MADANIA CENTER BABEL — Tidak disangka, perjalanan Rusydi Sulaiman, Direktur Madania Center Bangka Belitung ke Madura akan sangat padat. Tujuan awal sebenarnya adalah dampingi H.Idham Supri memondokkan putrinya di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura dan memenuhi undangan sebagai narasumber Visiting Professor di Pascasarjana UIN (Universitas Islam Negeri) Madura, kenyataannya beberapa kegiatan menyertai.
Ketika harus menginap beberapa malam di Kompleks Lubangsa Utara Pondok Pesantren An-Nuqayah, tempat Nanda Fadhilah Hunaini dan suaminya KH.Naqib Hasan mengabdi sebagai pengasuh, Rusydi Sulaiman, Direktur Madania Center yang juga Guru Besar dalam Kepakaran bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, Selasa malam, 1 juli 2025 didaulat memberikan ceramah atau orientasi Hijrah berjudul,” Hijrah dalam Lintasan Sejarah: Inspirasi dalam Membangun Peradaban.

Sangat terharu pastinya di malam tersebut karena Nanda Fadhilah Hunaini, pengasuh Kompleks Lubangsa Utara dan juga dosen Universitas An-Nuqayah menambahnya dengan acara Syukuran Guru Besar abinya, Rusydi Sulaiman karena ketidakhadiran dirinya dalam acara pengukuhan satu bulan lalu, Selasa, 3 Juni 2025 di kampus IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung.
Sesuai tema, Rusydi Sulaiman mengurai peran orang-orang bijak dan sejarah Islam dan lainnya dengan Hijrah Nabi Muhammad. Nabi akhir tersebut adalah sosok utama dan yang paling dimuliakan dari keseluruhan nabi dan rasul (Afdhalul-Anbiyaa’), lebih spesifik adalah Ulul Azmi terbaik walaupun secara alamiah terlahir belakangan. Allah menetapkan hal tersebut dan melekatkannya kepada Muhammad saw., tambahnya.
Dalam sejarah hijrah, Tahun Baru Islam, Nabi Agung tersebut tidak sendirian, melainkan menyertainya para Sahabat (Muhajirin dan Anshar) pasca beliau dijamin keamanannya saat menuju Yarsrib. Akhirnya Yarsrib menjadi Madinah dengan kepala negara, bernama Muhammad saw.
Maka dari itu, Direktur Madania Center tersebut mengajak para santriwati untuk meneladani irang-orang bijak sekelas nabi dan rasul, terutama Muhammad saw. sebagai pelaku awal dan utama hijrah tang berikutnya menjadi landasan Tahun Baru Islam. Mereka sangat antusias dan nampaknya terinspirasi membangun peradaban.
Kompleks Lubangsa Utara di Pesantren tertua di Madura tersebut mengasuh 200-an santri dan santriwati yang sebagian belajar di Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah An-Nuqayah dan 30-an mahasiswa Universitas An-Nuqayah. Mereka hidup sederhana dan memiliki ghirah belajar yang kuat di lembaga tersebut. (*)





