PENUH TENDENSI

Bagikan
Oleh: Rusydi Sulaiman, Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam & Direktur Madania Center

Pernahkah anda berempati kepada orang lain sehingga tergerak membantu, meringankan bebannya dan berusaha mengatasi masalah yang sedang ia hadapi atau sebaliknya anda justru memanfaatkan dan mengambil keuntungan pribadi darinya?

Hampir pasti, penuh tendensi; memberi bantuan tapi berharap imbalan atau ada sesuatu yang diinginkan. Seseorang pun berucap: “ngapain dibantu? Saya saja susah dan banyak masalah. Jangan-jangan nanti ia lupa dan tidak berterima kasih setelah dibantu”–kata-kata yang mungkin saja tebersit dalam benak seseorang. Mudah-mudahan tidak dalam diri semua orang kecuali mereka berbuat baik dengan ketulusan hati dan senang berbagi.

Beberapa fakta mengindikasikan hal tersebut. Mungkin saja terjadi di dunia pendidikan, misalnya oknum dosen meminta sesuatu di luar fungsi akademik sebelum bimbingan proposal skripsi; ia juga menentukan tempat bimbingan di cafe tertentu sementara biaya makan dan minum dibebankan ke mahasiswa tersebut; beberapa modus negatif serupa yang tidak mencerminkan akhlak mulia terkadang terjadi. Penuh tendensi, mahasiswa dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi.

Kasus pemerasan di sebuah fakultas kedokteran di perguruan tinggi tertentu beberapa bulan lalu sempat juga mewarnai media sosial di negeri ini–sungguh miris bila hal tersebut tetap akan berlangsung. Pastinya mencoreng perguruan tinggi secara general yang hakikatnya sebagai agen perubahan ( agent of change ) dan agen pembaharuan ( agent of modernization). Fakta yang sempat terjadi kok demikian. Lagi-lagi sebagian orang tergiring untuk memberikan sesuatu karena tujuan dan obsesi tertentu–penuh tendensi.

Di birokrasi pemerintahan juga terjadi hal serupa. Pelayanan agak sulit dilakukan bagi orang yang memerlukan bantuan kecuali ada hubungan atasan- bawahan, hubungan keluarga dan atau dikarenakan pernah berhutang Budi–penuh tendensi. Plesetan tertentu diperdengarkan: ” mengapa dipermudah bila bisa dipersulit”. Ketulusan memang sulit didapat di tengah derasnya kecenderungan hidup pragmatis. Sebagian orang enggan membantu atau menolong orang lain bila tidak dapatkan sesuatu berupa profit ( money oriented). Kenyataannya tidak juga kaya bahkan ada saja masalah menimpa.

Berkaca pada beberapa tempat pelayanan, seperti rumah sakit yang nyata-nyata istilah yang digunakan adalah hospital–hospitality, yaitu bersifat melayani setiap pasien yang datang untuk berobat. Juga bentuk pelayanan di instansi dan perusahaan tertentu. Kenyataannya tidak demikian. Tidak juga mengindikasikan kebaikan. Mudah-mudahan hal tersebut tak terjadi di provinsi kepulauan ini.

Baru saja kita diusik oleh fenomena tertentu di Lembaga Pemasyarakatan 2A Cibinong; ruang-ruang mewah dengan segala kelengkapannya sehingga berakibat pada pencopotan lima pimpinan setempat termasuk Kalapas tersebut. Pelayanan selalu saja tidak dengan hati nurani,melainkan penuh tendensi–berpihak pada narapidana tertentu karena suatu hal yang mempengaruhi. Bila hal itu benar-benar terjadi, maka tercorenglah reputasi LAPAS sebagai tempat pembinaan dan pemasyarakatan. Kalaulah terdapat beberapa oknum pegawai menyimpang dalam bertugas, bagaiman dengan para narapidana? Maka sangat beralasan bila tempat tersebut didatangi dan disidak oleh menteri.

Cukuplah beberapa musibah ditimpakan kepada sebagian manusia di negeri ini beberapa bulan terakhir karena ulah tangan mereka sendiri. Kurangi usikan tersebut. Perbuatan menyimpang bila dilakukan secara terus menerus, maka hal tersebut menjadi dasar pertimbangan tertentu. Setelah itu Tuhan, Allah Swt. menetapkan takdir-Nya. Maka dari itu, sudah saatnya kita berbuat baik–diantaranya membantu tanpa tendensi. “man Dalla ‘alaa Khairin, falahuu mitslu Ajri faa’ilihi” (barang siapa yang mengajak kepada kebaikan, maka ia akan dapatkan pahala serupa pahala orang yang mengerjakannya). Wassalam. (*)