MADANIA CENTER BABEL — Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan, Allah Swt. yang lebih bernilai dari makhluk lain karena dua potensi yang melekat kepadanya, yaitu akal dan kalbu sekalipun se-kelas malaikat. Sebaliknya, manusia akan menjadi hina bahkan melebihi binatang bila kedua potensi tersebut tak berfungsi sama sekali. Solusinya adalah optimalisasi akhlak dalam diri manusia dan menjadikannya sebagai pijakan.
Semangat itu ditegaskan oleh Rusydi Sulaiman, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung saat terjadwal sebagai khatib di Masjid Permuthi Pangkalpinang, Jum’at, (15/8/2025).
Menurutnya, akhlak tidaklah rumit, tidak perlu pemikiran untuk menjadi orang berakhlak. Maksud atau niat berbuat baik adalah modal terbesar menuju akhlak mulia. Beberapa ulama mengamininya dan mendefinisikan sebagai berikut: pertama,”Haalun lin-Nafsi Daa’iyatun lahaa ilaa Af’aalihaa min ghairi Fikrinn wa laa Ru’yatin” (Ibnu Maskawih); kedua, “Ibaaratun ‘an Haiatin fin-Nafsi, Raasyihotun minhaa Tashdhurul-Af’aalu bisuhuulatin wa Yusrin min ghairi Haajatin ilaa fikrin wa Ru’yatin” (Imam al-Ghazali). Jadi akhlak dimaksud adalah sifat kemanusiaan yang berperadaban (ash-Shifaat al-Insaaniyah al-Adabiyah). Terma-terma semisal antara lain: perilaku, laku, etika, moral, adab, tatakrama, sopan santun.
Rusydi Sulaiman yang juga Direktur Madania Center Bangka Belitung menyebutkan beberapa sumber yang mengindikasikan tentang akhlak tersebut; QS.Al-Ahzaab(33):21, QS.Al-Qalam (68):4 dan QS.Asy-Syu’araa’ (26):137–kesemunya merujuk kepada sosok Nabi Muhammad yang berakhlak. Akhlak adalah pijakan, dan dengannya manusia menjadi bernilai dan sangat dimuliakan kedudukannya.
Tema ini nampaknya penting disentuhkan kepada jama’ah Masjid Permuthi yang terletak di Kampung Melintang Pangkalpinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Kampung Melintang yang diplesetkan ,”Texas” oleh pihak tertentu karena lingkungannya yang mengusik religiusitas masyarakat sekitar, tidak sepenuhnya benar. Justru kampung tersebut sejak dulu bernuansa edukatif karena ada beberapa lembaga pendidikan; SDN 1 Pangkalpinang, Sekolah Setia Oetama, Sekolah Arab Al-Ittihaadiyah Al-Islamiyah (AIAI) dan Masjid Al-Badr termasuk Masjid Permuthi yang tetap bertahan kelembagaannya hingga kini.
Alhamdulillah jama’ah yang memenuhi masjid Permuthi di hari itu sangat antusias. Salah satu sebabnya adalah lingkungannya sangat bersih.
Kampung Melintang tercatat dalam peta Res. Bangka en Onderh. Opgenomen door den Topografischen dienst in 1928-1929 Blad 34/XXV d, KK 083-04-01/085-04-10_087-05978-086, Digital collections Leiden University Libraries. Toponimi Melintang diberikan karena pemukiman penduduk dibangun di kiri kanan jalan yang melintang, tidak sejajar dengan jalan utama (Verharde Weg) yang lebih dulu ada, yakni jalur dari pusat Pangkalpinang menuju Sinarboelan di Utara serta jalur dari Kampung Jelutung ke arah distrik Sungaiselan.
Kampung Melintang tidak hanya dikenal dengan tata letak geografisnya yang unik, tetapi juga dengan hadirnya satu masjid atau langgar yang kini dikenal sebagai Masjid Permuthi (Al Badar). Masjid tersebut menjadi pusat kegiatan ibadah sekaligus ruang pembinaan moral, sehingga berperan penting dalam upaya memperbaiki akhlak masyarakat setempat. Dari generasi ke generasi, keberadaan masjid ini terus menjadi poros persatuan dan pembinaan karakter Islami bagi warga Kampung Melintang. (*)





