MADANIA CENTER — Alhamdulillah kajian Ahad malam di setiap pekan kedua berjalan sebagaimana biasanya. Kala ini Rusydi Sulaiman mengurai tentang fenomena budaya dan agama dalam sejarah kehidupan manusia dan ajakan men-tauhid-kan Allah Swt. Belasan jama’ah rutin hadir dan menyimak dengan baik dalam kegiatan tersebut.
Seringkali diperdebatkan antara agama dan budaya, mana yang lebih awal? Ketika beberapa keturunan awal Adam a.s. lahir, sejak itu mereka berkumpul dan berinteraksi satu sama lain. Artinya mereka sudah berbudaya apapun bentuknya. Dan mereka juga diperintahkan sujud–mentauhidkan Tuhan, Allah Swt. walaupun faktanya tidak demikian.
Berdasarkan QS.At-Taubah (9):30, fenomena tertentu tentang agama dan budaya masyarakat sudah muncul. Uzair a.s. adalah orang yang diyakini anak Tuhan, Allah oleh kaum Yahudi , juga demikian kaum Nasrani terhadap Isa Al-Masih, berpijak pada keyakinan dan tradisi orang-,orang kafir sebelumnya. Namun Allah melaknat sikap tersebut. Pastinya hanya Allah yang ditauhidkan.
Ditegaskan oleh Guru Besar tersebut bahwa Tuhan, Allah itu esa, dan tidak bisa dilekatkan kepada-Nya makhluk manapun. Dia Dzatnya, bukan selain-Nya. Jadi sikap meyakini Uzair a.s. dan al-Masih sebagai anak Tuhan adalah sesat. Awalnya politeisme, lalu secara bertahap menjadi monoteisme, dibuktikan dengan hadirnya agama-agama samawi (Divine Religion).
Sosok Nabi Uzair dipertegas dalam QS.Al-Baqarah (2):259), bahwa Uzair adalah manusia biasa. Dia diapresiasi sebagai orang yang memiliki kelebihan, tapi bukan anak Tuhan sebagaimana yang pernah diyakini orang-orang kafir sebelumnya.Artinya: “Atau seperti orang yang melewati suatu negara yang ( bangunan-bangunannya) telah roboh hingga menutupi ( reruntuhan) atap-stapnya, Dia berkata: bagaimana Allah menghidupkan kembali ( negara) ini telah hancur? Lalu Allah mematikannya ( orang itu) selama seratus tahun, kemudian membangkitkan ya ( menghidupkannya) kembali. Dan Allah bertanya: berapa lama engkau tingga disini? dia ( orang itu) menjawab: aku tinggal disini sehari atau setengah hari. Allah berfirman: tidak, engkau telah tinggal seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, tetapi lihatlah keledaimu ( yang telah menjadi tulang belulang). Dan agar Kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang belulang ( keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging. Maka ketika telah nyata bagi-Nya, diapun berkata: saya mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Uzair a.s. mustahil disembah, akan tetapi sebagai manusia, Uzair a.s. men-tauhid-kan Allah Swt. Rusydi Sulaiman yang juga Direktur Madania Center mengajak jama’ah belajar dari pengalaman Nabi Uzair yang ditidurkan selama seratus tahun–sebuah pembelajaran berharga sekaligus meyakini bahwa otoritas berada di “tangan” Allah, bukan selain-Nya. (*)





