Oleh: Rusydi Sulaiman, Direktur Madania Center & Guru Besar dalam Kepakaran Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung
Berpikir dan bersikap tertentu asal sesuai dengan kemampuan dan keberadaan diri sangatlah dimaklumi. Hampir pasti komunitas di sekitarnya kagum dan menberi apresiasi. Lain halnya ketika seseorang berpikir dan bersikap beda dan berlebih lebihan–melampaui kapasitas dirinya, maka mereka menilai sebaliknya.
Begitu banyak contoh perihal tersebut di sekitar kita. Ia mirip istilah dalam Bahasa Melayu Bangka, disebut, ” Cak Macak” ( merasa bisa)–seseorang merasa mampu dan selalu ingin dianggap mampu, padahal tidak mampu. Tidak ditanya, tapi ia menjawab. Selalu ingin tampil agar dianggap bahwa dialah yang paling kompeten. Dalam bersikap, orang tersebut selalu mengedepankan dirinya. Misalnya, mengatasnamakan atasannya padahal ia tidak layak di posisi tersebut–melampaui kapasitas. Pejabat eselon 4 bergaya eselon 2 ( pretend to be).
Berani disertai percaya diri, boleh-boleh saja, akan tetapi tidak juga boleh terlalu percaya diri ( over confident). Dikira orang-orang di sekitarnya senang dan mengagumi, namun kenyataannya tidak sama sekali. Mereka justru diam dan membiarkan perilaku tersebut.
Suatu hari, ketua masjid besar di kepulauan ini mengeluhkan terkait dengan seseorang yang memaksa dijadwalkan menjadi khatib Jum’at padahal ia tidak layak sama sekali. Sepertinya orang dimaksud ingin dikesankan mampu (kompeten) dan diakui memiliki otoritas keagamaan layaknya ustadz kabir sehingga orang-orang pun mengaguminya. Pertanyaannya, apakah ia hanya ingin tampil? Mudah-mudahan tidak ada tendensi lain termasuk finansial. “Na‘ūżu billāhi min żālika”.
Sama halnya, Si Pulan lulusan s-2 (magister) universitas terkenal, seraya berkata kepada seorang dekan di fakultas tertentu: ” bapak, perlu tenaga saya untuk mengajar di lembaga bapak? kalau ada formasi dosen, boleh saya dihubungi nanti”. Sebenarnya ia ingin melamar jadi dosen, tapi sikapnya memberi kesan kurang baik sehingga ia tidak ditanggapi. Ia merasa penting dan–melampaui kapasitas.
Atribut tertentu terkadang sengaja dilekatkan untuk menutupi kekurangan dan atau agar dapat memberi nilai lebih bagi profesi tertentu yang diobsesikan–sangat-sangat simbolik. Di awal perjumpaan mungkin orang-orang disekelilingnya terkesima. Namun, lambat Laun akan tampak kekurangan dan kemunafikan sikapnya selama ini. Pastinya orang yang melampaui kapasitas tidaklah berpikir dan bersikap sebenarnya.
Pastinya fenomena sosial semacam itu agak mengusik masyarakat, maka hal itu sudah semestinya diminimalisir atau dikurangi kadarnya. Dilematis benar bila cara itu terus mengemuka, dan setelah itu masyarakat mengamini. Pribadi pilihan tidak akan lakukan hal-hal yang mengusik muru’ahnya, Mereka cenderung diam, namun tetap memberi contoh yang baik di tengah
masyarakat. Tinggal kita menyadari atau sebaliknya. Mudah-mudahan kita tidak melampaui kapasitas.
Melampaui kapasitas dalam bentuk pemikiran dan sikap bukanlah hal yang baik. Sesungguhnya seseorang diapresiasi karena bekal kepribadian baik dan integritas diri serta kompetensi, bukanlah spekulasi. Percepatan diri tidak objektif dalam segala hal tidak akan menjadikan seseorang dikenal baik dan dikagumi.
Ditegaskan dalam QS. Az-Zukhruf (43): 36-37, Artinya: “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Allah) Yang Maha Pemurah (Al-Quran), kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman karibnya.”(36) “Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.”(37).
Apapun yang seseorang lakukan diharapkan bernuansa spiritual keagamaan agar tidak dipengaruhi oleh bisikan negatif.
Dengan demikian, setidaknya kita perlu bermuhasabah, kemudian berpikir dan bersikap sesuai dengan kapasitas diri dan tidak melampaui kapasitas. Wassalam. (*)





