Oleh: Rusydi Sulaiman, Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam & Direktur Madania Center
Cukup banyak calon pemimpin di negeri ini, cuma kita kekurangan orang yang mampu berbuat setelah tampuk kepemimpinan itu dipegang. Diri ini agak mempertanyakan, apa niat dan tujuan memimpin serta punyakah pemimpin atau pimpinan itu idealisme? Bila sekedar duduk, terima laporan dan tandatangan sepertinya siapapun mampu lakukan itu. Pastinya tidak sekedar memimpin, tapi perlu menyertainya tanggung jawab moral.
Modal Awal Memimpin
Tanpa mempertimbangkan keterpenuhan syarat administratif memimpin sebenarnya seorang calon pemimpin atau pimpinan sudah sangat diketahui keberadaan diri (track-record) nya apalagi sebelumnya ia pernah berpengalaman memimpin. Orang-orang dekat dan masyarakat di sekitarnya pasti sudah berasumsi sebelumnya, apakah mereka menaruh harapan atau sebaliknya; apakah mereka optimis akan kepemimpinannya atau sebaliknya; dan apakah mereka bersikap skeptis atau sangat yakin?
Akan sangat sulit kekuatan kepemimpinan tersebut diharapkan bila aspek-aspek negatif dalam diri seorang pemimpin atau pimpinan cukup dominan kecuali ia benar-benar ingin berubah dan atau lakukan terobosan baru. Itu pun tidak mudah baginya ketika berada dalam bayang-bayang stigma negatif tertentu dan keraguan sebagian orang dan pihak tertentu terhadapnya.
Berbasis Idealisme
Setiap pemimpin ditunggu ide dan gagasan pemikirannya. Stagnasi kepemimpinan akan terjadi bila seorang pemimpin atau pimpinan tidak punya ide sama sekali apalagi akan melangkah ke tahapan yang lebih baik, pasti dinegasikan. Sebenarnya tak ber-ide pun tidak masalah asalkan si pemimpin atau pimpinan berpijak pada idealisme beberapa pendahulunya yang dinilai berdasar dan kuat. Maka ia juga mesti mendalami perjalanan sejarah pimpinan dan pengalaman pengelolaan kelembagaan sebelumnya. Perubahan visi dan misi boleh saja dilakukan atas dasar pertimbangan yang matang dan tidak menafikan masukan pihak-pihak yang kompeten. Berikutnya penguatan aspek-aspek terkait dengannya.
Langkah Strategis
Bila pijakan dalam bentuk landasan konseptual sudah kuat, maka ditindaklanjuti dengan langkah strategis operasional. Metode-metode tertentu perlu digunakan untuk percepatan penanganan. “Ath-Thariiqatu ahammu minal-Maddati” ( cara itu lebih penting daripada materi atau substansi. Namun materi juga wajib ada dan menyertai. Penetapan langkah atau metode tertentu juga mempertimbangkan kondisi materi. Metode yang tepat berpengaruh pada hasil, yaitu menjadi efektif dan efisien. Tidak tepat guna bila sedikit hasil, tapi hal tersebut memakan waktu cukup lama. Tak akan terselesaikan sesuatu yang diobsesikan.
Dalam kondisi apapun dan bagaimana pun seorang pimpinan atau pemimpin harus tegas dan memastikan sikapnya di hadapan bawahan dan juga pihak yang diajak kerjasama. Ketidakpastian sikap dan agak sulit mengambil keputusan dalam memimpin berakibat pada rendahnya apresiasi kepadanya. Bisa jadi pengakuan publik terhadap diri pimpinan atau pemimpin tersebut akan melemah. Apa gunanya memimpin dalam kondisi demikian? Faktor geneologis juga mungkin menjadi alasan walaupun bukan segalanya.
Bersahaja dan Siap Dikritik
Seringkali seseorang yang sebelumnya biasa-biasanya, kemudian menjadi formal dan terkesan jaga image setelah ditetapkan sebagai pemimpin atau pimpinan. Jabatan tertentu, lekatan eselon tertentu dan atribut pangkat tertentu pada diri seseorang bisa jadi sangat mempengaruhi dan mengusiknya sehingga muncul gaya tertentu dalam memimpin. Biasanya dekat dan rileks dengan sesama, namun berubah total dan terkesan menjaga jarak. Mudah-mudahan tidak dibuat-buat. Tampilan sikap bersahaja dan siap dikritik sangat diperlukan dalam memimpin.
Menarik atau tidak menarik gaya kepemimpinan seseorang pastinya disebabkan oleh beberapa faktor tertentu dan durasi persentuhannya dengan peradaban sebelumnya.Mungkin.jjuga faktor geneologis dan atau lainnya. Pastinya menjadi pemimpin atau pimpinan itu tidaklah mudah. Kritik bahkan celaan pun menerpanya selain begitu banyak apresiasi yang diterima. Ibarat sebuah pohon, bertambah tinggi menjulang, maka bertambah kencang angin menerpa. Maka dari itu, sudah semestinya setiap pemimpin atau pimpinan tegar menghadapi masalah apapun dan tidak pernah mengeluh kepada siapapun kecuali berbagi pengalaman, introspeksi dan bermuhasabah diri. Hampir genap dua tahun memimpin bangsa ini sebagai presiden, Prabowo Subianto tak luput dari masalah yang mengusiknya. Apapun gagasan yang disampaikan hampir pasti ada penilainya. Ada yang mengapresiasi, tapi tidak sedikit yang menjelek-jelekkannya. Mungkin ada fitnah dari lawan politik. Apalagi pimpinan sebuah perguruan tinggi, sivitas akademika tak henti menanggapinya. Bisa jadi ada yang menyalahkan. Mudah-mudahan pemimpin dan pimpinan di sekitar kita tetap bersahaja–easy going dan tidak anti kritik.
Menatap Masa Depan
Terlepas dari begitu banyaknya kritikan terhadap kepemimpinan dalam beragam bentuk, maka seorang pemimpin atau pimpinan tetap optimis dan berusaha bertanggung jawab mengemban amanat tersebut. Tidak boleh stagnan, melainkan ia harus berorientasi ke depan dan lakukan perubahan dan pembaharuan. “kullukum Raa’in, wa Kullukum Mas’uulun ‘an Ra’iiyatihi” ( Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas yang dipimpin). Maksudnya tidak sekedar memimpin. Wassalam. (*)




