Oleh: Abu Darda_ abudarda@unida.gontor.ac.id
Islamisasi ilmu pengetahuan lahir dari sebuah kesadaran kritis: sains modern tidak pernah benar-benar netral. Di balik jubah objektivitasnya, sains Barat—khususnya arus utama positivisme dan saintisme—tumbuh dengan melepaskan ilmu dari nilai spiritual. Paham ini mendogmakan bahwa satu-satunya kebenaran adalah apa yang dapat diukur secara fisik. Kendati demikian, pandangan dunia (_worldview_ ) Islam tidak menolak seluruh pemikiran Barat secara buta, melainkan mengkritik cara pandang yang menyempitkan hakikat realitas.
Dinamika Diskursus: Dari Internasional hingga Indonesia
Gugatan terhadap positivisme ini melahirkan beragam respons. Syed Muhammad Naquib al-Attas menekankan dewesternisasi konsep dan bahasa keilmuan. Ismail Raji al-Faruqi memilih perombakan kurikulum melalui 12 langkah metodologis. Sementara Seyyed Hossein Nasr mengajak kembali ke sains sakral (_scientia sacra_).
Di Indonesia, gagasan ini berkembang dalam beberapa model:
Islamisasi Ilmu Pengetahuan (UNIDA Gontor): Mengadopsi pemikiran Al-Attas dan Al-Faruqi dengan menyaring nilai sekular dan menginfusi konsep kunci Islam ke dalam kurikulum perguruan tinggi.
Integrasi-Interkoneksi (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta): Dipelopori oleh Amin Abdullah melalui analogi Jaring Laba-laba Epistemologis, yang menghubungkan ilmu agama, sains modern, dan ilmu sosial-humaniora agar saling berdialog.
Pengilmuan/Ilmuisasi Islam (UGM & Kuntowijoyo): Bergerak dari teks (Al-Qur’an) menuju realitas empiris untuk membangun teori keilmuan objektif. Meskipun Kuntowijoyo menggunakan pendekatan bottom-up yang berbeda dari metodologi Islamisasi top-down, keduanya bertemu pada cita-cita yang sama: membebaskan sains dari dogma saintisme.
Arus penolakan pun mengemuka. Tokoh internasional seperti Pervez Hoodbhoy dan Abdus Salam menegaskan bahwa hukum sains bersifat universal tanpa memandang agama penemunya. Fazlur Rahman mengingatkan risiko islamisasi yang dangkal jika tidak didasari penguasaan sains mendalam. Di tingkat nasional, Nurcholish Madjid dan Harun Nasution menyoroti risiko eksklusivisme dan menekankan pentingnya etika kemanusiaan universal.
Potret dari Ruang Praktikum: Pembongkaran Asumsi Keilmuan
Bagaimana gambaran islamisasi ilmu ini dalam realitas praktik pendidikan? Kemarin malam, dalam dialog bersama mahasiswi PAI semester 6 yang baru saja menyelesaikan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), saya bertanya:
“Bagaimana kalian melihat islamisasi ilmu pengetahuan saat kalian praktikum mengajar?”
Mahasiswa diam dan berpikir. Saya melanjutkan memandu: “Ilmu apa saja yang menjadi landasan kalian selama melakukan pembelajaran?”
Jawaban meluncur deras: ilmu pedagogi, administrasi pendidikan, pengembangan kurikulum, psikologi perkembangan anak, hingga sosiologi pendidikan.
Lalu saya teruskan, “Apakah kalian merasakan ada sesuatu yang janggal dari ilmu-ilmu tersebut?”
Mahasiswa tidak merasakan kejanggalan apa pun. Di sinilah pentingnya pembongkaran filosofis atas tiga aspek utama:
1. Aspek Ontologis (Hakikat Realitas)
Dalam psikologi dan pedagogi sekular-positivistik, peserta didik dipandang murni sebagai makhluk fisik-biologis dan sosial yang dibentuk lingkungan semata. Namun dalam worldview Islam, hakikat manusia dan realitas melampaui alam fisik (_al-syahadah_ ) hingga mencakup alam gaib (_al-ghayb_). Manusia lahir membawa _fitrah,_ serta memiliki _qalb_ (hati), _nafs_ (jiwa), dan _ruh_. Saat menghadapi siswa yang melanggar aturan, pendekatan Islam tidak berhenti pada manipulasi perilaku lahiriah (_behaviorism_ ), tetapi menyentuh pembersihan jiwa (_tazkiyatun nafs_ ) dan kesadaran fitrahnya.
2. Aspek Epistemologis (Sumber Pengetahuan)
Islam tidak membuang metode empiris, pengamatan, atau uji laboratorium. Yang ditolak adalah dogmatisme saintisme yang menafikan wahyu. Dalam praktikum, mahasiswa diajak menggunakan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai landasan epistemis tanpa terjebak pada cocoklogi—yaitu sekadar menempelkan ayat Al-Qur’an secara instan pada teori Barat yang sudah ada.
3. Aspek Aksiologis (Orientasi Nilai dan Etika)
Kita perlu membedakan antara krisis etika sains dengan krisis moral personal (seperti kasus korupsi atau penyimpangan individu). Jika mahasiswa PAI ditanya tujuan PPL, jawaban paling umum adalah demi menjadi guru profesional dan pada akhirnya mendapat upah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Secara aksiologis, orientasi ini perlu ditarik ke dimensi ukhrawi: bahwa profesi guru adalah jalan halal, menafkahi keluarga adalah ibadah, dan praktikum ini adalah sarana memohon keridaan Allah SWT.
Metode Islamisasi: Pengalaman UNIDA Gontor
Di UNIDA Gontor, pembentukan kesadaran ini diwujudkan secara holistik:
Kesadaran Etik dan Moral: Dibangun melalui pembiasaan kegiatan spiritual dan pengabdian sosial Dema.
Kesadaran Intelektual: Diasah melalui riset ilmiah, penerbitan jurnal, penulisan buku, serta pembelajaran yang kritis.
Tradisi Dialogis: Dihidupkan melalui dialog interaktif seusai salat berjemaah Subuh dan Magrib untuk mentransformasikan ibadah menjadi daya kritis ilmiah.
Kreativitas dan Ekspresi Diri: Diwadahi melalui kegiatan seni berkarakter, seperti Alhambra Art Show.
Catatan untuk Para Ilmuwan
Sudah saatnya para akademisi dan ilmuwan mengambil _helicopter’s overview_ —terbang tinggi sejenak untuk melihat lanskap keilmuan secara utuh. Jangan sampai kita terjebak dalam kacamata kuda spesialisasi yang sempit hingga kehilangan arah etis dan makna spiritual dari ilmu yang kita tekuni. Dengan memandang dari ketinggian, kita dapat memastikan ke mana ilmu ini bermuara: sekadar memuaskan dahaga materialis-teknologis, atau benar-benar membawa kemaslahatan hakiki bagi bumi dan manusia.
Wallahu a’lam bish-shawab
Unida Gontor Putri, 15 Jumadil ula 1448/ 26 Oktober 2026





