TERPANGGIL KE GONTOR; Laksana Ibu Kandung Ku

Bagikan
Oleh: Prof.Dr.Rusydi Sulaiman, M.Ag., Alumni 86 KMI Darussalam Gontor & Direktur Madania Center

Jauh sebelum panitia pusat peringatan Satu Abad Gontor, para alumni telah menghitung bilamana tepatnya pelaksanaan puncak kegiatannya. Mereka juga memperhitungkan kesiapan waktu dan juga finansial untuk hadir ke almamaternya tersebut. Sangat berbeda antusiasme alumni Gontor terhadap pondoknya dibandingkan dengan sikap alumni sebagian pesantren lain. Mungkin karena waktu peringatannya juga tidak setiap tahun, tapi setiap beberapa tahun, setiap dekade, setiap sepuluh tahun, beberapa windu bahkan setengah abad (50 tahun) dan delapan windu). Tidak ada juga istilah haul pendiri atau pengasuh yang telah berpulang (wafat). Saat ini adalah peringatan satu abad atau seratus tahun, maka wajar saja suasana psikologis tertentu terjadi–wajib berangkat.

Sebagai salah satu alumni, yaitu 86 Connection, saya pun terpanggil ke Gontor; laksana ibu kandung ku–begitu bunyi salah satu bait lagu Hymne Oh Pondok Ku. Tidak hanya ke Gontor, akan tetapi muncul rasa kangen ingin bertemu teman-teman seperjuangan saat di pondok dulunya. Pastinya sulit diurai dengan kata-kata, karena seabrek pengalaman yang dialami, apakah suka maupun duka. Tentu banyak pahitnya dan penuh pengorbanan. Suasana pondok adalah lingkungan yang sengaja dibentuk untuk menempa mental, membentuk kepribadian untuk menjadi generasi berperadaban. Selain itu juga ada semangat ingin mengetahui bagaimana kondisi teman-teman alumni setelah 40 tahun tak bersua. Sehatkah mereka, karena hampir semua sudah berusia 60 tahun bahkan lebih. Lulusan 1986 berjumlah 282 orang, dikurangi yang sudah wafat sejumlah 80-an. Alhamdulillah 150-an orang yang hadir di momentum Satu Abad tersebut. Sebagian lainnya belum bisa hadir disebabkan oleh beberapa alasan. Puluhan alumni marhalah tersebut belum juga terdata sempurna.

Seyogyanya setiap alumni di semua lini marhalah hadir dan sudah programkan jauh sebelumnya apalagi di peringatan satu abad. Mereka diharapkan prioritaskan waktu tertentu dan kesampingkan kegiatan lain kecuali dalam kondisi darurat dan atau benar-benar berhalangan. Disitulah alumni diuji sejauh mana kekuatan hubungan bathiniyah dengan almamaternya, bernama Gontor–laksana ibu kandung ku.Namun hal itu sangat tergantung pada apa yang alumni sebelumnya alami selama di pesantren. Jangan sampai muncul sikap antipati kepada lembaga yang membesarkan kita. Tanpanya, alumni pasti bukan apa-apa dan juga bukan siapa-siapa.

Dalam kondisi kurang sehat, saya putuskan berangkat, take off dengan pesawat Citilink pada Hari Kamis jam 09.40 wib. dari Bandara Depati Amir Pangkalpinang ke Bandara Soekarno Hatta Tanggerang, transit 5 jam, dan take off lagi ke Bandara Djuanda Surabaya pada jam 15.00 wib. Alhamdulillah tiba jam 16.30 wib. Jam 20.30 wib. tiba di Madiun, disambut keluarga dan menginap di kota tersebut. Keesokan harinya, Jum’at, 18 September 2026 diantar keluarga ke kediaman Kyai Arifin, alumni 86 juga–Rumah Peradaban di Desa Siwalan, kira-kira 3 km dari Gontor–Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur.

Sangat senang jiwa ini setelah tiba dan bersua kembali dengan teman-teman 86 Connection walaupun belum semuanya hadir. Malam itu makan bersama dan kemudian duduk mengelompok, memilih siapa yang dirasa nyaman untuk diajak berbincang tentang banyak hal yang pernah dialami selama mondok 40 tahun lalu. Mungkin beberapa berbagi pengalaman masing-masing. Hampir pasti setiap alumni memiliki profesi berbeda; pimpinan pesantren, pengusaha, petani, dosen, guru, muballigh bahkan tabib. Alumni Gontor tidak terbiasa menonjolkan kesibukannya kecuali memang ia ditanya, dan itu pun sebatas menjawab pertanyaan atau lebih kepada “tahadduts bin-Ni’mati”, tidak berlebihan. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kesenjangan sosial antar alumni apapun profesinya.

Acara malam itu adalah ramah tamah yang dipandu oleh Kyai Wazir Tamam ( ketua panitia) terkait program atau kegiatan selama di Gontor, dan terpilihnya secara aklamasi Kyai Usep Saifuddin sebagai ketua marhalah 86. Kyai Usep bercerita tentang masa lalu di pondok dan menggugah para alumni agar tetap menyatu dan berempati satu sama lain. Prof.Husnan Bey juga berikan motivasi, dan diakhiri dengan do’a oleh Ikhwan Romli Jawahir.

Teringat selama di pondok dulunya, kami malam itu diinapkan di ruang besar di rumah peradaban tersebut dengan posisi kasur kecil dan agak tipis bersamping-sampingan dan tidak menentu. Tidak terlalu masalah, karena setiap orang menikmati suasana tersebut sekalipun juga antri mandi. Yang penting dapat bersua kembali dan berbagi pengalaman hidup sambil minum kopi.

Kehadiran Presiden di Peringatan Satu Abad

Tepatnya Sabtu, 19 September 2026, semua alumni di kerahkan hadir di Aula BPPM ( Balai Pertemuan Pondok Modern) Gontor untuk sambut Presiden RI. ,Prabowo Subianto. Acara baru dimulai jam 10.00 wib. dan berakhir jam 12.00 wib . Selain lantunan ayat suci Al-Qur’an, nyanyian Indonesia Raya dan Hymne Oh Pondokku, terdapat tiga sambutan penting, yaitu: KH.Hasan Sahal, pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor; Presiden RI. dan Walik Grand Syeikh Al-Azhar Cairo Mesir. Cukup mengesankan acara di hari itu. Kyai Hasan pun sempat berikan buku ,”Gontor untuk Indonesia” dan juga Mushaf Al-Qur’an versi Gontor kepada Presiden tersebut. Setelah itu jamuan makan siang bersama Presiden RI. di kediaman pimpinan. Banyak hal yang alumni bisa cerna dari hari puncak peringatan satu abad tersebut. Dari sambutan pimpinan, diketahuilah sikap dan prinsip Gontor. Di sisi lain, Prabowo Subianto memaklumi itu dan mengapresiasi komitmen dan pengorbanan Gontor untuk pendidikan di negeri ini.

Temu Akrab Alumni Lintas Marhalah

Tak diduga belasan ribu alumni menyatu di hari kedua, tepatnya Ahad, 20 September 2026 di Aula BPPM Gontor. Pagi itu hingga siang berlangsung secara seksama acara temu akrab dimaksud. Selain sambutan ketua panitia, Prof.Dr.KH.Hamid Fahmi Zarkasyi dan sambutan beberapa alumni, diserahkan beberapa bentuk penganugerahan kepada beberapa alumni dan pihak tertentu terkait dengan dukungan kebesaran Gontor dalam perjalanan selama satu abad terlalui. Di akhir acara adalah taushiyah KH.Hasan Sahal teruntuk para alumni, asatidz dan santri. Beberapa hal prinsip kepesantren dan cara Gontor menyikapi zaman di awal abad kedua Masehi di negeri ini.”al-Muhaafazhah ‘alal-Qiyaam, wat-Taghyiir ilal-Kamaali” ( Memelihara kebertahanan atau hal-hal yang telah dicapai, dan berubah menuju kesempurnaan).

Temu akrab dan saling beramah tamah antar alumni juga terjadi spontan saat bertemu di lingkungan pesantren tersebut selain di posko masing-masing marhalah yang jaraknya berjauhan. Sayang sekali ,tidak semua yang dikhtiyarkan faktanya terealisasi wujudnya. Namun demikian, Alhamdulillah saya sempat bertemu dengan Ustadz Syamsul Hadi Untung, pembimbing khusus saat di pondok utamanya terkait pendalaman Bahasa Asing.

Qismul-I’laam; Tinggal Tiga Serangkai

Tidak direncanakan bertemu, faktanya bertemu dan berbagi pengalaman. Selain Dr.Musnur Hery, M.A. yang sudah berpulang beberapa tahun silam, kami bertiga bersua kembali; Dr.Usman Syihab, Lc.M.A. ( Dosen UIN Syahid Jakarta dan mantan atase pendidikan RI. untuk Mesir), KH.Romlu Jawahir, M.A.( muballigh kondang di Jakarta) dan saya sendiri, Rusydi Sulaiman, Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung. Pastinya banyak sekali yang dibincangkan selama dua malam di Rumah Peradaban. Sesama yang lain juga bincang spontan tanpa disengaja, mengalir dan berpindah dari kelompok satu ke kelompok lain bahkan hingga dini hari.

Selain itu, saya dan beberapa teman; Wazir Tamam dan Fakhri cs. sempat dijamu makan malam Kyai Prof.Dr. Husnan Bey Fannanie, anggota Badan Wakaf Gontor di Restomu Ponorogo, Ahad malam; dan Senin, bersilaturrahim kediaman Prof.Dr.Nurhadi Ihsan, MIRKH. di Desa Gandu, didampingi oleh Keluarga Madiun. Satu hal lain yang mengesankan bagi saya sebagai akademisi, yaitu terjadwal menjadi narasumber seminar tentang Islamisasi di UNIDA Gontor di Mantingan sebelum keesokan harinya take off to Jakarta. Karena alasan pembatalan pesawat sore menuju Pangkalpinang, saya sempatkan menginap di kediaman anak pertama di Bogor selain lepas kangen dengan dua cucu tercinta. Rabu, 23 September 2026, take off ke Pangkalpinang bersama Nanda Ayatul Husna, adik kandung Namlul Wadi asal Desa Payabenua Bangka.

Ada yang Tertinggal

Pertemuan singkat beberapa hari tersebut tidak juga bermakna kuat bagi marhalah tertentu juga 86 Connection. Selain tidak semuanya hadir, tapi yang hadir pun tak menyatu dalam satu forum penting, karena beberapa istirahat ( tidur), memisahkan diri ke tempat lain untuk tujuan tertentu dan ada juga yang menyempit ke kelompok tertentu, dan juga alasan kebutuhan lain.

Sebenarnya menarik dan sangat bermanfaat bila masing-masing alumni dengan beragam profesi dapat berbagi pengalaman dan menindaklanjutinya dengan membangun jaringan berikutnya. Hampir pasti ada yang membutuhkan alumni lain tentang apa akan ia perkuat di tengah masyarakat. Sesama dosen dan atau sesama pengusaha misalnya agar saling membantu satu sama lain. Bila hal ini belum terwujud, diperlukan reuni berikutnya. Bangka Belitung welcome for thats. Mudah-mudahan kita tetap terpanggil ke Gontor; laksana ibu kandung ku. Wassalam. (*)