Workshop Kurikulum Pascasarjana Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo Jawa Timur, Rusydi Sulaiman: Prodi Studi Islam (Strata-3) adalah Pijakan untuk Menjadi Lebih Akademis

Bagikan

MADANIA CENTER BABEL — Diketahui bersama bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan khas Nusantara (an indigenous institution) yang sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka dan faktanya masih bertahan hingga sekarang. Sejumlah pesantren melampaui pesantren lainnya dalam bidang tertentu; mengelola beberapa tingkatan pendidikan hingga perguruan tinggi.

Pondok Pesantren Nurul Jadid yang berlokasi di Desa Karanganyar (Tanjung) Paiton Probolinggo adalah salah satu yang dimaksud. Lembaga ini memiliki perguruan tinggi, bernama UNUJA (Universitas Nurul Jadid) dengan beberapa fakultas dan Program Pascasarjana (magister). Alhamdulillah tahun ini turun izin pembukaan Prodi Studi Islam (s-3); pijakan untuk menjadi lebih akademis, maka diperlukan landasan  konseptual dan langkah strategis untuk mewujudkannya.

Menyikapi hal tersebut pada hari ini, Sabtu 23 Agustus 2025, UNUJA, khususnya pengelola Program Pascasarjana selenggarakan workshop kurikulum, mengundang tiga guru besar sebagai reviewer, yaitu: Prof.Dr.Babun Suharto, S.E., M.M., Mantan Rektor UIN KH.Achmad Siddiq Jember; Prof.Dr.M.Dahlan, M.Ag., mantan Direktur Program Pascasarjana UIN  KH.Achmad Siddik Jember; dan Prof.Dr.Rusydi Sulaiman, M.Ag., Dekan FDKI IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung–ketiganya diharapkan kontribusi pemikirannya untuk penguatan kelembagaan UNUJA.

Workshop di Hari Sabtu tersebut dihadiri oleh wakil rektor, Nur Fadli Hidayat, M.Kom. (mewakili Rektor, Dr.KH.Najuburrahman, M.A), Direktur Pascasarjana, Dr.H.Akmal Mundiri, M.Pd., Kaprodi PAI, Dr.H.Umar Manshur, M.A. dan beberapa dosen yang tergabung dalam Tim Perumus kurikulum.

Usai paparan singkat pengelola tentang profil dan rumusan awal kurikulum, para reviewer memberikan masukan sebagai bentuk penyempurnaan. Babun Suharto singgung  istilah ,”Berbasis Pesantren”?, karena program studi tersebut memang sudah di pondok pesantren. Beberapa hal seperti: sebaran Matakuliah di smester awal dengan prodi lain, kesiapan pendanaan, distinksi program studi, dll. perlu dicermati. Juga M.Dahlan mengkritisi sebaran Matakuliah sehingga selaras dengan prodi Studi Islam. Bila berbasis pesantren, maka setiap Matakuliah bermuatan kajian pesantren,  dan perlu studi banding ke perguruan tinggi lain yang memiliki prodi sama, tambahnya.

Sebagai reviewer, Rusydi Sulaiman mengusulkan beberapa hal, yaitu:  pertama, visi misi Pascasarjana tetap mengacu ke visi misi UNUJA dengan ciri khas tertentu, misalnya berbasis pesantren atau berbasis kearifan lokal; kedua, kepastian Matakuliah inti sejumlah 4-5 Matakuliah ( metode penelitian, Islam sebagai eks dan konteks, seminar proposal, dan atau lainnya); ketiga, capaian pembelajaran diselaraskan dengan tahapan tugas bagi mahasiswa selama studi; keempat, kepastian guru besar sebagai ketua tim teaching dan atau doktor yang dinilai produktif menulis, dll. Menurutnya, program doktor yang dibuka pastinya memberi kesan sangat akademis, dan hal itu melekat pada UNUJA.

Alhamdulillah workshop  yang dibuka oleh Wakil Rektor, Nur Fadli Hidayat, M.Kom berjalan lancar. Para peserta pun berdiskusi, menanggapi masukan ketiga reviewer. Mudah-mudahan UNUJA tetap menyentuhkan sinar baru bagi masyarakat. Wassalam. (*)