Oleh: Rusydi Sulaiman, Dewan Pembina Pondok Pesantren Al-Islam Kemuja Bangka & Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo Jawa Timur
Begitu banyak jumlah pesantren di negeri ini, nampaknya melampaui jumlah sekolah formal. Awalnya pesantren, lalu berkembang menjadi pondok pesantren karena jumlah elemen tertentu yang melekat. Secara garis besar, lembaga tersebut diklasifikasi menjadi dua macam, yaitu: Pesantren Salaf (tradisional) dan Pesantren Khalaf (modern). Ada yang menyebut pesantren dengan kategori salaf-,Khalaf. Mungkin sebaliknya, khalaf-salaf. Entah mana yang dominan, unsur salafiyah atau Khalafiyah-nya?
Terlepas dari label tertentu dan sikap miring pihak tertentu pula terhadap lembaga tertua di Nusantara tersebut, bahwa pesantren tidak muncul seketika di tengah masyarakat, melainkan ada faktor penyebab kehadirannya. Idealisme dan kekuatan kepribadian seseorang, disebut kyai–Jawa dan Madura) menjadi penentu. Selebihnya pengakuan masyarakat sekitar terhadap ketokohan kyai dimaksud selain bekal ilmu agama. Berdatanganlah sejumlah calon santri dengan niat berguru–mengabdi dan menuntut ilmu agama. Kata,”santri” berasal dari Bahasa Tamil, berarti guru ngaji. Juga dari kata,”shastri” yang dalam Bahasa India berarti orang yang memahami buku-buku suci Agama Hindhu. Adapun dalam Bahasa Melayu, disebut santeri menjadi santri, berarti pelajar atau terpelajar (learned) atau ulama ( moslem scholar).
Pesantren merupakan sub-kultur masyarakat sekaligus lembaga pendidikan karena tujuan pendiriannya lahirkan generasi berkeadaban. Apa yang santri lihat, dengar, amati dan alami selama di pondok pesantren adalah pendidikan. Dari sini, berkembanglah fisik, akal dan kalbu peserta didik ( santri) untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan juga akhirat. santri senior atas pertimbangan adab ( akhlak) dan kompetensi, ditugaskan untuk berkhidmah sebagai guru ( ustadz), mendampingi kyai sebagai pengasuh pesantren.
Keberlangsungan sebuah lembaga pendidikan sangat tergantung pada falsafah dan idealisme para penggagasnya. Apakah hal itu ada dan terealisasikan? Pesantren dipastikan mewujudkannya. Bila Pondok Modern Darussalam Gontor menanamkan Panca Jiwa (keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiyah dan berjiwa bebas) sebagai pijakan berkeadaban, maka Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo memiliki Trilogi Santri.
Trilogi tersebut adalah: pertama, al-Ihtimaam bi al-Furuudh al-‘Aimiyah ( memperhatikan kewajiban- kewajiban fardhu ‘ain). Secara normatif keislaman, santri terikat dengan nilai tauhid, nilai Syari’ah dan nilai akhlak. Riyadhah tertentu pun dilekatkan pada santri tertuju kepada Allah Swt.; kedua, al-Ihtimaam bi Tarki al-Kabaair ( mawas diri dan meninggalkan dosa besar). Jangankan dosa besar, dosa kecil pun sangat dihindari dari keseharian hidup santri; ketiga, Husn al-Adabi ma’a Allah wa ma’a al-Khalqi (mengabdi kepada Allah dan berbudi luhur terhadap sesama). Di pesantren, santri dididik untuk menjaga dirinya dari hal yang syubhat bahkan dari hal yang tidak layak. Artinya, baik kyai, ustadz ataupun santri diupayakan agar kehormatan diri (muru’ah) mereka terjaga. Mereka adalah orang-orang pilihan.
Kata,”Trilogi”, terdiri dari dua kata, yaitu: Tri (tiga) dan Logi / Logos (ilmu). Trilogi Santri, maksudnya tiga pijakan keilmuan bagi santri. Secara harfiah, istilah tersebut memberi kesan baharu, muncul belakangan atas tiga kalimat gagasan Kyai Zaini Mun’im (pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo Jawa Timur) yang mengandung makna filosofis keagamaan.
Apa yang digagas Kyai Sepuh tersebut mendahului psikologi kebanyakan sekalipun beberapa pimpinan pesantren lain yang sebatas mendirikan dan belum tentu memiliki tujuan pasti. Trilogi Santri adalah pijakan dasar untuk membentuk generasi berkeadaban, dimana pondok pesantren sebagai wadah untuk menempa mereka. Bila ketiga hal tersebut benar-benar tertanam dalam jiwa santri, maka akan terwujud masyarakat Ideal atau masyarakat Madani ( civil society).
Begitu mulia seorang ulama bernama KH.Zaini Mun’im yang telah menggagas kelembagaan pesantren yang kini menjadi pondok pesantren besar dengan beberapa dinamika, khususnya bidang pendidikan termasuk UNUJA (Universitas Nurul Jadid)–kesemuanya berpijak pada Trilogi Santri.
Menuju generasi berkeadaban, Trilogi tersebut diperkuat dengan Panca Kesadaran, yaitu: al-Wa’yu al-Diiny (kesadaran beragama), al-Wa’yu al-‘Ilmy(kesadaran berilmu), al-Wa’yu al-Hukuumy wa al-Sya’by (kesadaran berbangsa dan bernegara), al-Wa’yu al-Ijtimaa’iy ( kesadaran bermasyarakat), dan al-Wa’yu al-Nizhamy (kesadaran berorganisasi). Aspek lain yang menyatu dalam falsafah dan idealisme pesantren adalah hakikat kelembagaan, visi dan misi, nilai, tradisi dan prinsip kelembagaan.
Bayangkan bila Trilogi Santri dan atau Panca Jiwa sebagai pijakan dasar tidak menyertai proses pendidikan di pesantren? Akan sangat berat beban pemerintah. Maka dari itu, peran besar tokoh-tokoh tertentu terhadap penguatan kelembagaan pesantren perlu diapresiasi. Wassalam. (*)




