PANGKALPINANG — Idul Adha dipastikan semarak walaupun tidak semeriah perayaan Idul Fitri, karena selain tunaikan shalat berikutnya ada kegiatan penyembelihan hewan qurban hampir di setiap masjid dan tempat tertentu seperti pondok pesantren dan lainnya.
Di kesempatan Idul Adha tahun ini, 10 Dzulhijjah 1447 H, beberapa dosen IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung berkesempatan menjadi khatib dan imam Shalat Idul Adha atas permintaan masyarakat, tak terkecuali Rusydi Sulaiman. Guru Besar tersebut terjadwal sebagai khatib di Masjid Baitul Makmur di lingkungan perkantoran Walikota Pangkalpinang Prov.Kep.Bangka Belitung.

Begitu banyak jama’ah yang hadir memadati masjid Baitul Makmur untuk tunaikan shalat bahkan hingga teras dan halaman masjid tersebut. Masjid tersebut tergolong tua, dibangun pada Pemerintahan Orde Baru, dan bentuk atau arsitekturnya juga berbeda dengan masjid umumnya di Bangka Belitung.

Pada hari ini, pelaksanaan shalat agak awal, berbeda dengan waktu shalat Idul Fitri karena masih ada kegiatan penyembelihan hewan qurban. Takbir pun dikumandangkan beberapa hari selama hari tasyriiq.
Dalam khutbahnya, Rusydi Sulaiman menyampaikan tema tentang,”Manusia, antara Takdir dan Ikhtiar”. Menurutnya, selain berdo’a, setiap hamba Allah harus berikhtiar untuk kesempurnaan hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat. Takdir selalu saja selaras dengan ikhtiar kecuali Allah berkehendak lain. Artinya, manusia tetap saja berbuat, akan tetapi mereka tidak kuasa atas takdir dirinya.

Secara detail Direktur Madania Center tersebut menekankan tentang nuansa kesucian Bulan Dzulhijjah, lalu ikhtiar apa yang semestinya dilakukan menuju takdir yang baik.Ulasan sekilas tentang Ibrahim a.s.dan keluarganya sebagai motivasi bagi generasi berikutnya, bagaiman berikhtiar. Begitu besar pengorbanannya (QS.Ibrahim (14): 37) sehingga beliaupun diapresiasi dengan beberapa mukjizat. Kehadiran kambing besar (kibsun) sebagai daging qurban setelah terbukti keteguhan dan kesabaran Ibrahim a.s. dan putranya, Ismail a.s.
Di akhir khutbah, Rusydi Sulaiman mengajak jama’ah melestarikan tradisi yang telah disyari’atkan melalui nabi-nabi terdahulu. Bila hal itu dilakukan dengan penuh ketulusan, maka Allah akan men-istijaabah-kan amal shaleh kita. Mudah-mudahan kita senantiasa dalam lindungan Allah Swt. Wassalam. (*)





