Oleh: Rusydi Sulaiman, Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung & Direktur Madania Center
Pernahkan anda ke luar negeri dan untuk tujuan apa? Jawabannya pernah; baru sekali, beberapa kali atau belum sama sekali. Bila kepergian tersebut bersifat pribadi dengan bekal cukup, hampir pasti tujuannya jalan-jalan atau rekreasi. Bila bersifat dinas ( formal), maka seseorang disibukkan dengan kegiatan kantor. Sekali waktu sempatkan refreshing, berkunjung ke lokasi tertentu.
Apapun bentuk bila tujuannya ke luar negeri pasti sangat menyenangkan. Hampir pasti siapapun akan siapkan segalanya, baik fisik maupun jiwa. Fisik dimaksud sehat raga dan kesiapan modal serta prasarana terkait. Adapun secara kejiwaan, seseorang senang jadi berangkat ke luar negeri, diprioritaskan. Kegiatan lain diabaikan.
Tidak sesederhana itu apalagi tujuannya ke negara tertentu; Singapura, Ausie atau USA. Bisa jadi obsesi banyak orang !. Belum pernah pergi, lalu menjadi pernah, pasti hal tersebut mengesankan bagi mereka. Setidak-tidaknya bawa gantungan kunci berlabel negara tujuan sebagai kenang-kenangan atau setiap orang akan bercerita sebanyak-banyaknya tentang apa yang ia alami selama di luar negeri,”tahaaduts bin-Ni’mati”. Boleh-boleh saja, tidak masalah!.
Masalahnya bukan sekedar bepergian ke luar negeri, akan tetapi lebih pada mentalitas warganegara di negeri ini berhadapan dengan negara lain. Apapun yang bersumber dari negara lain diyakini pasti bagus dan berkualitas. Semahal-mahal barang asal produk luar negeri pasti dibeli, disebut,”branded”, ber-merek. Sudah jelas barang tersebut misalnya diproduksi di sebuah kampung di Indonesia, namun dibeli di luar negeri, pasti diyakini berasal dari luar negeri–sangat-sangat overseas country minded, not Indonesia minded!
Akibatnya, orang asing pun (luar negeri) merasa lebih tinggi dari warganegara di negeri ini. Agak mengusik jiwa, mengapa fenomena tersebut terus berlanjut padahal kita sudah merdeka hampir seratus tahun. Sistem kolonialisasi penuh yang berlangsung berabad-abad oleh beberapa negara kolonial hampir menjadikan bangsa ini berada dibawah titik nadir peradaban, termarjinalkan sehingga selalu saja merasa berada dibawah; subordinat, inperior, domestik dan terjajah. Akhirnya minder dan sulit beradaptasi di hadapan siapapun (merasa kelas tiga) apalagi saat akan pergi ke luar negeri. Westernisasi adalah fakta yang terjadi–meniru Barat secara fisik tanpa dicerna sebelumnya. Berbeda dengan Easternisasi–hadirnya oriientalis, yaitu Orang Barat yang sangat memahami Timur ( Islam) untuk tujuan tertentu.
Sekedar pengalaman; suatu hari saat seseorang asal Indonesia berbelanja di Puddy Market di Sidney di sela kunjungan resminya ke Australia. Tiba-tiba ia ditunjukkan tiga topi murah seharga sepuluh US dollar. Ia terkejut dan heran, seraya menegur dengan bahasa Inggris yang baik: Maksudnya ingin beli topi yang bagus,”branded”. Penjaga toko tersebut akhirnya minta ma’af. Kisah ini menegaskan, bahwa begitu kita dianggap remeh oleh orang luar negeri padahal kenyataannya mungkin kita lebih berpendidikan. Mengapa demikian? Kurangnya sikap dan rasa bangga kita akan negeri sendiri mungkin salah satu sebab.
Beberapa fakta membuktikan, bahwa hal serupa seringkali terjadi. Apresiasi berlebihan dan sikap over-estimate terhadap siapapun dan apapun berasal dari luar negeri tidak juga baik. Semua warganegara sama dan setara. Tinggi atau rendahnya peradaban secara umum menjadi pijakan.
Kebijakan Presiden Prabowo meningkatkan produksi solar dan menghentikan impor komoditas tersebut sebenarnya adalah upaya mengangkat harga diri bangsa ini agar tidak selalu dalam ketergantungan kepada pihak asing. Selain itu, kita mesti bangga dengan produk dalam negeri–Indonesia minded pastinya. Aspek-aspek lain mesti ditingkatkan kualitasnya apalagi pendidikan.
Boleh-boleh saja bepergian ke luar negeri untuk tujuan apapun. Buktikan bahwa kita lebih berkualitas dalam segala hal. Belajarlah dari pengalaman Hidup Prof. Baharuddin Yusuf Habibi selama di luar negeri, anak kampung di negeri ini yang mendunia dan diapresiasi oleh orang luar negeri lantaran keahliannya di bidang teknologi modern.
Berhentilah minder dihadapan siapapun dan perkuat mental dalam bersikap. Menjadi diri sendiri adalah lebih baik. “Al-I’timaadu ‘alan-Nafsi Asaasun-Najaahi” (Berpegang teguh pada diri sendiri adalah dasar kesuksesan). Indonesia minded. Wassalam. (*)





