MENJAGA MARWAH “GURU” DI  KAMPUNG BANGKA

Bagikan
Oleh: Rusydi Sulaiman, Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam & Direktur Madania Center

Suatu hari seorang “Guru” beserta muridnya yang sangat setia keluar rumah memenuhi undangan pengajian ( ceramah) di sebuah kampung terpencil di negeri ini. Mereka naik kendaraan umum bersama penumpang lain. Tidak ada dalam bentuk atribut keagamaan melekat di badan kecuali kopiah hitam di kepala. Seketika seorang penumpang berkata kotor seenaknya. Beberapa penumpang lain tertawa, seakan-akan senang. Sang “guru” terdiam, geleng kepala dan  menegur . Mereka terus tertawa dan mentertawakan sikap “guru”.  Yang salah dibenarkan, tapi yang benar disalahkan.

Hampir tidak lumrah lagi sikap saling  menghormati, dan saling menghargai diantara kita.  Pasti ada beberapa faktor yang  menyebabkannya. Mungkin  kurangnya kepedulian orang tua  dan berkurangnya  pembiasaan diri remaja. Mungkin juga karena pengaruh modernitas yang disalah pahami sehingga mengusik jiwa generasi negeri ini.

Semestinya  orang yang lebih tua dihormati dan juga diapresiasi apalagi orang tua sendiri karena mereka telah melahirkan dan mendidik hingga dewasa–menjadi orang yang berguna. Juga orang lain yang telah berjasa buat kita selama ini, pastinya mereka disikapi sama halnya orang tua.

Akhir-akhir ini begitu banyak sikap tidak berakhlak bahkan menyimpang terhadap orang tua dan orang yang dianggap tua. Hampir di setiap daerah, fakta tersebut ditunjukkan oleh yang lebih muda. Disayangkan bila fenomena itu dianggap biasa, wajar bahkan terkadang dibiarkan berlalu tanpa teguran apalagi sangsi, nampaknya tak mungkin dilakukan. Jangan-jangan orang yang menegur pun disalahkan.

Begitu juga sikap kurang baik  kepada orang bijak, seperti ulama, kyai, Buya, ajengan , tuan guru  dan Syeikh tertentu. Satu istilah yang dilekatkan pada tokoh tertentu setara Tan Guru di Kampung Bangka, disebut “Guru” sebagaimana diceritakan. Guru dimaksud  dikenal  alim atau ahli dalam bidang agama dan juga nilai kearifan lokal setempat.  Namun tidak demikian,  sosok tersebut hampir tidak dirujuk. Lagi-lagi masyarakat lebih menyukai orang baru yang belum dikenal sebelumnya atau cenderung untuk kepentingan pragmatis. Sikap euforia tersebut menggerus peran tokoh-tokoh lokal, terkhusus “Guru”–selanjutnya disebut “Guru Kampung”.

Dihormati atau sebaliknya tidak dihormati, Guru Kampung tetap eksis dan signifikan keberadaannya bagi masyarakat di kampung Bangka. Guru Kampung dianggap serba bisa. Ia pun menangani semua masalah yang dialami penduduk kampung. Terlepas dari sembuh atau tidak sembuh dari penyakit dan teratasi atau tak teratasi sebuah masalah, Guru Kampung diyakini mampu mengobati penyakit dan mengatasi semua masalah. Keyakinan mendalam membuat sebagian orang tidak kemudian mengkritisi status Guru Kampung. Benak mereka terasosiasikan ke sosok Guru Kampung.

Guru Kampung, melekat kepadanya otoritas keagamaan sekaligus disebut “spiritual leader”   bagi penduduk setempat. Ia berada terdepan membela kepentingan masyarakat. Guru Kampung adalah sosok kharismatik dan memiliki nuansa kepemimpinan tersendiri. Pengakuan publik cukup kuat kepadanya.

Disayangkan, istilah “Guru” di Kampung Bangka kadang diplesetkan–dilekatkan pada seseorang yang sebenarnya tidak memenuhi kualifikasi dan kepribadian  “guru” yang sebenarnya, sementara sosok ideal yang ada di kampung Bangka kurang dianggap keberadaannya–salah kaprah.

Panggilan “Guru” tidak diminta, melainkan bersumber dari masyarakat karena kebesaran hati dan keahliannya di bidang tertentu juga agama. Marilah kita menjaga Marwah “Guru”. (*)