Oleh: Rusydi Sulaiman, Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung & Direktur Madania Center
Terkadang seseorang terlalu yakin akan dirinya, bahwa ia mampu mengatasi semua masalah dengan kekuatan akal, tanpa unsur atau pihak lain di luar dirinya. Bermuhasabah pun tidak. Ia menegaskan hal tersebut semata-mata darinya, saking sombongnya ( taipau–Bahasa Melayu Bangka). Jangan- jangan ia tidak beragama!
Faktanya, suatu hari orang tersebut mengalami masalah tertentu yang cukup berat sehingga tak teratasi oleh dirinya. Akal yang selama ini diandalkan tak mampu merasionalisasi masalah yang dihadapi. Ia pun mengadukan kepada orang pintar ( dukun dan semacamnya) agar ada solusi. Ia sangat gelisah bahkan stress, karena sesungguhnya ia tidak pernah merenung akan ketidakberdayaan dirinya apalagi berdo’a. Lambat Laun ia meyakini ada kekuatan magis di luar dirinya. Ingat, manusia adalah makhluk yang tidak bisa hidup tanpa orang lain dan juga tanpa unsur lain. Washilah diperlukan.
Kemestian Agama
Manusia akhirnya beragama–meyakini Tuhan, Dzat yang Maha Suci dan mengakui kebesaran-Nya ( i’tirafaan bi ‘azhamatillah).Namun dalam pengalaman spiritualnya, setiap orang mengalami masalah berbeda dalam konteks hubungan kejiwaannya dengan Tuhan, Allah Swt. Tidak semua manusia dapatkan sentuhan ( diistijabah) kecuali orang-orang yang dikehendaki-Nya sebagaimana ditegaskan dalam QS.Al-Baqarah (2):269), yaitu:
Artinya: “Dia (Allah) menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak. Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (darinya), kecuali Ulul-Albab”.Maka dari itu, dalam menyikapi kehidupan ini, rujukan kita adalah pribadi-pribadi pilihan atau orang-orang bijak se-kelas rasul dan nabi serta ulama atau tokoh-tokoh tertentu yang dilekatkan kepada mereka otoritas keagamaan dan nilai kearifan tertentu. Allah menghendaki mereka karena karena kekuatan kepribadian dan integritas diri. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keseimbangan jiwa antara akal dan kalbu, disebut Ulul-Albab sehingga menegasikan sesuatu.
Diperlukan Washilah
Sekali lagi manusia tidak dapat hidup sendiri. Apapun masalahnya dipastikan ada perantara ( washilah) sehingga dapatkan kemudahan atas segala apa yang diobsesikan. Misalnya , ketika seseorang ingin lulus ujian, maka ia harus belajar selain kesiapan diri menghadapinya. Sebagai bentuk ikhtiyar, ia meminta dukungan moral dan minta dido’akan ke orang tua dan juga gurunya agar diberi kemudahan. Akhirnya ia diuji oleh orang yang lebih kompeten dan objektif. . Luluslah dia atas keterpenuhan syarat administratif dan kemampuan menjawab pertanyaan, ditambah nilai plus lainnya. Pertanyaannya, apa ia lulus semata-mata karena kepintarannya? Seringkali fakta tersebut tidak disadari. Jawabannya, tentu ada pihak dan atau unsur lain sebagai salah satu faktor kelulusan. Itulah washilah termasuk do’a yang diistijabah. Banyak pengalaman lain yang mengindikasikan hal tersebut, tanpa disadari, dan akal tidak mampu menyentuhnya–sangat metafisik.
Sangat disayangkan bila washilah tersebut tidak diyakini kecuali sikap sombong seseorang. Janganlah fakta ketidakberdayaan itu menumpuk dan membebani, baru kita merujuk kepada orang lain dan menyesalinya. Sebagai manusia, kita berikhtiar, dan Tuhan, Allah Swt. yang menetapkan takdir.
Tidak Merasa Berjasa
Berjasalah, tapi jangan merasa berjasa.Ketika manusia disebut makhluk sosial, maka dipastikan ada hubungan dan ketergantungan satu sama lain. Masing-masing berinteraksi untuk tujuan tertentu. Bisa jadi hanya untuk dirinya ( bersifat personal) dan mungkin juga untuk orang lain yang berharap kemudahan. Terkadang kita memerlukan bantuan orang lain, dan terkadang kita diperlukan. Tidak banyak orang tergerak membantu orang lain kecuali pribadi pilihan. Maka bantulah orang lain karena tidak banyak yang ditakdirkan di posisi tersebut sebagai washilah. “Man Dalla ‘alaa Khairin, falahuu mitslu Ajri faa’ilihi” ( barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia dapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya).
Satu hal yang mengusik adalah sikap merasa berjasa–seseorang merasa telah melakukan sesuatu kepada orang lain; menegaskan ia lebih mampu dan melebihi orang lain. Ia terlalu yakin dan over-confident bahwa ialah pahlawan satu-satunya, bukan orang lain. Na’udzubillah bila hal itu membuatnya tergoda sehingga ia ceritakan jasa- jasanya kepada siapapun. Ia memang telah berjasa, tapi sebaiknya ia tidak merasa berjasa. Mudah-mudahan ia juga tidak minta tanda jasa sehingga dikenang oleh banyak orang atau generasi berikutnya. Setidaknya ia dikenang oleh orang yang lulus dan sukses berkat jasanya. Allah pasti berikan kemudahan kepada pribadi pilihan yang memudahkan orang lain di saat tertentu di luar perhitungan manusia umumnya.
Simpulannya, bahwa sebagai makhluk sosial, kita harus ingat dan tidak melupakan orang yang telah berjasa kepada kita, apalagi tanpa dirinya kemudian kita tidak berarti. Washilah itu penting dan sebuah kemestian dalam hidup manusia. Tanpa diminta, washilah pun datang bagi orang tertentu yang dikehendaki-Nya. Diharapkan setiap orang tidak menutupi dirinya dari berbagi kelebihan dalam dirinya apalagi ilmu. Bila menutupi, maka Allah menutupinya dari surga. Wassalam. (*)



