Oleh: Rusydi Sulaiman, Guru Besar dalam Kepakaran Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung & Madania Center
Ketika diperdengarkan kata,”dosen” di telinga masyarakat awam, spontan muncul di benak mereka–orang hebat dan sosok yang sangat akademis. Pastinya dosen itu punya keahlian tersendiri disertai beberapa kompetensi lain. Belum lagi aspek lain yang melekat pada dirinya, sebagian masyarakat maklum. Sebagian berucap: “mudah-mudahan anak kami bisa menjadi dosen seperti mereka”.
Tiidak juga perspektif tersebut benar sepenuhnya, kata seorang dosen yang menimbali. Masyarakat melihat permukaannya saja, tapi mereka tidak mendalami apa yang sesungguhnya terjadi dalam diri setiap dosen. Ada yang mudah jadi dosen, “taken for granted”; ada yang setengah susah, bahkan beberapa orang penuh pengorbanan, baru bisa menjadi dosen.
Itulah stigma yang di-labelkan oleh sebagian orang padahal mereka tidak mengalaminya. Namun demikian, ada juga benarnya penilaian yang demikian. Setidaknya sebagai pijakan bermuhasabah ( introspeksi diri) untuk melangkah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dosen; Insan Akademis
Selain mahasiswa, dosen juga merupakan unsur substansial di perguruan tinggi. Tanpa dosen, proses perkuliahan dirasa kurang efektif dan tidak terkoordinasi dengan baik serta capaian materi kuliah belum tentu aman, karena dosen berperan mengampu, mengarahkan dan membimbing mahasiswa. Maka dari itu, dosen harus kompeten–ahli di bidang keilmuan tertentu sebagai ciri khasnya. Dengan kekuatan bekal itu, ia pasti dirujuk dan diteladani mahasiswa dan juga koleganya.
Dosen identik dengan jabatan fungsional yang mesti dilalui dari tahun ke tahun dengan pemenuhan unsur-unsur Tridharma Perguruan Tinggi dan unsur penunjang. Adapun jabatan struktural sebagai rektor, dekan, pimpinan lembaga dan atau lainnya bukanlah sesuatu yang primer. Namun demikian, tidak banyak dosen yang dipercaya untuk amanat jabatan tersebut kecuali mereka yang dinilai memenuhi syarat memimpin termasuk syarat administratif formal.
Dosen dan Kemestian Literasi
Agak dipertanyakan profesinya bila seorang dosen tidak hasilkan satu buku ajar pun dalam bidang keahliannya. Ada syarat karya ilmiah tertentu bagi setiap orang yang melamar menjadi dosen ,apalagi setelah profesi tersebut disandang. Ia diharap hidup berdisiplin; meluangkan waktu untuk membaca dan juga menulis di sela rutinitas lain. Memang banyak tanggung jawab yang dibebankan kepada dosen selain beban SKS ( Sistem Kredit Smester). Belum lagi urusan keluarga dan juga bisnis lainnya.
Seiring dengan dinamika teknologi dan ilmu pengetahuan modern, seorang dituntut untuk beradaptasi. Dalam hal literasi misalnya, beberapa aspek melekat sudah mengalami perubahan signifikan. Diakui bahwa hal yang tehnis administratif agak sulit dihadapi dosen senior, namun tetap harus diikuti secara bertahap.
Dosen; Berkhidmah untuk umat
Selain bidang akademis di internal perguruan tinggi, dosen juga perlu melibatkan dirinya di tengah masyarakat, apalagi hal tersebut juga termasuk unsur pengabdian pada masyarakat.
Berpijak pada stigma dan persepsi sebagian masyarakat terhadap dosen, mereka sepertinya tidak mau tahu siapa dosen tersebut dan apa saja yang merumitkannya. Maka penguatan peran di tengah masyarakat juga menjadi pertimbangan tersendiri. Bisa seorang insan akademis seperti dosen lebih diakui keberadaan diri bagi masyarakat luas dibandingkan dengan perannya di perguruan tinggi tempat ia mengabdi.
Banyak bidang terkait yang bisa diperankan dosen sehingga Khidmah atau pengabdiannya diakui masyarakat, seperti pondok pesantren, Lembaga Swadaya Masyarakat tertentu dan lainnya. Ketertarikan masyarakat sehingga meng-kuliahkan anaknya di sebuah perguruan tinggi tempat dosen tersebut mengabdi lebih pada pangakuan masyarakat akan dirinya.
Kompleksitas peran tersebut pastinya membuat masyarakat bangga sehingga dirujuk, tidak hanya di internal perguruan tinggi, melainkan juga di tengah masyarakat. Kompetensi tertentu dalam diri seorang dosen membuatnya lebih dikenal dan juga almamaternya. Sebaliknya bila ia mengotori, maka stigma negatif menghinggapinya berikut almamater tersebut.
Marilah kita tingkatkan kualitas diri kita sebagai dosen,” Ahlul-Fikri wal-I’tibar”, sehingga dibanggakan . Hal itu tidaklah mudah, kecuali disertai dengan kesungguhan hati untuk menjadi lebih baik. Wassalam. (*)





