MADANIA CENTER BABEL — Agama hakikatnya adalah privat bila menyangkut hubungan seorang hamba dan Tuhannya, tapi ia kemudian berkembang karena agama disentuhkan kepada hal-hal bersifat sosial dan lainnya (system of social relationship) Agama, keagamaan, keberagamaan dan keberagaman kaitannya dengan sikap penganut agama kemudian menjadi fenomena menarik, dan hal tersebut menjadi kansern FKUB (Forum Kerykunan Umat Beragama).
Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, di tahun ini, tepatnya 13-14 September 2025, FKUB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung selenggarakan workshop pemuda/i, perempuan lintas agama dan rapat koordinasi daerah FKUB se Bangka Belitung dengan tema,”Memaknai Cinta dan Wujudkan Masyarakat Harmonis di Bumi Serumpun Sebalai” di Belitong Resort Pasir Padi Pangkalpinang. Beberapa narasumber di sesi dialog pertemanan terdiri dari utusan beberapa instansi, yaitu: Polda Bangka Belitung, Kesbangpol Bangka Belitung, Densus 88 dan Kanwil Kemenag RI.Bangka Belitung. Adapun di sesi dialog kedua, terdiri dari beberapa tokoh agama sekaligus pengurus FKUB Provinsi Bangka Belitung termasuk Prof Dr.Rusydi Sulaiman, M.Ag.

Guru besar tersebut secara spesifik membahas tentang Ekoteologi dan Keberlangsungan Peradaban. Maksudnya hubungan keyakinan agama dan lingkungan mesti sinergis. Maka dari itu perlu sentuhan spiritual dan etis dari penganut agama terhadap lingkungan. Menurutnya, agama apapun yang dianut, seseorang harus berpijak pada kitab suci yang bersumber dari Tuhan, lalu lakukan langkah berperadaban. Keberlangsungan peradaban berikutnya tidaklah total-break dari peradaban sebelumnya.
Lima narasumber sebelumnya, yaitu: pertama, Romo Marcelinus Gabriel (Katholik) menekankan tentang kasih dan harmonisasi umat beragama. Kasih dalam diri Tuhan dipancar kepada manusia, maka manusia harus perkuat hal itu; kedua, Pdt.Sanema Aro Zagoto (Kristen Protestan) membahas tentang keindonesiaan dan perjuangan untuk kemerdekaan NKRI pastinya berpijak pada cinta dan kasih diantara mereka; Cinta dan kasih adalah kunci menuju harmoni; ketiga, Js. Jhoni Priadi (Konghuchu) mengurai tentang hidup dalam jalan suci. Watak sejati manusia harus diperkuat menuju Tuhan. Jalan suci adalah agama yang meluruskan kehidupan manusia; keempat, Charlie Sendra Budhi (Buddha) menegaskan bahwa manusia berasal dari sumber yang sama dan sudah semestinya bersinergi. Ketika unsur-unsur yang diperlukan misalnya rumah, maka masing-masing mengikat menuju keutuhan; kelima,I Made Sudiesa ( Hindhu) membahas tentang Tricita Karana, yaitu: hubungan baik dengan Tuhan, hubungan baik sesama (kasih sayang) dan hubungan baik manusia dengan alam.Hal tersebut mesti diperkuat dengan tiga kebaikan dalam diri manusia menuju pribadi sempurna.
Walaupun waktu yang disediakan untuk enam narasumber dari beberapa agama sedikit, namun semuanya sampaikan materi dengan baik dalam perspektif agama masing-masing , berpijak pada tema besar, “memaknai cinta dan wujudkan masyarakat harmoni”. Para peserta pun antusias hingga akhir sesi dialog kedua pada jam 23.00 wib. malam itu.
Selain dua sesi dialog, ada kegiatan lain melekat, yaitu: pelantikan pengurus pemuda/i lintas agama, rakorda, deklarasi kerukunan, senam pagi dan out-bound. Alhamdulillah lancar sesuai rencana. Salam, rukun, rukun, rukun!





