Oleh: Rusydi Sulaiman, Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung & Direktur Madania Center
Apakah kita sudah benar dan selalu merasa benar? Atau kita menganggap orang lain tidak benar?, Kebenaran bersumber dari siapapun bersifat relatif, kecuali kebenaran Allah yang bersifat mutlak. Maka, seringkali kebenaran tersebut mengundang penafsiran. Akhirnya klaim akan kebenaran itu muncul dari seseorang dan atau kelompok tertentu. Faktanya, sedikit yang benar seringkali terkalahkan oleh kebanyakan yang tidak benar karena dibela.
Benar saja tidak cukup bila dipengaruhi oleh subjektifitas. Kebenaran sesungguhnya berbasis iktikad baik yang dilanjutkan dengan sikap baik ( amal shaleh). Kebaikan-kebaikan tersebut mewujud menjadi hikmah–melekat pada pribadi pilihan, orang yang senantiasa berbuat baik. Maka, bijak semacam itu identik dengan kebenaran. Dipastikan ada upaya pada orang yang sangat baik ( bijak) membela sesuatu yang benar.
Terkadang diplesetkan: “Orang pintar membela yang bayar, orang bijak mrmbela yang benar”. Kalimat pertama, sindiran atau usikan bagi orang yang tidak bersikap sebenarnya. Ia sebenarnya memahami mana yang benar dan tidak benar. Namun, tendensi tertentu membuatnya menyimpang–membela yang tidak benar. Adapun kalimat kedua, berupa pembelaan dan apresiasi bagi orang yang senantiasa berbuat baik dalam kesehariannya dan berusaha pertahankan kebenaran yang sesungguhnya. Tinggal pilih, kemana semestinya kita berpihak?
Ketika dua potensi; akal dan kalbu dianugerahkan kepada manusia dan tidak kepada selainnya, artinya manusia lebih dimuliakan dan untuk tujuan keberlangsungan kehidupan di bumi. Agama yang bersumber dari Tuhan dan nilai lain yang sejalan dengan agama meluruskan pola pikir dan kecenderungan hati manusia sebagai makhluk hidup yang prima. Apakah faktanya sesuai harapan? Belum tentu.
Pragmatisme keduniaan selalu saja mengalahkan spiritualitas keakhiratan. Atas kecenderungan akal material, kebutuhan duniawi berupa kapital lebih diminati sekalipun dengan cara yang tidak benar. Materi menjadi segalanya. Sebaliknya, hal-hal yang baik, bernuansa agama dan yang berorientasi kepada keakhiratan tidak dilihat bahkan dijauhi. Nampaknya sebagian manusia merasa benar padahal tidak berbuat baik. Kalaulah benar, maka mereka yakini kebenaran tersebut bersumber darinya.
Atas dasar beberapa fakta menyimpang oleh manusia tertentu, maka fungsi akal perlu dinaikkan menjadi lebih potensial, logika dan derajat akal yang lebih tinggi. Berikut penajaman kalbu menjadi sirr dan bashirah ( mata hati). Bila kekuatan dua potensi tersebut melekat, maka kebaikan dan kebajikan selalu menyertai manusia sebagai makhluk hidup. Dipastikan tidak ada lagi orang dan kelompok yang mengesampingkan kebenaran.
Intensitas kebaikan menyamai sikap bijak dalam diri setiap orang. Setelah itu ia sandang predikat orang bijak. Kebijaksanaan cenderung kepada setiap hal yang benar apapun tantangan dan cobaannya. Dalam QS.Al-Baqarah (2): 269)–Artinya: “Diia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya ia telah diberi kebaikan yang banyak. Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang- orang yang memiliki akal sehat (Ulul Albab)”.
Pengalaman hidup beberapa nabi memberi ‘ibrah kepada kita untuk diteladani. Nabi Nuh misalanya, kebenaran agama yang ia dakwahkan selalu ditolak umatnya. Umat yang saat itu sudah sangat menyimpang, nyata-nyata merasa benar bahkan mengejeknya dan lari dari kebenaran agama. Dalam QS. Nuh (71): 5-6)–Artinya: “(5).Dia (Nuh) berkata,”ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam”.(6).”Tetapi seruanku itu tidak menambah (iman) mereka, justru mereka lari dari kebenaran”.
Begitu juga Nabi Muhammad saat sampaikan kebenaran peristiwa Isra’ Mikraj yang dialaminya, langsung ditolak oleh kaum kafir. Abu Bakar adalah orang pertama yang mengimani peristiwa tersebut. Logis bila ia diberi gelar,” Shiddiq”, jujur dan dipercaya. Padahal sesuatu yang disampaikan bersumber dari Tuhan, Allah Swt. , terkandung dalam Al-Qur’an (QS.Al-Isra’) (17):1).
Marilah kita berbuat baik atas kebenaran yang kita yakini, lalu kita dakwahkan kepada siapapun. Mudah-mudahan kebenaran sesungguhnya didapat dan kemudian menjadi pijakan bagi orang beriman. Menjadi lebih bijak adalah obsesi peradaban. Wassalam. (*)





