WAISAK; SAMMASAMBUDDHA DAN SEMANGAT KEBAJIKAN

Bagikan
Oleh: Rusydi Sulaiman, Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung & Direktur Madania Center

Walaupun Adam a.s. sebagai manusia pertama telah men-tauhid-kan Tuhan, Allah Swt., tapi tidak serta merta diikuti oleh generasi berikutnya. Belum tentu mereka berbudaya dan beragama. Berikutnya agama dan keyakinan tertentu dianut pasca kehadiran orang-orang bijak terdahulu.

Ketika agama-agama tertentu muncul dan mengalami kegemilangan (The Axis time of Religion) pada abad ke-6 SM, maka salah satunya adalah Agama Buddha, berpijak pada seorang tokoh pencetusnya, Pangeran Sidharta. Ia disebut orang bijak dan pertapa( menurut Arnold Toynbee). Pihak tertentu menyebutnya pribadi se-kelas nabi, utusan Tuhan, diterjunkan ke muka bumi untuk tujuan kebaikan. Beberapa tokoh lain di masa itu adalah: Zarathustra, Confocius dan Vetagoras. Kata-kata bijak mereka menjadi pijakan para pengikut.

Ditegaskan dalam QS.Ghafir (40):78)–Artinya: “Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad), di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antaranya ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak ada seorang rasul membawa suatu mukjizat, kecuali seizin Allah. Maka apabila telah datang perintah Allah, (untuk semua perkara) diputuskan dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil”. “Walllaahu A’lam bush-Shawaabi”.

Buddha adalah maqam tertinggi manusia di hadapan Tuhan dalam perspektif Agama Buddha. Renungan panjang dan sentuhan kebaikan Pangeran Sidharta menjadikannya Buddha, disebut Buddha Gautama. Setelah itu ketokohan dan ajarannya dikuti komunitas disekitarnya. 5 murid pertama adalah:kondanya, Bhadrika, Vashapa, Mahanama dan Ashvaji–kesemuanya berupaya menjadi Buddha layaknya mahaguru ( Sammasambuddha).

Terlepas dari sikap–meyakini atau sebaliknya, tidak meyakini agama tersebut, Pangeran Sidharta yang belakangan digelar Buddha Gautama adalah tokoh fenomenal di zamannya. Inti semua ajaran yang ditanamkan kepada penganut Buddha, yaitu:”Lemparlah semua kejahatan dan himpunlah semua kebaikan. sucikan hati dan pikiran”.

Dalam sejarah manusia, faktanya Agama Buddha juga diminati dan berkembang walaupun tidak sebesar agama-agama baru sesudahnya. Sebagian ahli mengkategorikannya sebagai Agama Budaya (Cultural Religion) walaupun tidak sepenuhnya sepakat. Kekuatan kepribadian Buddha Gautama dan keseluruhan kelakuannya sebagai salah satu wujud budaya mengindikasikan agama tersebut. Logis juga bila ia diminati.

Semangat Kebajikan

Apapun agama yang diyakini, muatannya adalah kebaikan atau kebajikan, dan tujuannya kebahagiaan di dunia dan akhirat. Maka dari itu, satu upaya yang mesti dilakukan adalah pensucian diri. Masing-masing agama mengajarkan hal tersebut walaupun dalam bentuk dan metode berbeda termasuk Agama Buddha.

Perayaan Waisak

Sebagai bentuk muhasabah atas perbuatan sebelumnya dan dalam rangka tempuh kebajikan, penganut Agama Buddha rayakan Waisak (Hari Raya Trisuci Waisak) ke 2570, tepatnya tahun ini, 31 Mei 2026 M. Istilah Waisak berasal dari kata,”vesak”dan juga “wesak” ,melambangkan kesucian dan berada di bulan suci bagi penganut Agama Buddha, bertumpu kepadanya tiga peristiwa, yaitu: waktu kelahiran Pangeran Sidharta (623 SM); proses atau jalan yang ia tempuh menuju Buddha atau Sammasambuddha (pribadi agung); dan waktu wafatnya (543 SM) di usia 80 tahun–bertumpu dalam dirinya kesucian ( bagi pengikut).

Tak henti-hentinya penganut Agama Buddha meneladani ketokohan Buddha Gautama dan kelakuannya sebagai upaya pensucian diri. Pensucian diri identik dengan kebajikan. Bila kebajikan dan kebaikan bertambah, maka seseorang akan bertambah bijak. Sikap bijak sentuhkan kelembutan dimana pun dan kepada siapapun sekalipun di tengah tingginya keterusikan duniawi.

Cukup banyak materi ajaran Buddha yang bisa dibekalkan kepada siapa pun yang meminatinya. Setidaknya menjadi bahan perbandingan bagi penganut agama lain sekaligus menambah wawasan. Bagaimana Penganut Agama Buddha menyikapi kompleksitas masalah kekinian adalah hal yang perlu juga diketahui. Waisak adalah salah satu solusi bagi penganutnya, maka ia kemudian diperingati dari tahun ke tahun.

Begitu juga agama-agama lain, baik Agama Samawi ( Divine Religion) maupun Agama Ardhi (Cultural Religion), hadir membawa kabar gembira dan peringatan bagi penganut masing-masing menuju masyarakat berperadaban. Wassalam. (*)