Serial Khutbah Jum’at di Masjid Agung Sungailiat, Rusydi Sulaiman: Jaga Muru’ah untuk Dapatkan Keberkahan Negeri

Bagikan

MADANIA CENTER BABEL — Selain substansi ibadah yang menunjukkan hakikat sesungguhnya dalam konteks hubungan manusia kepada khaliqnya, Allah Swt., hal-hal yang melekat pada diri setiap orang beragama berupa simbol atau atribut keagamaan juga perlu dipertimbangkan. Dalam ibadah shalat misalnya ada sarung, jubah, celana dan lainnya tidak juga dipersoalkan bentuknya, namun yang utama adalah atribut itu menutup aurat (satrul-‘Aurah). Atribut pelengkap seperti kopiah, sorban dan tasbih bila tidak digunakan, tidak juga membatalkan shalat tersebut.

Atribut keagamaan itu perlu untuk tujuan membedakan dan juga memilah sehingga diketahui sebelum disikapi. Dikira imam, ternyata makmum; dikira kyai ternyata supirnya; dikira mahasiswa ternyata dosen. Masing-masing beratribut yang mencirikan simbol keagamaan tertentu yang bernilai sehingga terjaga.

Menyikapi hal itu, Rusydi Sulaiman, Direktur Madania Center Bangka Belitung mengangkat tema “Muru’ah” dalam khutbahnya hari ini, Jum’at, 18 juli 2025 di Masjid Agung Sungailiat Bangka.

Menurutnya, ada beberapa atribut keagamaan warisan Atok- Nek di Bangka sebagai wujud nilai kearifan lokal. Kopiah atau Songkok Resam misalnya yang selalu dipakai saat shalat di masjid dan juga di tempat tertentu dalam kegiatan keagamaan. Songkok dari bahan akar resam tersebut juga dipakai di kantor, di kampus bahkan saat di pasar karena simbol kebaikan tersebut melekat dan mencirikan simbol Melayu Bangka.

Demikian juga atribut seperti telesan, yaitu sehelai kain putih yang diikatkan atau dililitkan di pinggang utk menutup aurat laki-laki dan juga hingga batas dada ke bawah lutut untuk menutup aurat perempuan saat mandi di sungai (Aek) di setiap kampung Bangka. Dikarena sudah terbiasa, di kamar mandi tertutup, orangtua di Bangka tetap memakai telesan.

Rusydi Sulaiman yang juga ketua Bidang Fatwa dan Penelitian MUI Bangka Belitung juga mengutip QS.Al-Ahzaab(33):22 dan beberapa Hadits serta beberapa pendapat ulama tentang adab, alkhlak dan Muru’ah sebagai pijakan kelayakan pemakaian Songkok Resam dan Telesan bagi orang Bangka.

“Hal tersebut digagas oleh Atok-Nek sebagai bentuk nilai kearifan lokal Bangka untuk menjaga kehormatan diri, baik di hadapan Allah maupun di mata manusia,” tambahnya.

Bila hal tersebut berlangsung dari generasi ke generasi, maka keberkahan akan dilimpahkan kepada penduduk negeri termasuk yang berdomisili di kepulauan ini, sebagaimana disebutkan dalam QS.Al-A’raaf (7): 96)–artinya: ” Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang mereka kerjakan”.Wassalam. (*)