Oleh: Rusydi Sulaiman, Direktur Madania Center & Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung
Setiap orang pasti ingin sehat, baik jasmani maupun rohani. Percuma sehat jasmani, tapi tidak sehat rohani. Juga sebaliknya demikian. Keduanya berkelindan satu sama lain.”al-‘Aqlus-Saliim fil-Jismis-Saliim” ( akal sehat tergantung pada fisik sehat).
Bayangkan bila seseorang kena bisul di bagian pinggul sebagai penyakit fisik, hampir pasti keleluasaan gerak terbatas, juga berpengaruh pada pikiran. Rasa kesal pun menyertai. Akhirnya rutinitas terganggu, tak terselesaikan. Bisa jadi ia marah-marah karena tidak bersabar diri. Apalagi terkena penyakit berat, sulit dibayangkan seperti apa kondisi psikologis seseorang dan keluarga dekatnya?
Artinya, sehat itu penting dan sangat berharga bagi setiap orang. “ash-Shihhatu Taajun, ‘alaa Ru’uusil-Ashihhaa’iy laa yaraahaa illal-Mardhaa” (sehat itu adalah mahkota, berada diatas kepala orang-orang sehat, dan tidak mengetahuinya ( sehat) kecuali orang-orang sakit). Maka dari itu orang sakit mesti dipedulikan.
Akan jadi masalah dan sangat menyesakkan dada bila orang sakit tidak dilayani dengan baik; sengaja ditunda, alasan tidak ada ruangan dan atau sebab lain yang dibuat-buat hanya karena ia tergolong tidak mampu dan atau sebatas peserta BPJS. Baru-baru ini ada beberapa oknum; dokter dan tenaga kesehatan yang mengunggah statemen miring terhadap pasien BPJS, bernama Yurizal Tri Chaerawan–sangat riskan walaupun akhirnya mereka minta ma’af setelah dicecar para nitizen di media sosial. Entah apa masalahnya. Yurizal pun akhirnya wafat. Fakta tersebut menyisakan pertanyaan banyak orang. Mereka semestinya berempati, bukan sebaliknya membully. Profesi yang sangat mulia, mengapa kemudian dikesampingkan!
Mudah-mudahan peristiwa tersebut tak terulang lagi dan menjadi pembelajaran tersendiri bagi para pelaku serta renungan bagi semua, terkhusus bagi Kementerian Kesehatan RI. dan lembaga-lembaga di bawahnya untuk introspeksi diri dan mengevaluasi.
Rumah sakit bila disentuhkan kepada kita, maka yang muncul dalam benak adalah pelayanan, biaya, suasana, menu yang disuguhkan. Bila baik unsur-unsur tersebut, maka memberi kesan baik. Sebaliknya, akan memberi kesan jelek bahkan menakutkan bagi pihak tertentu bila tidak baik. Ada baiknya disebut rumah sehat, bukan rumah sakit? Dalam Bahasa Arab, disebut kata,”al-Musytasyfaa” untuk menamakan sebuah rumah sakit yang sebenarnya Rumah Sehat, diambil dari kata,”syafaa-yasyfiy-syifaa”, berarti menyembuhkan, menjadi sembuh dan kesembuhan atau sehat. Nuansa sehat mengindikasikan hal positif dan memotivasi siapapun untuk bersikap dan berpikir positif.
Rumah sakit tidak serta merta ada, tapi dibangun atas alasan dan tujuan tertentu. Tipologinya pun berbeda tergantung kekuatan dan unsur-unsur melekat. Rumah sakit diproyeksikan untuk pelayanan kepada masyarakat, bukan sebaliknya. Janganlah pasien yang ingin berobat bertambah sakit; tidak juga keluarga pasien menjadi sakit karena beban biaya tinggi; dokter dan tenaga kesehatan pun tidak boleh sakit dalam mengabdi: dan hal-hal negatif lain yang mempengaruhi. Rumah sakit, jangan bertambah sakit?
Rumah sakit sebatas nama, mungkin karena didalamnya banyak orang sakit dan seabrek urusan yang berkaitan dengan penyakit. Rumah sakit hakikatnya adalah rumah sehat, yaitu wadah yang sangat mulia, meringankan beban masyarakat dari gangguan dan serangan penyakit. Rumah sakit memberi pesan agar kita hidup sehat, baik jasmani maupun rohani.
Sudah waktunya manajemen pengelolaan rumah sakit ditingkatkan, sejalan dengan tujuan utamanya, yaitu: pertama, mempermudah akses masyarakat untuk dapatkan pelayanan kesehatan; kedua, memberi perlindungan keselamatan; ketiga, meningkatkan mutu pelayanan; keempat, memberi kepastian hukum bagi pasien dan tenaga medis. “Mens Sana in Corpore Sano”. Rumah sehat, bukan rumah sakit? Wassalam. (*)





