NABI MUHAMMAD SAW., Sudah Semestinya Diteladani

Bagikan
Oleh: Rusydi Sulaiman, Direktur Madania Center & Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Ketika disebut tokoh utama dari seratus tokoh dalam sebuah buku karya Michael H. Hart, seorang Astrofisikawan dan sejarawan, berjudul: The 100: A Ranking of The Most Influential Persons in History (1978), maka maksudnya adalah Muhammad saw., sosok yang kemudian dinobatkan sebagai Rasulullah atau nabi akhir zaman (Khātamun-NabiyyĪn). Tiada nabi sesudahnya, lahir pada tahun 571 M dan wafat tahun 632 M di Kota Mekkah Jazirah Arab. Beberapa fakar, baik dari pihak Barat maupun Pihak Timur (Islam) menulis ketokohan dan kebesarannya. Hampir tidak ada sikap lain kecuali mereka memuliakannya. Bayangkan putra pasangan Abdullah dan Aminah tersebut tegar saat dihadapkan pada komunitas Arab jahiliah dengan segala kompleksitasnya, lalu Rasulullah mampu menjadikan mereka lebih berperadaban. Maka dari itu, sangat argumentatif memang bila hari kelahiran Nabi Agung tersebut diperingati bahkan dirayakan secara beragam oleh hampir seluruh umat Islam di penjuru bumi.

Tanda Kebesaran

Terkait waktu kelahiran Muhammad kecil, selalu saja dikisahkan bahwa hal itu bertepatan dengan tahun gajah–saat itu Raja Abrahah dan pasukan gajahnya menyerang Ka’bah (Bait Allah), namun gagal, bahkan mereka hancur sebagaimana ditegaskan dalam QS.Al-Fiil. Sebenarnya beberapa tanda atau peristiwa khusus terjadi menjelang kelahiran Muhammad saw.; wafatnya Artilla (tokoh besar Yahudi); pembantaian orang-orang Arab kristen oleh Abu Nuwas; tergulingnya kaisar terakhir Romawi (Roumulus Augustulus); kematian Kisra III. Perseteruan besar Imperium Romawi dan Imperium Persia menguat untuk menginvasi Jazirah Arab akhirnya memberi—jalan tol bagi kehadiran Islam. Berikutnya Islam mengalami kejayaan—The Golden Age, ditandai dengan adanya 4 khalifah pasca Nabi Muhammad dan kekuasaan dua khilafah, yaitu: Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah.
Sejak kecil, Muhammad saw. telah ditinggal kedua orang tua, namun dirinya tetap terjaga; asy-Syifa’ (yang sempurna dan sehat) membantu saat lahir; Halimah Sa’diyah (yang berlapang dada dan mujur) menyusuinya; kakeknya, Abdul Muthalib, bergelar syaibah (orang tua yang bijaksana) mengasuhnya; pamannya, Abu Thalib selalu melindunginya. Kenabian dan kerasulan Muhammad saw. sudah diprediksi, diantaranya oleh Buhairah, Rahib Kristen Nestorian di Kota Bushra (Syam) Suriah. Selain itu, Nabi Muhammad memiliki 4 sifat mulia, yaitu: Shiddiq (jujur), tabligh (menyampaikan), amanah ( dapat dipercaya) dan Fathanah (cerdas). Hal itulah yang menjadi pijakan bagi para pemuka Quraisy sehingga menobatkan pemuda mulia tersebut untuk meletakkan Hajar Aswad di sisi Ka’bah (Bait Allah).

Muhammad saw., Paling Dimuliakan

Hal lain yang sangat mendukung, bahwa Muhammad saw. memang pribadi mulia melebihi ketokohan para nabi sebelumnya, “afḍalul-Anbiyā’i wal-MursalĪn”, bahkan sosok yang diberi keutamaan melebihi para Ulul-Azmi. (Nuh a.s., Ibrahim a.s., Musa a.s. dan Isa Ibnu Maryam a.s.), dalam QS.Al-Ahzab (33):7)—Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari ngkau (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh”. Muhammad saw. memang diproyeksikan kerasulannya untuk alam semesta, dalam QS. Ibrahim (14):4)—Artinya: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka. Maka Alla menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana”. Juga QS.Saba’ (34):28)—Artinya: ” Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
Bila nabi-nabi tertentu dianugerahkan kepadanya mukjizat, jumlah mukjizat Nabi Muhammad melebihi mereka; aqwāhā ( lebih kuat), aktsaruhā (lebih banyak), akmaluhā (lebih sempurna), diantaranya: dengan do’anya, matahari kembali setelah terbenam (ruddatisy-Syamsu bidu’āhihi ba’da mā gharabat); bulan terbelah dengan isyaratnya (insyiqāqul-Qamaru bĪsyāratihi); mengucapkan salam kepada batu dan pohon ( taslĪmul-Hajari wasy-Syajari;berbicara dengan hewan ( kalāmul-Bahāimi), kesaksian dengan risalahnya (asy-Syahādatu bi risālatihi); bersumber air dari sela jari-jarinya (naba’al-Mā’u min baini aṣābi’ihi); dan pohon kurma pun menangis rindu karena lama berpisah dengan Nabi Muhammad (HanĪnul-Jaza’i ‘alā mufāraqatihi).
Tiada bandingannya, bahwa Muhammad saw. adalah nabi yang paling tinggi derajatnya. Bila Adam a.s. hanya didatangi 12 kali selama hidupnya seribu tahun di bumi, Idris a.s. sebanyak 4 kali, Nuh a.s. sebanyak 50 kali, Ya’kub a.s. sebanyak 4 kali, Ibrahim a.s. sebanyak 40 kali, Musa a.s. sebanyak 400 kali, Ayyub a.s. sebanyak 3 kali, Isa a.s. 10 kali, maka Muhammad saw. paling banyak, yaitu: 24 ribu kali, padahal usianya hanya 63 tahun, menurut al-Hafizh ad-Dailamiy ( Muhammad Idrus al-Buthani, 2009: 81).
Ketika nabi-nabi selain Muhammad saw. dipanggil dengan sebutan nama masing-masing, tapi dirinya disebut Allah dengan kata,” wahai nabi dan wahai Rasul ( yā ayyuhan-Nabiyyu wa yā ayyuhar-Rasūlu). Setiap rasul adalah nabi, bukan sebaliknya. Rasul memiliki syari’ah, dan baginya kitab suci. Namun demikian, beberapa nabi tertentu dianugerahkan kepada mereka mukjizat. Digambarkan, begitu tinggi derajat nabi, karena sesempurnanya wali, (ia) tidak mampu menyamai derajat terendah nabi (akmalul-Auliyā’i lā yablughu adnā darajatil-Anbiyā’i. Jadi Muhammad saw. adalah segalanya dalam konteks ini.

Kemestian Meneladani

Cukup beragam cara umat umat Islam menyikapi kebesaran Nabi Muhammad, terkhusus memperingati hari kelahirannya, dari yang sangat sederhana, misalnya: membaca shalawat dan mengaji Al-Qur’an hingga berpesta (sangat senang). Bisa jadi substansi peringatan (dalam rangka mengingat dan meneladani Rasulullah telah mengalami pergeseran. Itulah kadang fakta yang terjadi di tengah masyarakat. Ada baiknya disederhanakan dalam hal kesiapan makanan dan juga minuman serta memperbanyak shalawat kepadanya.
Nabi Muhammad saw. adalah tokoh yang dita’ati perintahnya dan dihindari larangannya,” wa mā Atākumur-Rasūlu fakhudzūhu, wa mā nahākum ‘anhu fantahū “.Maksudnya, sudah semestinya Rasulullah diteladani, sebagaimana ditegaskan dalam QS.Al-Ahzab (33):21)—Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan orang yang banyak menyebut (berdzikir) nama Allah”. Mudah-mudahan kita dapatkan syafa’at Rasulullah tersebut di hari akhir kelak. Wassalam. (*)