Manusia, antara Ikhtiar dan Takdir

Bagikan
Oleh : Rusydi Sulaiman, Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung & Direktur Madania Center

Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang sangat terbatas dan lemah di hadapan Tuhan, Allah Swt. sekalipun dikaruniakan akal dan kalbu kepadanya. Banyak hal yang mengindikasikan hal tersebut. Namun, kelekatan dua potensi tersebut belum tentu menjadikan manusia dimuliakan. Bisa jadi sebaliknya, berada di titik nadir kemanusiaan karena ulahnya sendiri.

Awalnya manusia terlalu yakin mampu mengatasi semua masalah yang menerpa dirinya; tidak mengakui kekuatan lain selain dirinya. Saat itu seakan akan takdir diyakini bersumber dari manusia itu sendiri. Belajar dari pengalaman Raja Fir’aun yang dalam hidupnya mengaku Tuhan, karena atas titahnya ia bisa lakukan apapun dengan semena-mena. Ambil juga pelajaran dari kisah tertentu; Qorun, Kaum ‘Ad dan Tsamud misalnya dan orang-orang tertentu yang dalam kehidupan mereka menyombongkan diri. Mereka pun dapatkan takdir yang tidak diinginkan dan berikan sejarah kelam bagi generasi belakangan.

Faktanya tidak demikian, manusia memang lemah. Akal tak mampu berbuat apapun, sebaliknya membebani, bahkan timbulkan masalah baru, kesombongan dan keangkuhan atas yang lain– bertumpuk masalah. Begitu juga kalbu, terkadang tumpul dan tak merasakan (tidak berempati kepada sesama). Pada titik tertentu manusia sejatinya menyadari akan keterbatasan, kelemahan dan ketidakberdayakan diri sehingga sejak itu manusia mengakui adanya kekuatan magis tertentu sebagai Tuhan; meyakini. banyak Tuhan (politeisme) beberapa Tuhan hingga keyakinan. satu Tuhan ( monoteisme). Sesungguhnya telah terjadi perdebatan panjang dalam sejarah manusia tentang klaim terhadap agama ( cultural religion) dan kebudayaan itu sendiri.

Akhirnya agama diyakini sebagai sesuatu yang bersumber dari Tuhan, Allah Swt., disebut,”Divine Religion/ Diinun Samaawiy”, Agama Wahyu. Kekuatan mutlak bersumber dari Tuhan, dan adapun kebenaran relatif dari manusia. Dalam beragama, manusia berikhtiar dengan jalan pengalaman dan atau pelembagaan.

Ketika seseorang beragama dengan penuh kesadaran, maka ia tidak boleh berhenti karena pengakuan totalnya akan kelemahan, keterbatasan dan ketidakberdayaan diri. Artinya, manusia harus tetap berusaha ( berikhtiar) untuk keberlangsungan kehidupannya dan orang lain.Setelah itu takdir pun ditetapkan dalam bentuk yang berbeda.

Ikhtiar merupakan bentuk usaha, daya upaya atau pemilihan yang baik oleh seseorang secara optimal untuk mencapai suatu tujuan, memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalah.Ikhtiar selanjutnya dapat dilakukan dengan dua bentuk, baik secara zhahir maupun pendekatan bathin (spiritual).

Namun demikian, supremasi apapun bentuknya disebabkan oleh ikhtiar manusia pasti terbatas dan hilang ditelan zaman. Bila hal tersebut baik dan bermanfaat, maka ia diapresiasi dan dilestarikan oleh manusia berikutnya. Sebaliknya Billa tidak, maka ia akan ditinggalkan. Manusia sebatas berikhtiar, dan Allah tetapkan takdir, maka disebut,”Taqdiir Ikhtiaariy”.

Kalaulah ada orang atau kelompok yang memastikan jalan hidupnya, maka sekali lagi hal itu tidaklah benar, karena otoritas mutlak berada di “tangan” Tuhan, Allah Swt. Beberapa fakta mendahului takdir terkadang diperlihatkan pihak tertentu kepada kita–sudah pastikan dapat ini dan itu. Herannya sebagian orang tergiring mendekati dan mengagung-agungkannya. Mereka sangat yakin seyakin-yakinnya. Fatal dan mengejutkan kemudian ketika hasilnya tidak sesuai rencana dan ikhtiar selama ini.

Takdir selalu saja ditetapkan karena ikhtiar panjang manusia, bukan spekulasi dan kerja instan, kecuali Tuhan, Allah Swt. menentukan lain. Dipastikan ada hikmah terdalam, dan manusia biasa tak mampu menjangkaunya.

Mudah-mudahan kita senantiasa dalam lindungan Allah. Pastinya teruslah berikhtiar untuk dapatkan takdir yang baik. Wassalam. (*)