Oleh: Rusydi Sulaiman, Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung & Direktur Madania Center.
Pondok pesantren bukanlah lembaga biasa sebagaimana sekolah atau sekedar padepokan dan atau majelis taklim, melainkan lembaga khas Nusantara (an Indigenous Institution) yang sudah jauh sebelum kemerdekaan NKRI bahkan lembaga tersebut telah berkontribusi besar dalam mempertahankan bangsa ini.
Lembaga pendidikan tertua tersebut berdiri atas idealisme kuat pribadi-pribadi luhur yang sangat diakui keahliannya di bidang agama dan juga nilai kearifan lokal sehingga apa yang disentuhkan kepada masyarakat selalu dapat diterima dengan baik. Pesantren pasca sejarah panjang pengelolaannya menjadi berakar dan senantiasa berada di hati masyarakat. Implikasinya lembaga tersebut digandrungi calon wali santri yang ingin putranya menjadi lulusan yang berhasil.
Bila ada stigma negatif bahkan tuduhan tertentu terhadap pondok pesantren karena ulah orang atau kelompok tertentu di dalamnya, maka hal itu bukanlah kebiasaan. Sebagai lembaga pendidikan, pihak pesantren tidak akan sepakat dan mentolerirnya. Justru lembaga tersebut berupaya mendidik para santri selurus-lurusnya. Tidak usah urusan primer pendidikan, menu makan ribuan santri pun dan segala kebutuhan sehari-hari mereka tertangani dengan baik. Tentunya peran tersebut perlu apresiasi kepada semua pondok pesantren di negeri ini.
Wajarlah kemudian bila pesantren lahirkan lulusan atau alumni berkualitas. Ketika dua corak kepesantrenan, yaitu: Salaf dan Khalaf melekat, faktanya keberhasilan itu terbukti. Lulusan pesantren salafiyah (tradisional) yang secara umum diragukan , faktanya tidak. Banyak diantara mereka yang memainkan peran penting di semua lini pemerintahan, masyarakat juga jalur lainnya.
Perwujudan keberhasilan tersebut cukup mencengangkan. Pihak tertentu masih menyangsikan, kok bisa? Dilabel out up date (ketinggalan zaman), tapi kenyataannya up date (menzaman)! Ketulusan hati para sesepuh pendiri dan keberlangsungan panjang pendidikan pesantren akhirnya membuahkan hasil, dibuktikan para alumninya yang siap pakai di tengah masyarakat.
Hal tersebut juga mengusik ghirah akademik para akademisi di PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri), khususnya beberapa dosen IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, yaitu: Rusydi Sulaiman, Gustin dan Iqrom Faldiansyah, didampingi Fitriah Wahyuni, Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam FDKI IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung serta Endang Kusniati sebagai pembantu peneliti di lapangan sehingga memutuskan untuk lakukan penelitian, berjudul: ” Institutionalization of Higher Education in Indonesia and Malaysia: The Role of Academics of Traditional Pesantren Alumni”. Diikutkan dalam penelitian tersebut, seorang dosen University Kebangsaan Malaysia, yaitu Khazari bin Osman. Penelitian dimaksud bersifat kolaboratif internasional (International Collaborative Research) di dua negara rumpun Melayu, Indonesia dan Malaysia.
Asumsi awal tentang peran akademisi alumni pesantren tradisional di PTKIN sepertinya akan terbukti setelah di awal penelitiannya beberapa peneliti tersebut lakukan penggalian data melalui interview mendalam dan observasi langsung ke objek penelitian. Mereka juga menguak kembali aspek-aspek kepesantrenan sebagai basis alumni dimaksud. Sentra pendidikan semacam pesantren di Malaysia juga menjadi kansern peneliti. Maka dari itu beberapa informan terkait pokok bahasan didatangi merujuk pada instrumen penelitian yang telah sebelumnya.
Besar harapan para peneliti agar hasil temuan penelitian tersebut dapat menegasikan keraguan banyak pihak terhadap kelembagaan pondok pesantren dan utamanya kiprah dan peran alumni.
Sedih sekali bila ada pihak tertentu dan sebagian masyarakat yang menjelek- jelekkan lembaga tertua di Nusantara tersebut tanpa tabayyun sebelumnya. Jangan karena suatu hal negatif terjadi di pesantren tertentu, lalu mereka memberi justifikasi. “Na’uudzu billaahi min dzaalika”. Mudah-mudahan reputasi pesantren tetap terjaga hingga akhir zaman. Wassalam. (*)



