BERTERIMA KASIH KEPADA PESANTREN

Bagikan
Oleh: Rusydi Sulaiman, Guru Besar dalam Kepakaran Pengkajian Islam (Islamic Studies) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung & Direktur Madania Center

Melihat sesuatu apapun diharapkan tidak seperti,” orang buta meraba gajah”. Bila yang diraba bagian tertentu, maka akan menimbulkan kesimpulan lain tentang hewan tersebut. Juga tidak seperti,”kera makan manggis”. Bila yang dimakan kulitnya, maka akan simpulkan bahwa manggis itu pahit. Begitu juga terhadap pondok pesantren, diperlukan kecermatan dan sikap bijak. Ada hal-hal prinsip tentang nilai ( value), jiwa, tradisi tertentu yang tertanam di dalamnya, namun belum tentu dipahami sepenuhnya oleh pihak tertentu. Santri yang mondok bertahun- tahun, belum tentu juga menyelaminya.

Sikap yang diduga kasar bahkan intimidatif terhadap beberapa santriwati di sebuah pesantren di Jawa Tengah menyisakan pertanyaan publik, mengapa peristiwa itu terjadi? Setidaknya peristiwa tersebut menjadi pembelajaran bagi pihak-pihak terkait. Spontan banyak yang menanggapi dengan tensi emosi berbeda.

Mungkin perlu diluruskan perihal tersebut tanpa menyalahkan pihak tertentu. Bila tidak dilakukan, maka polemik perihal tersebut akan terus berkembang dan menjadi tak terkendali. Jadinya, sebagian membela dan sebagian lain menyalahkan dan mencemooh, padahal duduk masalahnya belum diketahui pasti. Tanpa disadari akan menyita waktu–mengusik akal dan emosi. Kalaulah ada oknum yang lakukan kesalahan, maka ada pihak berwenang yang menyikapinya. Selain itu, kita mencoba ber-tabayyun atas masalah-masalah bermunculan belakangan di negeri ini.

Memahami Pesantren

Pesantren hakikatnya adalah pendidikan. Tiada tujuan lain kecuali mendidik santri sebagai peserta didik untuk tujuan tertentu selaras tujuan pendidikan nasional. Bila sekolah bernuansa formal dan lebih pada proses transmisi ilmu pengetahuan, agak berbeda dengan pesantren yang santri atau peserta didiknya menetap dan hidup bersama di lingkungan tertentu dibimbing langsung oleh beberapa guru ( ustadz) dimana seorang kyai sebagai figur sentral dan masjid sebagai pusat kegiatan. Begitu akhlak atau etika menjadi prioritas dalam kehidupan sehari-hari santri, ustadz dan keluarga pengasuh. Orang tua mempercayakan sepenuhnya pendidikan sehari-hari anaknya kepada pesantren, akan tetapi hubungan dan tanggung jawab orang tua terhadap anak tetap berlangsung. Fakta historis tersebut berlangsung cukup lama dalam sejarah negeri ini bahkan ratusan tahun sebelum kemerdekaan RI.

Hampir pasti santri dan ustadz betah–feeling at home di lingkungan yang sengaja dibentuk suasana mendidik dan kekeluargaan. Apa yang dilihat, diamati, didengar dan dirasakan adalah pendidikan–diterapkan dengan penuh kedisiplinan dan tanggung jawab. Terkadang insentif yang diterima oleh yang mengabdikan dirinya (berkhidmah) tidak sebanding dengan perjuangan dan pengorbanan untuk masa depan peserta didik ( santri). Pengasuh atau seseorang yang disebut kyai di sebagian pesantren tidak pernah dibayar atas pengabdiannya. Ingat, santri di pesantren berasal dari kondisi ekonomi dan sosial berbeda. Sangat dimaklumi bila ada satu-dua santri yang melanggar kedisiplinan dan menyimpang dari peraturan. Namun, disayangkan, masih ada pihak yang menaruh sikap under-estimate bahkan berpandangan miring terhadap pondok pesantren. Sebenarnya begitu banyak kelebihan pesantren sebagai lembaga pendidikan dan juga sub-kuktur masyarakat.

Bila demikian konsepnya, maka sebuah pesantren tidak mudah dibangun apalagi tujuannya adalah lahirkan generasi berperadaban. Artinya istilah pesantren tidak boleh melekat terlalu cepat ke sentra pendidikan tertentu sementara elemen-elemen kepesantrenannya belum terpenuhi; pengasuh atau pendiri, asal usul atau keturunan dan bekal keilmuannya; kualifikasi tenaga guru dan pengurus ( pembimbing); kurikulum pendidikan dan afiliasinya; keterpenuhan sarana prasarana seperti masjid, asrama, perpustakaan, sarana prasarana lainnya”, paham atau ideologi dan lain-lain . Berikutnya bagaimana hakikat, falsafah dan idealisme serta manajemen kelembagaan sebuah pesantren dikembangkan.

Faktanya seorang pengelola sentra pendidikan terlalu cepat menyebut lembaganya sebagai pesantren padahal ia belum memenuhi syarat layaknya pesantren. Misalnya, jumlah santri belum memadai, kyai atau pengasuh tidak menetap di dalam pesantren, legalitas kepemilikan lahan juga belum aman, dan aspek lainnya. Akibatnya, ketika terjadi peristiwa tertentu yang berkonotasi negatif, selalu saja pesantren yang dipojokkan padahal bukan pesantren yang sesungguhnya. Bar-husnuzhzhan saja terlebih dahulu baru melangkah pasti. Kepastian sikap pasti akan diapresiasi, bukan sebaliknya seperti yang terjadi akhir-akhir ini.

Membela pesantren sebenarnya logis-logis saja apalagi dilakukan oleh orang yang cukup lama menetap–mondok di pesantren jadi santri dan juga mengabdi sebagai ustadz, pengelola, keluarga dan juga simpatisan pondok pesantren. Hampir-hampir mereka tidak mau tahu apa masalahnya. Yang penting pesantren wajib dibela. Sebaliknya, pihak yang mendiskreditkan lembaga tersebut juga tidak perlu terlalu dibenci, karena memang mereka tidak paham sama sekali, terbukti mereka belum pernah menginjakkan kakinya di lingkungan pesantren. Dalam perspektif kelompok kedua, pesantren dianggap ketinggalan zaman (out of date). Masing-masing pihak diharap saling memahami.

Berterima Kasih Kepada Pesantren

Generalisasi tergesa-gesa terhadap pondok pesantren tidak juga benar. Diperlukan waktu lama untuk mengenal dan mendalami hakikat pesantren. Bayangkan bila tidak ada pesantren dan sentra pendidikan semacam pesantren di negeri ini, apa jadinya generasi muda? Mereka harus dididik dan diperkuat peradabannya. Pihak pesantren yang mengambil peran signifikan selama ini. Berterima kasihlah kepada pesantren. Wassalam. (*)