Oleh: Rusydi Sulaiman, Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung & Direktur Madania Center
BILA sesuatu yang diinginkan didapat, siapapun senang dan bahagia. Hampir pasti ia ceritakan bentuk kesenangannya kepada orang terdekat; suami atau isteri, adik, kakak, kerabat dan juga kolega. Mungkin ia sebarkan ke banyak orang, hitung-hitung tahaaduts bin-Ni’mah, bersyukur atas sesuatu yang telah dianugerahkan kepadanya.
Begitu juga jabatan tertentu yang sebelumnya dituju apalagi melekat kepadanya tunjangan atau insentif, honorarium bahkan otoritas dan kebijakan ( policy) tertentu. Resmilah ia sebagai pimpinan di sebuah lembaga atau institusi tertentu misalnya. Sangat menarik bila setiap yang dinobatkan sebagai pimpinan berkeinginan lakukan perubahan dengan ide dan gagasan besarnya, tidak sekedar duduk, tanda tangan dan mengiyakan semua keinginan bawahan tanpa petunjuk apapun.
Lebih spesifik di IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung–satu satunya PTKIN di Bumi Serumpun Sebalai–baru saja (Senin, 25 Mei 2027) beberapa pimpinan setingkat dibawah rektor; warek, dekan dan direktur Program Pascasarjana dilantik–dua pekan pasca pelantikan Rektor, Prof. Dr.H.Janawi, M.Ag oleh Menteri Agama RI. di Jakarta. Pastinya sivitas akademika senang dan antusias, terlihat dari sejumlah orang yang hadir saat itu. Tersirat di benak mereka harapan perubahan kedepan, ditopang dengan langkah pasti para pimpinan yang solid, menyatu dibawah kepemimpinan yang satu.” Tidak ada matahari kembar”.
Menakar Kepemimpinan
Ingin jadi pimpinan boleh-boleh saja dan faktanya banyak yang mau bahkan ambisi, tapi ingat, bahwa memimpin itu tidak mudah selain tidak banyak yang layak menjadi pimpinan apalagi pemimpin. Mudah-mudahan Rektor sudah berhitung, hitung-hitungan dan juga memperhitungkan segalanya sehingga memilih dan menetapkan para pembantu atau pendamping dalam rangka berkhidmah untuk umat. H.Janawi– mengawali dan mengakhiri–Pgs. Ketua STAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung pertama tahun 2004, dan Rektor IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung di usia menjelang 60 tahun. Jabatan pastinya tidak dibanggakan, melainkan dijaga sebagai amanat.” Kullukum Raa’in wa Kullukum Mas’uulun ‘an Ra’iiyatihi (Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas yang dipimpin).
Kepemimpinan berupa jabatan yang disandang tersebut diapresiasi, dan sebaliknya diragukan. Apresiasi karena sebuah jabatan tidak juga mudah didapat. Berikutnya si pimpinan buktikan kepemimpinannya. Adapun diragukan, karena orang atau pihak tertentu tidak yakin akan kepemimpinan seseorang, maka ia (pimpinan) harus berusaha buktikan bahwa ia mampu menjaga amanat kepemimpinannya.
Perihal tersebut, Allah tegaskan dalam QS.Al-Ahzaab(33):72)–Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia ( manusia) sangat zhalim lagi sangat bodoh”.
Niat Memimpin
Wajar dan sangatlah logis bila manusia kemudian memegang amanat yang Allah tawarkan; pertama, keterbatasan dan ketidaksiapan makhluk-makhluk lain; kedua, keteranugerahan dua potensi yang melekat pada manusia, yaitu: akal dan kalbu sehingga manusia memberanikan diri untuk memikul amanat; ketiga, fungsionalisasi akal dan kalbu memberi peluang bagi manusia untuk lakukan penguatan dalam mengemban amanat tersebut. Akal mewujud ide, gagasan, pemikiran bahkan teori dan idealisme yang menjadi pijakan dalam konteks kepemimpinan. Dan kalbu lahirkan wujud kelakuan sebagai pijakan etik dalam mengemban amanat. Sebagai makhluk yang berani memikul amanat, manusia harus memiliki niat baik sebelum memimpin. Kepribadian baik dan integritas diri merupakan modal dasar bagi seorang pimpinan dan pemimpin.
Dipastikan setiap calon pimpinan telah membuat visi dan misi kepemimpinannya, juga program kerja strategis yang membedakannya dengan orang lain. Maka, pasca penetapannya secara formal sebagai pimpinan, ia tinggal realisasi program-program tersebut sesuai dengan tahapan. Diharapkan si pimpinan melangkah pasti dalam memimpin. Tidak ada satu pun kegiatan diluar kendali dan persetujuannya, karena ia memiliki otoritas atas itu semua. Kepastian dan kekuatan tersebut sangat diharapkan dari setiap pimpinan, dan agar ditaati oleh para bawahan.
Menjaga Amanat Kepemimpinan
Yang dikehendaki sesungguhnya bukan sekedar pimpinan layaknya atasan formal yang membawahi seabrek kerja administrasi dan hal-hal tehnis perkantoran, melainkan atasan dengan kekuatan moral sekaligus pemimpin.
Setidaknya disyaratkan empat hal dalam memimpin, yaitu: pertama, adil. Adil dimaksud tidak memihak dan bersikap objektif. Adil tidak mesti sama, tapi seimbang–dirasakan sama oleh bawahan apalagi tujuannya adalah kemaslahatan; kedua, bijaksana. Kebijaksanaan berpijak pada banyak kebaikan. Pimpinan yang demikian dipastikan mampu mengambil sikap terhadap masalah apapun yang dihadapkan kepadanya; ketiga, keberanian moral. Membela dan memperjuangkan nasib orang banyak adalah sikap yang harus ada pada diri pimpinan sehingga ia kemudian dapatkan pengakuan publik. Keberanian moral berjalan seiring dengan kepekaan sosial. Jaga image tidak selalu ditonjolkan, karena sesungguhnya apresiasi bawahan muncul dari lubuk hati yang paling dalam.
Adapun keempat adalah memaafkan dan bersikap lembut ( ‘iffah). Tidak ada bawahan yang terlalu dibeda-bedakan. Sentuhan logika dan rasa untuk semua pada kadar tertentu demi kebaikan dan masa depan lembaga. Memaafkan, hal itu akan lebih baik bagi seorang pimpinan walaupun teringat dan tak terlupakan–sebagai bahan evaluasi dan ghirah perkuat lembaga.
Empat hal di atas setidaknya mencirikan setiap pimpinan di lembaga manapun dalam semangat menjaga amanat kepemimpinan. Bila terpenuhi, maka keraguan Tuhan, Allah Swt. terhadap manusia ternafikan. Mudah-mudahan setiap pimpinan mampu membuktikan kepemimpinannya.Wassalam. (*)





