Oleh: Rusydi Sulaiman, Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam & Direktur Madania Center
Keluar rumah, bepergian ke daerah tertentu yang diobsesikan pastinya sangat menyenangkan. Namun hal itu tidak mudah digapai karena hubungannya dengan kesiapan fisik, mental dan juga ketercukupan biaya serta kebersahajaan orang terdekat, apakah isteri atau sebaliknya, anak dan lainnya sebelum keberangkatan.
Bagaiman bila tujuannya ke luar negeri–negara yang belum pernah dikunjungi sebelumnya?, sudah pasti senang dan bertemu dengan sesuatu yang baru di negara tersebut. Diasumsi banyak pernak pernik yang akan diceritakan kepada kerabat, kolega dan atau lainnya sepulang ke kampung halaman.
Tidak usah jauh, Malaysia misalnya sebagai Negeri Jiran yang dikunjungi, faktanya begitu banyak perbedaan dengan situasi di negeri ini walaupun keduanya berasal dari satu rumpun, yaitu Melayu Nusantara. Misalnya, sistem kolonialisasi Inggris atas Negeri Jiran tersebut berbeda dengan pengaruh kolonial Fortugis, Belanda, Inggris dan Jepang terhadap Indonesia. Dipastikan begitu panjang pengorbanan masing-masing sehingga menjadi negara merdeka dan berdaulat. Faktanya, hampir setiap warga negara Malaysia mampu berbahasa Inggris selain Bahasa Melayu.
Akhirnya situasi kekinian di Malaysia sedikit banyak dapat dijadikan contoh, berikutnya diadopsi untuk tujuan peradaban masyarakat. Di dunia pendidikan misalnya, begitu kuat dukungan pemerintah terhadap lembaga pendidikan. Kampus-kampus di Negeri Jiran tersebut memberi nuansa akademik cukup dominan disertai dengan gedung perpustakaan yang representatif. Tidak mudah bagi setiap orang untuk menjadi dosen ( Pensyarah), kecuali ia memenuhi kualifikasi. Untuk naik ke jenjang jabatan fungsional Associate Professor (Lektor kepala) misalnya, seorang pensyarah disyaratkan memiliki 4 artikel (Scopus) selain keterpenuhan aspek akademis lainnya. Dosen yang tidak memenuhi syarat dan terindikasi malas, maka ia akan ditegur oleh bagian konseling perguruan tinggi. Sangat mungkin seorang pensyarah diberhentikan dari profesinya bila ia benar-benar sudah melanggar. Dan adapun tugas tambahan seperti jabatan struktural seperti rektor, dekan dan atau lainnya tidaklah menjadi tujuan utama.
Hal lain yang mencirikan kedisiplinan kuat di kampus sekolah dan perguruan tinggi, diantaranya adalah: tidak seorang pun merokok di area kampus yang luas (puluhan hektar); lahan parkir yang rapi. Bila menyalahi, maka sekuriti kampus menguncinya dengan denda 50 Ringgit ( tidak dibayar tunai). Juga tidak ditemukan warung atau kafe di sekitar kampus kecuali kantin khusus milik perguruan tinggi tersebut. Di waktu perkuliahan, tidak ada kelas kosong, tapi semua berjalan sesuai aturan. Dalam sebuah rapat misalnya, seorang dosen hadir sebentar, lalu mohon izin karena ia harus mengajar tepat waktu. Setiap pertemuan berlangsung atas dasar apointment yang jelas. Bila terlambat, seseorang akan memberitahu sebelumnya bahwa ia terlambat karena satu hal.
Sejak berkuasanya Anwar Ibrahim sebagai Perdana Menteri, aspek keagamaan sangat dipedulikan, termasuk sarana prasarana yang melekat juga kenaikan gaji cukup signifikan bagi pengabdi agama. Namun, tidak mudah bagi seseorang untuk disebut tokoh agama se-kelas Tuan Guru dan Mufti, karena ada standarisasi tertentu. Terdapat beberapa lembaga agama setingkat diploma yang dibiayai penuh oleh pemerintah untuk membentuk generasi berperadaban. Darul Qur’an misalnya, sebuah lembaga diatas 100 ha. luas kampus yang kansern di bidang keilmuan Al-Qur’an milik Kerajaan di salah satu negeri ( provinsi) di Malaysia. Mahasiswa menetap di asrama kampus tersebut.
Dalam hal sarana prasarana negara, terbentang jalan tol tanpa pungutan yang menghubungkan antar negeri ( propinsi) kecuali di titik tertentu. Juga pengendara selalu merasa nyaman di perjalanan karena hampir tidak ada halangan. Misalnya, tidak ditemukan pengemis dan pengamen di setiap titik lampu merah ( traffic light). Lebih menarik lagi, ketika tidak ada juru parkir di lahan parkir pusat perbelanjaan dan fasilitas umum.
Memang berbeda dengan yang pernah dihadapi sebagian orang selama ini. Sesuatu yang baru dialami pastinya berbeda dengan sebelumnya. Mau tidak mau seorang pendatang harus siap terhadap perbedaan. Itulah keragaman dalam kehidupan.” The variety is the spice of life” ( keragaman adalah bumbu kehidupan).Perbedaan dan keragaman tersebut menguji kita. Bila tegar dan teratasi menjadikan seseorang bertambah bijak.
Sebaliknya, agak bermasalah bagi seseorang yang kedatangan tamu terbiasa hidup penuh disiplin sementara ia sendiri tidak disiplin. Sebaiknya ia menyesuaikan diri, berusaha memberi pelayanan dengan sebaik-baiknya agar timbulkan kesan baik baginya. Intinya masing-masing pihak saling menghargai satu sama lain sehingga kenyamanan pun terwujud. Wassalam. (*)





