Oleh: Rusydi Sulaiman, Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung & Direktur Madania Center
“Bila ada kata salah dan khilaf dalam sambutan tadi, saya mohon ma’af yang sebesar-besarnya”, Demikian kalimat yang disampaikan oleh hampir setiap orang sebelum menutup sambutan. Artinya kata ma’af selalu diselipkan sekalipun tidak juga seseorang salah. Hanya ia merasa bersalah dan khawatir ada yang salah–mengakui akan kelemahan dan keterbatasan dirinya.
Manusia siapapun orangnya, dipastikan pernah khilaf dan berbuat salah, baik disengaja maupun tidak disengaja. Jangan-,jangan diantara kita ada yang sengaja berbuat dosa sebelumnya atau mungkin pernah bergelimang dosa–pengalaman pahit dalam kehidupan. Na’uudzu Billah.
Ketika kesalahan itu terjadi, maka persentuhannya dengan orang lain; sahabat, orang dekat atau kerabat, rekan kerja, orang lain dan atau orang yang belum dikenal sebelumnya. Kesalahan tidak berdiri sendiri, tapi pasti ada faktor penyebabnya walaupun yang berbuat tidak tahu titik kesalahan tersebut. Berikutnya orang yang berbuat salah diharapkan mencari solusi atas kelengahannya tersebut, apakah ia lebih berhati-hati agar kesalahan sebelumnya tak terulang kembali; berniat tidak mengulanginya lagi bila kesalahan sebelumnya disengaja; berusaha menemui orang lain terkait dengan kesalahannya–kesemuanya bentuk tanggung jawab moral orang baik ketika ia menginginkan kebaikan dalam dirinya dan agar terjalin hubungan baik lagi dengan yang bersangkutan.
Agak dilema memang ketika orang yang pernah berbuat salah tidak merasa bersalah, dan tidak juga mengakui kesalahannya. Dan akan sangat fatal bila kesalahan tersebut dituduhkan ke orang lain yang sebenarnya tidak pernah berbuat salah. Bisa jadi keduanya sama-sama telah berbuat salah. Baiknya, kita tidak saling menyalahkan satu sama lain. Menuduh orang lain bersalah sangat tidak baik apalagi tidak didukung argumen kuat.
Ada baiknya setiap orang mengevaluasi keberadaan dirinya, apakah ia pernah lalukan kesalahan terhadap dirinya dan atau terhadap orang lain. Terkadang orang lain memaklumi dan mema’afkan kesalahan kita. Sebaliknya, terkadang orang lain enggan mema’afkan karena besarnya kesalahan yang diperbuat terhadap dirinya.
‘Alaa Kulli haal, “wa’fu ‘amman Zhalamaka”, maafkan orang yang pernah bersikap zhalim terhadap dirimu. Setidaknya sikap baik tersebut meringankan bebanmu dari berpikir negatif kepadanya. Orang tersebut merasa ringan karena kamu telah mema’afkannya. Secara bertahap ia pasti menyadari kesalahannya. Bila ia bijak, maka ia akan sempatkan menemui untuk meminta ma’af.
“Laa yahillu lirajulin ayyahjura akhaahu fauqa tsalaatsi layaalin. Yaltaqiyaani, faya’ridhu haadza wa ya’ridhu haadza. wa khairuhumaa yabda’u bis-Salaami”
[14/7, 15.17] Abi Rusydi: Artinya: “Tidak boleh bagi seseorang tidak bertegur sapa dengan saudaranya lebih dari tiga hari. Keduanya bertemu tapi saling berpaling. Yang terbaik diantara keduanya adalah yang memulai ucapan salam”.
Faktanya, minta ma’af dan menyadari kesalahan juga mema’afkan orang lain tidaklah mudah. Dan kita tidak memaksa siapapun karena mereka yang mengalaminya. Mungkin saja sangat fatal sehingga keduanya sangat sulit dipertemukan apalagi minta msa’af dan saling mema’afkan. Sebatas menganjurkan orang yang berbuat salah menjadi lebih baik. Berbuat baik itu tidak juga mudah, tapi mengaku baik dan lebih baik dari orang lain sangatlah mudah. Orang baik dan bijak pasti mema’afkan dan berusaha melupakan hal-hal yang tidak dan kurang baik terkait dirinya. Bila teringat akan hal tersebut, maka ia bermuhasabah dan kemudian berazam menjadi lebih baik.
Minta ma’af dan mema’afkan tidak sebatas diniatkan, melainkan dibuktikan dengan tindakan nyata dalam keseharian. Paling lama tiga hari, masing-masing harus bertegur sapa sebagaimana ditegaskan. Bila tidak, maka hal itu menjadi hambatan tertentu di dunia dan jalan menuju akhirat. ” “Walal-Aakhiratu laka minal-Uulaa” (dan kehidupan akhirat itu lebih baik daripada kehidupan dunia). Hal-hal duniawi bersifat sementara, maka berbaiklah terhadap diri sendiri dan orang lain. Mema’afkan, lebih baik. Wassalam. (*)





