Oleh: Rusydi Sulaiman, Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung & Direktur Madania Center
Terasa senang diri ini ketika dihubungi oleh ketua Gugus Mutu fakultas di sebuah PTKIN ( Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) untuk mereview beberapa proposal penelitian dan proposal PKM (Pengabdian Pada Masyarakat).Berarti salah satu unsur Tridharma Perguruan Tinggi sebagai bagian dari beban kerja dosen akan tersalurkan.
Selain wajib meneliti dan lakukan pengabdian pada masyarakat dalam bentuk kerja individual dan atau kelompok, seorang dosen juga perlu menambah beban lain sebagai reviewer misalnya sebagaimana disebut. Memang tidak banyak yang memenuhi syarat, karena ada aspek-aspek tertentu wajib dipenuhi, baik yang bersifat administratif maupun aspek kompetensi. Sebagai dosen yang melekat kepadanya jabatan fungsional, seseorang harus berupaya optimalkan dua aspek tersebut.
Mereview tidak hanya melihat beberapa proposal, lalu memberi persetujuan, melainkan membaca cermat dan mengkritisi hasil karya ilmiah tertentu termasuk proposal penelitian, apakah sudah memenuhi syarat atau belum. Karya dimaksud adalah karya ilmiah, bukan karya tidak ilmiah dan karya non ilmiah.
Karya ilmiah adalah tulisan sistematis yang disusun berdasarkan fakta, metodologi, dan bukti objektif, seperti buku ilmiah, makalah dan artikel dalam jurnal dan hasil penelitian ilmiah. Sebaliknya, karya non-ilmiah adalah karya yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi atau imajinasi dan bersifat subjektif. Adapun karya tidak ilmiah berada di antara keduanya, yaitu karya yang menyajikan sudut pandang pribadi tanpa metode pembuktian standar atau diluar prosedur ilmiah.
Mereview karya ilmiah setidaknya mendalami dua sisi, yaitu: metode penulisan dan materi atau konten sebuah karya ilmiah. Metode penulisan dimaksud adalah serangkaian prosedur sistematis yang digunakan untuk mengumpulkan, menganalisis dan menyajikan informasi atau data, setidaknya dengan dua pendekatan, yaitu: pendekatan kualitatif dan atau pendekatan kuantitatif, teknik pengumpulan data dan pedoman tata bahasa. Terdapat beberapa hal yang mesti dipenuhi dalam konteks metode penulisan tersebut. Diperlukan kecermatan tersendiri tentang beberapa hal, seperti penempatan judul, keharusan huruf besar atau huruf kecil, kutipan langsung atau tidak langsung dalam badan tulisan dan semacamnya. Beda karya ilmiah akan berbeda pula metode penulisannya.
Adapun materi karya ilmiah tampil dalam bentuk buku, makalah, artikel jurnal dan hasil penelitian ilmiah yang masing-masing terdiri dari bagian-bagian tertentu sesuai kriterianya. Buku misalnya selain uraian beberapa bab, perlu dilengkapi lembar katalog, biodata penulis, dan lain-lain.
Terkait karya ilmiah, maka hal itu menjadi kemestian bagi setiap dosen di PTKIN yang melekat kepadanya jabatan fungsional.Tentunya tak sebatas menghasilkan karya ilmiah tertentu, melainkan dosen diharapkan mampu mengkritisi dan kemudian menyempurnakannya menjadi karya konseptual. Saling membantu sesama dosen untuk memperkuat skill dalam bidang akademik, khususnya karya ilmiah sangatlah strategis. Akhirnya setiap dosen terlatih dan kemudian berusaha menikmati.
Singkatnya, seorang dosen harus menikmati profesinya sebagai insan akademis dan ia mesti senang bila ada hal-hal bersifat akademis ditugaskan kepadanya. Sebaliknya, ia tidak suka dan berkeberatan bila hal-hal tidak akademis terlalu membebaninya.
Itulah dosen dengan segala kelebihan dan kekurangannya–profesi yang dibanggakan oleh banyak orang. Mari menikmati profesi sebagai dosen di PTKIN. Wassalam. (*)




