MADANIA CENTER — Pergantian tahun Masehi selalu saja meriah bahkan sangat meriah. Semua pihak termasuk Pemerintah mendukung sepenuhnya dengan beragam cara..Namun, tidak demikian dengan Tahun Baru Islam, agak sepi, dan hanya dimeriahkan di daerah tertentu sebatas kegiatan ritual keagamaan di tempat ibadah dan pondok pesantren.

Sebuah desa di Pulau Bangka yang meriahkan Tahun Baru Islam, tepat 1 dan 2 Muharram adalah Desa Kenanga Sungailiat Bangka sejak dulu saat penduduknya menetap di daerah bukit kenango, kira2 satu kilometer dari penghunian sekarang, kanan kiri jalan. Sejak itu dibangunlah sebuah masjid, yaitu Masjid al-Mukminun yang salah satunya untuk lestarikan tradisi Awal Muharram dengan ciri khas tertentu. Pemerintah Daerah melibatkan diri dalam setiap tahun perayaan PHBI tersebut.

Tradisi Nganggung yang biasanya dilaksanakan pagi hari, 1 Muharram, dimajukan ke malam hari– Malam Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah, bertepatan dengan 15 Juni 2026 M. Malam itu Prof.Dr.Rusydi Sulaiman, M.Ag. dijadwalkan sebagai penceramah. Hadir juga Bupati Bangka, Fery Insani; Eko Kurniawan, Staf Ahli Gubernur Bangka Belitung; Yasir Musthafa, Kabiro Kesra Bangka Belitung; Asep Setiawan, Sekda Bangka. Hadir juga KH.Syaipul Zohri, pimpinan Pondok Pesantren Bahrul Ulum ( Islamic Center) Bangka.

Acara dimulai dengan beberapa sambuta, yaitu: Ketua DKM, Staf Ahli Gubernur dan Bupati, dilanjutkan dengan acara inti, taushiyah/ ceramah.
Dalam taushiyahnya, Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung tersebut menegaskan posisi Bulan Muharram sebagai Arba’atun Hurum dalam Al-Qur’an (QS.At-Taubah (9):36) dan dilekatkan kepada para nabi dan orang-orang bijak, terkhusus Nabi Muhammad Saw.
Terkait tema hijrah, Direktur Madania Center tersebut urai tiga tahapan hijrah nabi, yaitu: Hijrah ke Habasyah ( 615M); Hijrah ke Thaif ( 10 kenabian); dan Hijrah ke Yatsrib (622M) dengan fakta tertentu melekat kepadanya. Hal itu sejalan dengan QS.Ali Imran(3): 112) tentang kebesaran orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjuang di jalan Allah–“A’zhamu Darojatan”.
Di akhir taushiyahnya, Rusydi Sulaiman mengajak jama’ah juga berhijrah–lakukan pembaharuan, namun tetap berpijak pada nilai kearifan lokal Bangka yang pastinya bersumber dari hasil persentuhan Agama Islam dan Melayu. Masyarakat Ideal ( al-Madiinah al-Faadhilah) adalah wujud masyarakat yang diobsesikan di Kabupaten Bangka, khususnya di Desa Kenanga, tambahnya.
Kegiatan malam itu cukup meriah, diakhiri dengan makan bersama–Tradisi Nganggung di Pulau Bangka. Wassalam. (*)





