Oleh: Rusydi Sulaiman, Direktur Madania Center & Koordinator Riset LAM ( Lembaga Adat Melayu) Prov. Kep.Bangka Belitung
Suatu hari seseorang dari kampung bersilaturrahim ke rumah pamannya, seraya berkata: “ini beras baru untuk paman. Kami baru habis panen”. Selain itu, ia juga menyertakan rempah-rempah dan buah-buahan seperti pepaya, nanas dan lainnya untuk kelengkapan memasak.
Fenomena tersebut mengindikasikan sebuah kebiasaan orang kampung di Pulau Bangka, yaitu berbagi kepada kerabat dekat yang tinggal di kota atau di daerah lain sebagai rasa syukur atas panen melimpah di ladang atau kebun ume selain lepas kangen lantaran lama tak bersua.
Kebun ume atau ladang ume berupa padi (beras cerak), lada (sahang), getah karet adalah sumber mata pencaharian sebagian besar penduduk kampung di Pulau Bangka sejak dahulu kala berdasarkan pembagian lahan secara tradisional dalam konteks Memarung. Hasil lainya berupa tanaman palawija.
Memarung adalah tradisi dan kegiatan dalam mengarungi hutan untuk mencari serta menentukan lokasi berladang atau berkebun (ume), yang dilanjutkan dengan membangun pondok tempat tinggal sementara di tengah ladang sesuai dengan perhitungan musim. Tempat tinggal sementara tersebut adalah panggung. Panggung biasanya dibangun diatas permukaan tanah dan berfungsi untuk menghindari dari genangan air dan serangan binatang buas. Bagian bawah panggung berfungsi untuk menyimpan peralatan dan tempat berteduh hewan peliharaan. Setiap rumah panggung di kampung Bangka memiliki liper atau teras untuk istirahat selain ruang tamu. Selain itu juga untuk menahan air hujan dan menghindar dari panas sinar matahari. Segala yang datang dari luar disaring terlebih dahulu sebelum masuk panggung, artinya panggung adalah tempat yang mulia dalam perspektif orang kampung. Tamu yang datang sangat diapresiasi dan pasti disuguhkan makanan dan minuman yang tersedia di dalam panggung tersebut.
Selanjutnya dapur sebagai kelengkapan panggung dibuat agak rendah dibelakang bagian utama dari tanah liat, diatasnya para-para untuk menyimpan ikan atau daging yang sudah diasap. Juga di bagian belakang ada tempat menjemur padi hasil panen ( Elvian, 2015:15). Apapun dan siapapun yang ada di panggung sangat steril dan terjaga.
Dari uraian diatas, ditegaskan bahwa penduduk kampung di Bangka sangat bergantung pada hasil panen ladang dan kebun ume. Selain untuk kebutuhan sehari-hari dan modal kebutuhan lain, mereka pasti sisihkan hasil panen tersebut untuk kerabat sebagai bentuk rasa syukur dan komitmen berbagi. Kebiasaan berbagi kepada sesama kemudian dikemas dalam beberapa kegiatan ritual keagamaan sepanjang tahun, yaitu nganggung-membawa dulang berisikan makanan dari olahan hasil panen di ladang dan kebun ume ke masjid kampung dan atau ke tempat yang disepakati sebelumnya. Intinya bersedekah–Tradisi Berbagi.
Berbagi maksudnya menyisihkan sebagian hak milik kepada orang lain untuk tujuan kemaslahatan sosial. Setidaknya agar terwujudnya keseimbangan hidup antara yang memberi atau berbagi dan pihak yang diberi atau dibag ( diberi bagian). Walaupun sedikit sesuatu yang dibagi, namun keikhlasan dan ketulusan berbagi memberi pengaruh dan sentuhan tersendiri ( al-I’thaa’u yuaatstsiru al-Mu’thaa).
Kegiatan nganggung tidak bersifat total break, tapi merupakan tahapan dari kegiatan sebelumnya; memarung, panggung, bubung dan kampung.. Intinya penduduk kampung di Bangka sangat senang berbagi satu sama lain–menjadi Tradisi Berbagi. Mereka menyadari bahwa manusia secara natural adalah bagian dari alam ( kosmos), dalam satu kesatuan. Secara kosmologis, manusia harus mensinergikan hubungannya dengan alam dengan cara berbuat baik–diantaranya berbagi, dan sebaliknya diharamkan bersikap zhalim. Sebagai makhluk di bumi, manusia haturkan penghambaannya kepada Tuhan, Allah Swt., misalnya berbagi sesuai nilai-nilai ajaran agama yang terkandung dalam Kitab Suci, misalnya Al-Qur’an dalam Agama Islam dan sumber lain yang bersandarkan kepadanya.
Setiap agama memerintahkan penganutnya untuk berbagi kepada sesama. Pasca persentuhan Islam dan Melayu Bangka, muncul nilai kearifan lokal di Kampung Bangka yang salah satunya kewajiban dan atau kebiasaan berbagi, seperti shadaqah, infak, zakat, wakaf dan hibah. Mari kita lestarikan hal tersebut, yaitu Tradisi Berbagi sehingga Tuhan, Allah Swt. melindungi kita. Wassalam. (*)



