertengahan. ( medievel period of Islam). Tak ketinggalan, Islam di Indonesia juga mengalami supremasinya di periode modern. Namun saat ini agak melemah, mengalami stagnasi.

Umat Islam harus bangun dari kejumudannya memperkuat peradaban Islam kembali dengan beberapa langkah strategis. Berikutnya  melalui gagasan  Menteri Agama RI. diadakanlah Seminar Nasional tentang peradaban Islam, diikuti oleh semua rektor dan seluruh Guru Besar di PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) selama dua hari, Selasa-Rabu, 15-16 juli 2026, bertempat di Hotel Borobudur Jakarta Pusat.

Mewakili IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, hadir dua Guru Besar, yaitu: Prof.Dr.Rusydi Sulaiman, M.Ag. dan Prof.Dr.Irawan, M.S.I. Ikut serta juga Dr.Zakwan Zaki, Ketua IKA (Ikatan Alumni ) PTKIN se-Indonesia.

Acara tersebut dihadiri langsung oleh Menteri Agama RI.sekaligus sebagai Key-Note Speaker.

Menurutnya, satu masalah utama dalam peradaban adalah pergulatan antara agama dan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sudah maju bahkan mengalahkan agama di abad ke-6 SM. Perubahan berikutnya di abad ke-1 dimana ilmu pengetahuan dan agama dikerdilkan oleh dominasi kekaisaran. Sinergitas antara agama dan ilmu pengetahuan ditandai dengan kehadiran Muhammad saw. Episentrum ilmu pengetahuan di dunia Islam mengalami kemandegan pasca Abbasiyah hingga abad pertengahan.

Bagaimana dengan Islam di Indonesia? PTKIN diharapkan untuk lakukan langkah strategis penguatan peradaban Islam. Begitu banyak potensi yang bisa dikembangkan di negeri ini, mengalahkan negara-negara lain.

Islam is an Islam and the Islam, tujuannya adalah unity ( persatuan), bukan sekedar toleransi ( tolerance). Maka dari itu peran Guru Besar sangatlah signifikan. Rusydi Sulaiman yang juga Direktur Madania Center menegaskan bahwa para Guru Besar Sentuhkan Ghirah tertentu bagi penguatan peradaban Islam di negeri ini.

Setelah paparan Prof.Dr.Nasaruddin Umar, M.A.,berlangsung beberapa sesi diskusi panel dengan beberapa narasumber.

Alhamdulillah seminar nasional tersebut   berjalan lancar. Selain itu seminar juga mempertemukan Rusydi Sulaiman dengan beberapa kolega, diantaranya; Prof Dr.Rena Latifa (UIN Jakarta), Prof.Dr.Zaenal Mukarom (UIN Bandung), Dr.Mastuki, HS.( Ka Pusdiklat Kemenag RI. dan lain-lain).  Wassalam. (*)