MADANIA CENTER BABEL — Masjid hakikatnya adalah tempat ibadah, lebih spesifik shalat lima waktu bukan selainnya, kemudian mengalami perkembangan fungsi seiring dengan perubahan zaman termasuk Masjid Agung Sungailiat yang disingkat MAS.
MAS sejak awal sejarahnya hingga saat dikelola oleh Badan Pelaksana Pengelolaan, yaitu BPP-MAS, berada dibawah naungan Pemerintah Daerah Kabupaten Bangka, berpusat di Kota Sungailiat.

Sebagai masjid, MAS tidak hanya menangani rutinitas ibadah, tetapi (ia) melebihi standar rumah ibadah. Begitu banyak kegiatan keagamaan yang diprogramkan termasuk kajian rutin mingguan dan juga bulanan yang mengikutsertakan narasumber kompeten.
Rusydi Sulaiman, Guru Besar IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung adalah salah satunya, dipercaya mengajarkan materi Sejarah Peradaban Islam.
Alhamdulillah kajian bulanan sejarah tersebut sudah dimulai di pekan kedua bulan Juni, tepatnya Ahad malam (ba’da Shalat Maghrib hingga waktu Isya’), 15 Juni 2025. Nampaknya para peserta adalah jama’ah rutin MAS. Mereka sangat antusias mencerna materi yang disampaikan.

Dalam kajian perdana tersebut, Rusydi menyampaikan pengantar sejarah. Sejarah yang dalam Bahasa Inggris disebut ,”history” atau previous event” (peristiwa atau kejadian masa lampau), terderivasi dari kata dalam bahasa Arab, yaitu: “taarikh” atau “syajarah” (pohon) dan atau nasab dan silsilah. Sejarah berhubungan dengan masa lalu.
“Bahwa sesuatu yang bersifat masa lalu (sejarah) merupakan masa kini (nowadays) dan masa akan datang (the future),” kata Direktur Madania Center Bangka Belitung itu.
Selanjutnya, tegas Rusydi, ketika sejarah bersumber pada fakta dan data, maka beberapa sinonim dapat digunakan, diantaranya: “qishshah” (kisah),”naba’ “, “Khabar” atau “ikhbaar”, “nasyrah” ( berita), “hikaayah”, “riwaayah”, “usthuurah” dan “siirah” ( riwayat , ulasan atau cerita). Terma lain juga dapat digunakan, yaitu: “haaditsah”, “waaqi’ah”, “haal atau ahwaal” (peristiwa).
“Apapun bentuknya, sumber sejarah mesti digali sesuai yang sesungguhnya terjadi, disebut objektifikasi. Jangan ia kemudian dibiaskan dan atau disimpangkan (Subjektifikasi),” jelasnya.
Rusydi selanjutnya mengajak para hadir; ” mari kita berbuat baik dan meningkatkan kebermanfaatan fungsi kemanusiaan kita sebagai upaya menoreh sejarah baik”. ” Khairun-Naas Anfa’uhum lin-Naas wa Ahsanuhum khuluqan”.
“Mudah-mudahan mudahan pengurus MAS tetap semangat dalam menangani kegiatan keagamaan semacam ini untuk penguatan peradaban Islam,” harapnya. (*).





