Oleh: Prof.Dr.Rusydi Sulaiman, M.Ag. ,Alum KMI Darussalam Gontor 1986 & Direktur Madania Center
Bait akhir lagu,”Hymne Oh Pondokku” adalah kata,”Ibuku”, mengingatkan santri dan alumninya ke sebuah lembaga pendidikan ,yaitu: Pondok Modern Gontor di negeri ini, menggiring suasana kejiwaan mereka sehingga terikat kepadanya. Gontor, sebuah desa, menguat didalamnya proses pendidikan membentuk civilized village. Gontor, maksudnya didalamnya terdapat Pondok Modern Gontor. Gontor menjadi sangat familiar. Gontor, ibuku.
Gontor, ibuku, bagaikan orangtua sendiri, tempat membekali ilmu agama dan juga ilmu umum. 100% umum dan 100% umum, tegas KH.Imam Zarkasyi. Tak sebatas itu, keseharian pun terjaga, mulai pagi hingga pagi lagi, diarahkan ke sebuah situasi yang sangat mendidik. Apa yang dilihat, didengar, dirasakan, disentuhkan adalah pembelajaran kehidupan (pendidikan); at-Ta’tsiir bi jamii’l-Mu’atstsiraat al-Latiy nakhtaaruha qashdan linusaa-ida bihath-Thifla ‘alaa ayyataraqqa Jisman, ‘aqlan wa Khuluqan …..” (Pengaruh dari segala pengaruh yang sengaja dipilih untuk membantu anak (peserta didik) agar berkembang/ meningkat fisik, akal dan akhlak …..).
Gontor, ibuku, membentuk santri menjadi pribadi baik dan berintegritas tinggi dengan bekal nilai, ruh atau jiwa, tradisi serta prinsip tertentu. Dalam hal ruh atau jiwa, ibuku menanamkan Panca Jiwa, yaitu: keikhlasan, kesederhanaan, mandiri, ukhuwah Islamiyah, kebebasan. Dalam hal nilai, utamanya nilai-nilai dasar Agama Islam. Berikutnya nilai-nilai lain yang berpijak pada nilai-nilai dasar tersebut. Terdapat lima poin dalam motto sebagai bentuk kekuatan kepribadian santri, yaitu: berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berpikiran bebas dan berjiwa besar.
Gontor, ibuku, memberikan batasan tugas dan kegiatan ( tanziimaat ‘amaliyaat) untuk tujuan pendisiplinan diri dan keteraturan hidup. Bila dilanggar pasti ada sangsi atau hukuman, dan sebaliknya bila dipatuhi,akan diberi reward dan apresiasi. Tidak semuanya diapresiasi agar jaga diri dan tahu diri. Pendisiplinan dimaksud adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya; berbaju olah raga saat olah raga; bersarung dan kopiah hitam saat shalat; berbaju piyama saat tidur; berkemeja dan bercelana saat masuk kelas. Satu atribut yang membedakan guru dari muridnya saat kegiatan belajar-mengajar di kelas adalah dasi.
Dalam hal penanaman prinsip hidup, ibuku menegaskan perlunya keseimbangan antara memelihara atau mempertahankan nilai lama yang baik, dan mengadopsi atau mengambil nilai terdahulu yang lebih baik.” al-Muhaafazhah ‘alal-Qadiimish-Shaalih, wal-Akhdzu biljadiifil-Ashlah”. Modernitas dalam bentuk teknologi tinggi dan ilmu pengetahuan begitu mengusik dan menggoda pihak pesantren. Maka kelompok tersebut harus berani menyikapi dengan cara mempertegas prinsip hidup.Sebuah pesantren dinilai, apakah ia mewarnai, melunak atau terkontaminasi dan terkooptasi oleh pengaruh dari luar. Pesantren adalah pesantren–an indigenous institution, lembaga pendidikan tua khas Nusantara, bukan lembaga formal yang sebatas transmisi ilmu pengetahuan.
Gontor, ibuku, membesarkan jiwa santri dan mendewasakan mereka dengan cara mendelegasikan tugas mengajar dan menjadi pengurus sebuah organisasi, disebut OPPM ( Organisasi Pelajar Pondok Moderen) serta tugas lainnya. Namun, santri tidak hanya dididik untuk memimpin, melainkan juga siap dipimpin. Memimpin berarti lakukan langkah strategis selain ada bekal kekuatan kepribadian dan skill tertentu.
Gontor, ibuku ingin anak-anaknya lebih dari orang lain, maka ia bekali mereka dengan bahasa Asing (Arab dan Inggris). Kemampuan komunikasi mesti didukung dengan Bahasa Asing sehingga dengannya santri dan juga alumni mudah beradaptasi dengan pihak lain. Bahasa adalah kekuatan sebagai salah satu wujud kelakuan dalam kebudayaan. Dan bahasa mengindikasikan seseorang apakah ia berperadaban atau tidak berperadaban. Bukanlah bahasa sebatas alat berkomunikasi, tapi menggiring kita ke beberapa negeri. Utamanya bahasa untuk pendalaman ilmu pengetahuan.
Gontor, ibuku adalah tempat bernaung. Setelah lama terpisah, setiap alumni hampir pasti tergerak untuk kembali karena sense of love ( rasa cinta) terhadap almamater. Juga sense of responsibility, misalnya dengan cara berbuat baik dimana pun, berarti santri dan alumni telah bertanggung jawab terhadap reputasi ibunya, yaitu Pondok Modern Gontor Ponorogo.
Tak terasa, begitu banyak bekal diperoleh selama bernaung bertahun-tahun di dalamnya. “Wa in ta’udduu ni’matallahi, laa tuhshuuhaa” ( bila kalian hitung nikmat Allah, maka kalian tidak dapat menghitungnya). Tak ternilai ilmu yang didapat; tak ternilai nasehat yang didapat; dan tak ternilai segala bentuk didikan yang didapat. Tiada bandingan.
Pondok Modern Gontor bagaikan ibu kandungku. Wassalam. (*)





