MADANIA CENTER BABEL — Bangka Selatan yang dulunya Toboali merupakan wilayah yang secara geografis sangat strategis dan memiliki banyak potensi alam (SDA).Sejak tahun 2003, Bangka Selatan berbentuk kabupaten sebagai bagian dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Selain itu kabupaten tersebut memiliki banyak SDM di beberapa bidang keahlian yang mencirikan daerah tersebut, namun dalam sejarahnya peran mereka tidak begitu dikenal, khususnya oleh generasi belakangan. Sinergitas antara dahulu ( the previous), sekarang (nowadays/ to day) dan akan datang (The future) sangat diperlukan. Hal-hal terdahulu apalagi terkait jasa dan kontribusi tokoh terdahulu mesti dikenang dan diapresiasi oleh generasi saat ini dan generasi berikutnya. Tanpa mereka pastinya hampa dan belum tentu ada dan bermakna. Literasi adalah langkah untuk mengungkapkannya.

Dalam konteks itu dan secara umum untuk tujuan penguatan peradaban, Madania Center Bangka Belitung menggagas penulisan sejarah Bangka Selatan (Toboali) dan biografi tokoh-tokoh lokal. Rusydi Sulaiman, Direktur Madania Center tersebut, bahwa hal ini penting dan berharap Pemerintah Daerah peduli terhadap kegiatan ilmiah tersebut.
Pada hari Senin, 10 Nopember 2025, Rusydi Sulaiman yang juga Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung bersama Endang Kusniati, M.A., koordinator MCpress bertemu Bupati Bangka Selatan, H.Riza Herdavid, D.T.,M.Tr.IP. yang saat itu didampingi oleh Wakil Bupati, Hj.Debby Vita Dewi, S.E., M.M., Sekretaris Daerah, Hefi Nuranda, S.T.M.M.M., Plt.Kepala Perpusda dan Kearsipan Husni dan semua Kepala OPD Bangka Selatan di ruang rapat Bupati ba’da Maghrib di sela rapat.

Siang hari sebelumnya Direktur Madania Center sudah membahas rencana kegiatan dimaksud bersama Madam Debby, didamping Nuranda di ruang Sekda Bangka Selatan. Sore harinya bertamu ke rumah Nanda Nur Amalia, alumni IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung di pusat kota Toboali.
Intinya Rusydi Sulaiman apresiasi pemerintah daerah atas dukungannya terhadap semangat literasi. Menulis biografi tokoh itu mesti untuk dikenang, tambahnya. (*)





