Bersilaturrahim dan Dialog Khusus dengan Pengasuh dan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Amien Madura, Rusydi Sulaiman Uraikan Sejarah Islam di Bangka Belitung

Bagikan

MADANIA CENTER BABEL — Sudah cukup lama tidak keluar Pulau Bangka, baik sebagai pribadi maupun sebagai Dekan FDKI ( Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung disebabkan oleh beberapa alasan, kecuali untuk tujuan yang sangat mendesak.

Kali ini ni Dekan FDKI tersebut yang juga Direktur Madania Center memutuskan untuk pergi, melepas lelah dari kesibukan harian selain untuk dampingi H. Idham Supri dan istrinya mondokkan anak ketiganya, Jihan Dzikra Khoiriyah ke Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Madura. Turut serta Quratul Faisah, Madam Rusydi Sulaiman.

Direktur Madania Center dan rombongan  yang didampingi Namlul Wadi, guru Al-Amien asal Bangka yang  sedang studi S-2 di UIN (Universitas Islam Negeri) Malang Jawa Timur  sempat mengitari lingkungan pesantren yang  tergolong  modern di Madura. Malamnya mereka sempatkan bersilaturrahim dengan al-Mukarram Dr. KH. Ahmad Fauzi Tijani, M.A pengasuh dan pimpinan pesantren tersebut.

Tak disangka, begitu intens dialog malam itu terkait dengan nilai, ruh dan prinsip kepersantrenan dan pengaruh luar yang mesti diantisipasi. Rusydi pun uraikan sejarah Islam di Bangka Belitung sekaligus berharap dukungan moral terkait penguatan Islam di Bumi Serumpun Sebalai tersebut.

Ia pun menegaskan obsesinya untuk membesarkan kelembagaan Madania Center Bangka Belitung, lebih spesifik perpustakaannya. Tambah Guru Besar dalam Kepakaran Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, bahwa tidak mudah menggagas literasi dan mempertahankan prinsip keliterasian tersebut.

Sebagai bentuk komitmennya, Rusydi Sulaiman memberikan dua buku ke pengasuh dan pimpinan pesantren tersebut, sebaliknya  kyai Fauzi menyerahkan beberapa buku karya alumni Al-Amien tentang biografi pendiri dan pimpinan lembaga khas Nusantara tersebut.

Pondok Pesantren Al-Amien tetap berusaha mempertahankan  karakteristiknya sebagai lembaga pendidikan di tengah dinamika zaman. Literasi sangat menjadi perhatian tersendiri. Hingga kita di setiap tahun, santri menjelang kelulusannya diwajibkan menghasilkan karya tulis  yang diterbitkan, tegas pengasuh dan pimpinan Al-Amien tersebut. (*)