Beri Tausiyah di Masjid Muhajirin, Dosen UKM Malaysia Uraikan Pentingnya Keikhlasan

Bagikan

PANGKALPINANG – Mengunjungi sebuah daerah untuk pertama kali kerap memberikan kesan tersendiri. Hal itulah yang dirasakan oleh Dr. Khazri bin Osman, dosen (pensyarah) dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), saat melangkah ke Bumi Serumpun Sebalai, Bangka Belitung.

Tiba di Pangkalpinang pada Minggu sore (18/10/2026) setelah bertolak dari Kuala Lumpur via Jakarta, kunjungan Dr. Khazri kali ini bukan sekadar untuk berwisata, melainkan untuk menjalankan agenda akademis. Ia terlibat dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) guna pendalaman data penelitian bersama tim peneliti Indonesia, yaitu Prof. Dr. Rusydi Sulaiman, M.Ag. (Ketua Peneliti), Gustin, M.Pd., dan Dr. Iqrom Faldiansyah, M.A. Penelitian tersebut mengusung topik “Peran Akademisi Alumni Pondok Pesantren Tradisional di PTKIN: Studi Kasus di Indonesia dan Malaysia”.

Di sela-sela agenda risetnya, akademisi asal Negeri Jiran tersebut juga hadir menyampaikan tausiyah di Masjid Muhajirin, Pangkalpinang. Dalam kegiatan tersebut, ia didampingi oleh Prof. Dr. Rusydi Sulaiman, Guru Besar Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung.

Mengawali ceramahnya, Dr. Khazri menyoroti kedekatan historis dan emosional antara Malaysia dan Bangka Belitung, khususnya dalam pengembangan dakwah Islam sebagai sesama rumpun Melayu di Nusantara.
Lebih lanjut, ia mengupas tiga hikmah utama dari kitab monumental al-Ḥikam karya Ibn ‘Aṭā’illāh al-Sakandarī, yaitu keikhlasan dalam beramal, tawakal dalam menjalani kehidupan, dan kesabaran dalam berdoa. Menurutnya, ketiga konsep ini saling berkaitan erat dalam menghubungkan dimensi akidah, ibadah, dan akhlak.

Terkait nilai keikhlasan, Dr. Khazri membagikan sebuah kisah ikhtibar tentang seorang raja yang membangun masjid megah dan mengukir namanya di sana. Namun, dalam mimpi sang raja, nama tersebut dihapus dan digantikan oleh nama seorang wanita miskin yang hanya pernah memberi minum seekor hewan pengangkut bahan bangunan masjid tersebut.
“Nilai dari suatu amalan tidak semata-mata diukur dari seberapa besar perbuatan tersebut terlihat, melainkan dari keikhlasan hati orang yang melakukannya,” ujar Dr. Khazri.

Pesan-pesan moral dari kitab al-Ḥikam tersebut turut ia kaitkan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Bangka, seperti para petani lada, nelayan, pedagang, dan keluarga yang kerap menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Ia juga mengambil ilustrasi menarik dari penggunaan teknologi CCTV di masjid.

“CCTV mampu merakam perbuatan manusia secara visual, tetapi tidak akan pernah mampu merekam keikhlasan yang tersembunyi di dalam hati,” tambahnya.

Melalui tausiyah ini, jamaah juga diingatkan akan pentingnya sikap tawakal yakni terus berusaha maksimal tanpa dibayangi kegelisahan berlebih akan hasil akhir serta pentingnya menjaga prasangka baik dan tidak berputus asa dalam berdoa.

Sebagai penutup, Dr. Khazri menekankan bahwa penghayatan nilai-nilai agama tidak boleh berhenti pada ritual formal semata. Agama harus mampu membentuk hati yang ikhlas, memberikan ketabahan saat menghadapi ujian, serta memancarkan akhlak terpuji dalam hubungan antarsesama manusia. (*)