Oleh: Rusydi Sulaiman, Direktur Madania Center & Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung
“Ngapa ikak Akeh nyiap kek nganggong? Ngeleteh bae” (Mengapa kalian sibuk sekali untuk acara nganggung ? Bikin capek saja!)–Itu ungkapan orang yang tidak memahami tradisi tertentu di Kampung Bangka atau ia enggan bersedekah dan anti silaturrahim dengan sesama.
Nganggung tidak sebatas membawa makanan dari rumah ke masjid atau tempat tertentu yang telah disepakati sebelumnya, melainkan sebuah kegiatan bernuansa keagamaan berkaitan dengan sejarah kampung di Bangka dengan tujuan memperoleh keberkahan selain penguatan solidaritas sosial. Begitu banyak nilai positif dalam kegiatan tersebut. Intensitas keberlangsungannya di waktu-waktu tertentu sepanjang tahun menjadikannya sebuah tradisi, disebut,”Tradisi Nganggung” di Kampung Bangka.
Nganggung tidak serta merta muncul di tengah masyarakat, melainkan berawal dari rutinitas penduduk kampung, yaitu: berladang atau berkebun ume di hutan kelekak yang rangkaiannya disebut,” Memarung atau Memarong”.Memarung, Bubung, Kampung dan Nganggung.
Memarung mulanya mengarungi dan mencari lokasi atau lahan subur untuk berkebun (ume). Agar bertambah subur, dan cikal bakal lahan yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar itu dibakar. Sambil berkebun, dibangunlah pondok kebun ume, bernama panggung sebagai tempat tinggal sementara di sekitar lahan kebun ( berada di permukaan tanah lebih tinggi) selain untuk pengamanan ladang dari genangan air dan gangguan binatang buas. Adapun hasil panen berupa padi ( beras cerak), lada (sahang), karet (getah karet) beserta hasil tanaman.palawija lainnya disimpan di panggung tersebut. Berikutnya panggung yang dibangun berdasarkan filosofi pribumi Bangka (Urang Lom) mengalami sedikit pergeseran bentuk pasca persentuhannya dengan dengan Islam. Jumlah tangga masuk panggung, kayu penyanggah di tengah menuju ke atas ( ‘arsy) dan tempat shalat serta bagian spesifik lain mengindikasikan hal tersebut.
Dalam konteks sinergitas manusia, Tuhan dan alam, pribumi Bangka terbiasa berbagi–menyisihkan hasil panen tersebut utk kerabat dekat, dan juga ke unsur di luar diri manusia yang diyakini memiliki kekuatan magis dalam bentuk sesajin. Sesajin berupa beberapa makanan olahan tersebut diletakkan di salah satu sisi panggung, dibawah pohon besar ( di hutan) atau dilempar ke laut sebagai bentuk persembahan agar terhindar dari Mala petaka dan juga penyakit. Keyakinan dimaksud disebut animisme dan dinamisme. Kehadiran Islam merubahnya menjadi sedekah ( shadaqah) untuk sesama dan berharap Ridha Tuhan, Allah Swt.
Beberapa ladang ume identik dengan beberapa panggung, kemudian menjadi bubung. Kampung besar berjarak setidaknya 6 kilometer dengan kampung besar berikutnya, terdiri dari ratusan bubung. Adapun kampung kecil hanya terdiri dari puluhan bubung. Awal pemukiman penduduk berada di kaki bukit dan selalu saja berhubungan dengan air ( aek–Bahasa Melayu Bangka). Di setiap kampung terdapat satu masjid kampung, satu pemandian (aek-mandik) dan satu pemakaman. Belakangan, pemandian tersebut kurang berfungsi, karena di setiap rumah penduduk sudah ada kamar mandi.Rumah panggung pun sudah berubah bentuk menjadi rumah beton seiring zaman. Namun demikian, Tradisi Nganggung masih eksis saja bahkan bertambah semarak di kampung- kampung tertentu.
Dalam kosmologi dan sejarah masyarakat Melayu Bangka, bubung (atau bumbung) adalah istilah satuan hitung rumah atau tahapan penting dalam pola peradaban dan pembentukan suatu perkampungan tradisional. Bubung: Tahap ketika jumlah rumah (atap/bubung) bertambah banyak, menandakan terbentuknya komunitas yang lebih besar, disebut kampung.
Walaupun posisi perkampungan bergeser ke deret kanan dan kiri jalan raya (pasca kebijakan Kolonial di pertengahan abad ke -19 M), kebiasaan berbagj tetap berlanjut. Persentuhan Islam dengan Melayu berikutnya membentuk komunitas dengan keyakinan baru, yaitu muslim Melayu ( Malay-Moslem) dengan kelanjutan kebiasaan berbagi ( bersedekah), disebut “Nganggung”–Tradisi Nganggung di Kampung Bangka.
Nganggung menyertai beberapa kegiatan ritual keagamaan tententu, hakikatnya bersedekah. Dulang berisikan makanan olahan ketan, nasi dan lainnya, ditutup tudong saji, lalu dihidangkan untuk dinikmati bersama. Terkhusus 12 Rabi’ul Awwal, peringatan Kelahiran ( Maulidun-Nabi) Muhammad saw., setiap kepala keluarga di Kampung Bangka wajib nganggung– membawa dulang tersebut ke masjid kampung. Dicirikan ceramah, dzikir dan do’a tertentu, baru makan bersama.
Terkait dengan semangat melestarikan Tradisi Nganggung, jangan sampai ada anggota masyarakat ( penduduk) kampung yang tidak bergabung tanpa alasan jelas dalam kegiatan tersebut. Bila ada, dengan sendirinya ia akan merasa asing dengan sendirinya. Stigma negatif masyarakat pun mengusiknya dari waktu ke waktu di kampung tersebut. Sikap tersebut dikecam karena bertolak belakang dengan semangat berbagi ( bersedekah) perkuat solidaritas sosial dan bersilaturrahim yang mewujud Tradisi Nganggung. Mari kita lestarikan walaupun dengan cara yang sangat sederhana. Wassalam. (*)



